Jumat, 1 Juli 22

Kesejahteraan Petani Jangan Dicampur aduk dengan Politik

Surat terbuka Adhe Musa Said selaku Ketua Ketua Bidang Pertanian, Kedaluatan Pangan dan ESDM Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Anshor ke Presiden Jokowi yang menyoroti kinerja Menteri Pertanian (Mentan), telah mengundang komentar dari berbagai pihak. Hal ini terutama karena surat tersebut dianggap telah menyeret urusan petani kepada ranah politik tanpa didukung dengan fakta dan data yang akurat.

Sesuai data BPS, selama dua tahun terakhir, produksi padi tahun 2016 sebesar 79,17 juta ton atau naik 4,96 persen dibandingkan 2015 dan tahun 2015 naik 6,43 persen dibandingkan tahun 2014. Keberhasilan meningkatkan produksi ini mampu menjadikan Indonesia tahun 2016 tidak impor beras medium. Ini menunjukkan kinerja produksi pangan yang tinggi yang bertolak belakang dengan statement GP Ashor.

Tentang hal ini, sebelumnya atau pada Rabu (28/12), pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto J. Siregar justru menyampaikan apresiasi upaya-upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan dua tahun terakhir ini, mengambil kebijakan saat terjadi el nino dan la nina, pasti Indonesia.

“Ya kalau dengan produksi 79 juta ton seharusnya sudah mencukupi, tidak perlu impor lagi untuk tahun depan. Tapi jangan sampai terlalu fokus sama padi, jagung dan kedelai saja, komoditas lainnya juga harus diperhatikan serius,” ujarnya,

Senada dengan Hermanto, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahuddin juga menyampaikan apresiasi atas kinerja Mentan Amran Sulaiman dalam menangani masalah jagung. Faktanya, menurut Hermanto, sekarang Indonesia bisa menyaksikan sendiri bahwa pada tahun ini impor jagung turun 66%.

“Saya optimis turut 2017 tidak impor jagung karena program mengembangkan 3 juta hektar jagung pada 2017, ditambah integrasi jagung di kebun dan hutan, petani jagung sudah bermitra dengan industri pakan ternak,” katanya di Jakarta, Kamis (29/12).

Sholahuddin mengungkapkan bahwa data BPS 2016 itu produksi jagung 23,2 juta ton naik 18,1% dibanding tahun lalu. Artinya hal ini merupakan bukti kinerja yang sangat bagus dan siapa bilang petani jagung tidak sejahtera.

“Petani jagung semakin sejahtera karena sudah bermitra sehingga ada kepastian pasar dan jaminan harga yang layak,” ujar Sholahuddin.

Berkaitan dengan kesejahteraan petani, data BPS pada Maret 2016 menyebutkan penduduk miskin di perdesaan 17,67 juta jiwa turun 0,22 juta jiwa dibandingkan September 2015 dan sebelumnya juga menurun 50 ribu jiwa dibandingkan Maret 2015. Demikian juga indeks ketimpangan pengeluaran penduduk di perdesaan diukur gini rasio Maret 2016 sebesar 0,327 semakin membaik dibandingkan Maret 2015 sebesar 0,334.

“Arinya ini data kan mengindikasikan kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Sholahuddin.

Menganggapi surat terbuka GP Ashor ke Presiden, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Winarno Tohir pun mengakui bahwa data menunjukan produksi pangan dan kesejatreraan petani semakin meningkat. Data itu terkonfirmasi fakta di lapangan. Buktinya sekarang ini penggilingan penuh dan di pasaran beras melimpah.

“Jadi, ya jangan mencapur-adukan masalah politik dengan urusan petani lah. Petani saat ini sedang sibuk berproduksi dan menikmati hasil yang lebih bagus. Beri kenyamanan bagi petani untuk berkarya secara nyaman sehingga bisa lebih sejahtera lagi,” tutur Winarno.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait