Rabu, 7 Desember 22

Ketika Menaker Hanif Dhakiri Ditanya MEA

Menaker Hanif Dhakiri menjawab pertanyaan wartawan (termasuk IndeksBerita.com) di sekretariat Almisbat, Jakarta Kamis (3/3), seputar masalah tenaga kerja dan MEA. Ia menjelaskan secara rinci dua ilustrasi, yaitu bendungan dan perang. Katanya diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean tidak seperti membuka bendungan atau perang tanding.

“Saya ingin ilustrasikan, MEA berlaku bukan seperti membuka bendungan lalu airnya tumpah ruah ke tempat lain. Tidak. Pekerja di Asean tak otomatis mengelontor ke Indonesia atau pekerja kita tak tiba-tiba membajiri negara-negara tetangga,” kata Hanif. Sebelum MEA berlaku saja, TKI kita di Malaysia sudah dua juta orang. Semua ada mekanisme dan prosedur  yang disepakati masing-masing negara.

“Juga bukan seperti perang zaman dulu, di mana ada dua pasukan berhadapan di tengahnya ada semacam pembatas. Begitu pembatas dibuka maka perang terjadi dan saling membunuh. Tak seperti itu,” jelas menteri dari PKB ini. Semua ada mekanismenya. Yang jelas Indonesia telah menyiapkan regulasi tentang apa syarat-syarat pekerja asing di Indonesia. Dan, kita juga menyiapkan tenaga Indonesia untuk bersaing di luar negeri.

Selain itu, Menaker Hanif juga menjelaskan bahwa tak selalu pekerja asing merugikan ekonomi lokal. Ia menjelaskan dua kasus, yaitu pelatih diving di sebuah lokasi wisata diving di Lombok dan manajer hotel di Magelang.

Suatu saat bupati menyampaikan keluhan warga lokal tentang hadirnya pelatih diving asing, karena warga lokal juga bisa menjadi pelatih diving. Akhirnya pelatih diving asing keluar dari lokasi itu diganti pelatih lokal. Apa yang terjadi? Ternyata lokasi diving itu sepi. Tak ada turis asing yang datang melihat keindahan alam di kedalaman laut.

“Jadi pelatih daving itu tak hanya melatih. Ia juga marketer,  mengajak bule datang kemari. Itu yang dilakukan pelatih asing dan belum bisa dilakukan pelatih lokal. Memangnya ada orang Kupang dan sekitarnya berlatih diving yang biayanya tak murah itu?” jelas Hanif.

Di bidang perhotelan juga ada satu kasus. Di Magelang, dekat Borobudur,  ada sebuah hotel yang sewa kamar semalamnya tak masuk akal, mahal sekali. Padahal hotel itu konon tak ada listrik seperti hotel berbintang lainnya. Hotel itu menjual pemandangan alam dan eksotisme sekitar candi Budha terbesar di dunia itu.

Manager hotel  tersebut ditangani tenaga asing, karena bisa menjual kepada “orang gila” asing untuk menginap di hotel mahal dan minim fasilitas modern.

“Jadi, tak selalu tenaga asing merugikan tenaga lokal seperti pada kasus pelatih diving dan manager hotel tadi, tenaga kita bisa belajar atau menjadi asisten tenaga asing” jelas Menaker Hanif.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait