Sabtu, 10 Desember 22

Kementan Gelar Seminar Pengasuhan Anak Berbasis Karakter

Dalam rangka peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Dharma Wanita Persatuan menggelar seminar pengasuhan anak berbasis karakter di Auditorium Kementan, Rabu (11/5).

Hadir dalam seminar ini yakni Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementan, Martati Amran Sulaiman, Ketua Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja, Ratna Megawangi Sofian Djalil dan para pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan Kementan.

Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementan, Martati Amran Sulaiman mengatakan seminar ini bertujuan agar para ibu-ibu khususnya petani dan pegawai Kementan agar lebih memahami bagaimana peranan seorang ibu dalam membangun karakter anak usia dini. Ini penting untuk mencetak generasi di masa akan datang lebih mencitai dunia pertanian dan mampu menciptakan inovasi pertanian yang berdaya saing seriring berkembangnya sistem ekonomi yang bersaing bebas.

“Membangun karakter anak sejak dini ini sangat penting agar kita dapat mencetak generasi pertanian yang hebat untuk membangun pertanian ke depan yang handal,” kata Martati yang merupakan istri Menteri Pertanian Kabinet Kerja.

Martati menjelaskan pendidikan karakter anak usia dini sangat penting untuk membangun kembali peradaban bangsa. Pada masa ini, seluruh instrument besar manusia terbentuk bukan hanya kecerdasan tetapi juga seluruh kecapakan intelektual. Periode ini dinamakan sebagai usia emas (golden ages).

“Untuk itu, pengembangan dan pendidikan anak usia dini adalah investasi yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa akan datang, khususnya membangun peradaban pertanian yang mampu berdiri sendiri akan pangan,” jelas Martati.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja, Ratna Megawangi Sofian Djalil menuturkan faktor yang menjadi penghambat sehingga sulit untuk membangun karakter yakni adanya para individu yang memiliki jiwa tidak sehat dan nurani tumpul dan empati tidak berkembang.

“Faktor lainnya yaitu kesulitan mengontrol emosi yang negatif, reaktif dan implusif serta memiliki sifat hewani atau reptil yang dominan,” ujar Ratna.

Menurut Ratna, solusi efektif untuk hal ini yakni dengan mengubah lingkungan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini. Langkah ini dapat ditempuh melalui membangun keluarga sebagai oase cinta, jiwa sehat berakhlak mulia dan pendidikan anak usia dini berkualitas.

“Dengan langkah ini, maka dapat membangun Indonesia yang damai dan sejahtera,” tegas Ratna.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait