Sabtu, 3 Desember 22

Kemasan Obat Tradisional dan Jamu Wajib Mencantumkan Manfaatnya

JOGJA – Untuk menghindari kesalahan konsumsi oleh masyarakat, produsen obat tradisional dan jamu wajib mencantumkan manfaat dari setiap kemasan produksinya. Demikian dikatakan Deputi 2 Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BOPM) Ondri Dwi Sampurno kepada peserta Sosialisasi dan Bimbingan Teknis pelaku UMKM Obat Tradisional dan Usaha Jamu Gendong, di Balaikota Yogya, Rabu (16/3/2016).

Ondri lebih lanjut menuturkan, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003 Tahun 2010, pencantuman manfaat merek OT harus berdasarkan pengelompokan uji saintifikasi dan klinis objek empiris yang tidak boleh sembarang.

Apabila uji saintifik hanya berlaku pada hewan, pencantuman manfaat tidak boleh menggunakan kata “mengobati”, jadi hanya sekedar “membantu mengurangi gejala” atau “meringankan gejala”.

Sedangkan manfaat “mengobati” hanya boleh digunakan pada uji saintifikasi dan klinis pada manusia dan terbukti.

“Kalau ada jamu yang belum diuji pada manusia diklaim untuk mengobati, itu tidak boleh, nanti akan menyesatkan masyarakat, meskipun itu turun-temurun dan belum terbukti. Jadi turun temurun itu kan istilahnya dipakai dalam bentuk campuran dan kita tidak tahu persis seperti apa. Kemungkinan itu hanya dalam bentuk omongan ke omongan” ujarnya lebih lanjut.

Disamping penggolongan OT berdasarkan uji saintifik dan klinis objek empiris, Ondri juga menjelaskan, obat berbahan baku alam yang berasal dari luar dapat diklasifikasi sebagai Jamu. Meski secara trade mark, Jamu dapat dikatakan asli dari Indonesia, namun selama bahan baku berasal dari alam dan kimia, maka berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan, obat tersebut tergolong sebagai jamu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait