Rabu, 30 November 22

Kekuatan Calon Presiden Perancis, Macron Vs Le Pen

Pemilihan Presiden Perancis putaran pertama, telah memilih 2 calon dari 11 calon yang ada, untuk maju dalam putaran final. Dari beberapa hasil polling sebelum pemungutan suara, semua data menunjuk 4 calon presiden Perancis terkuat, yaitu Emanuel Macron, Marine Le Pen, Francois Fillon dan Jean Luc Melenchon. Hasil polling menunjukan bahwa Macron dan Le Pen, tingkat keterpilihannya tertinggi diantara semua kandidat.

Hasil pemungutan suara ternyata tidak berbeda dengan hasil poling. Dari data hasil pemungutan suara yang dikeluarkan oleh Le ministère de l’Intérieur (Kementerian Dalam Negeri Perancis),  Emmanuel Macron dari independen dan berhaluan tengah, memperoleh suara 23,5%.  Marine Le Pen, yang populis (konservatif dan proteksionis) memperoleh suara 22,3%. Francois Fillon yang sayap kanan (Gaullisme dan Kristen Drmokrat) mendapat 19,9%. Sedangkan Jean Luc Melenchon dari sayap kiri (ekososialisme) memperoleh 19%. Dari hasil pemungutan suara di putaran pertama ini, maka Macron adalah pemenang dalam pemilu Presiden Perancis Putaran pertama. Le Pen, juga lolos sebagai calon presiden Perancis, yang akan berlaga di putaran berikutnya (putaran final) melawan Macron.

Tabel indeksberita, diolah dari data resmi Kementerian Dalam Negeri Perancis (Le ministère de l'Intérieur)
Tabel indeksberita, diolah dari data resmi Kementerian Dalam Negeri Perancis (Le ministère de l’Intérieur)

Kemenangan Macron sangat mengejutkan, bahkan dianggap sebagai gempa politik, oleh wartawan senior Perancis, Christine Ockrent, seperti yang dilansir oleh CNN. Kemenangan Macron juga dianggap oleh beberapa pengamat sebagai kemenangan pemula, yang mempermalukan lawan-lawannya yang lebih berpengalaman dan  didukung oleh partai politik dengan sejarah kekuasaan yang panjang.

Emmanuel Macron, baru berusia 39 tahun, walau Macron angota Partai Sosialis, tetapi Ia saat maju dalam pencalonan tidak didukung oleh partai sosialis. Dia mengambil jalur perseorangan (independen), dengan dukungan dari organisasi gerakan En Marche (EM), yang dibentuknya sendiri. Orientasi politik Macron yang ke tengah dan pro Uni Eropa, membuat kemenangannya di putaran pertama mendapat reaksi positif. Hal tersebut diitandai dengan menguatnya nilai mata uang €uro.

Sebaliknya, lolosnya Le Pen ke putaran berikutnya memang sudah diduga. Tetapi ini berakibat bayang-bayang semangat populisme juga semakin menguat. Jika populisme menang di Perancis, maka bukan hanya keanggotan Perancis di Uni Eropa yang akan menjadi tanda tanya, bahkan keberadaan Uni Eropa itu sendiri juga dipertanyakan keberlanjutannya. Kecemasan ini beranjak dari kemenangan Trump dan Brexit.

Melihat hasil Pemilu Presiden Perancis di putaran pertama, dan orientasi dan pandangan politik dari 2 calon presiden Perancis ini, kemungkinan sayap kiri dan tengah akan bergabung mendukung Macron. Partai Sosialis, partai pendukung Presiden Hollande, Presiden Perancis saat ini yang tidak mencalonkan diri lagi seharusnya juga mendukung Macron, dan akan menjadi faktor penting agar sayap kiri dan tengahJika ini terjadi, sayap kiri dan tengah bergabung mendukung Macron, maka Macron akan menjadi Presiden Perancis, dan kondisi ekonomi dan politik global akan lebih stabil.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait