Senin, 3 Oktober 22

#Kami Tidak Takut Ngopi

Ngopi di kaki lima ditabrak Lamborghini.
Ngopi di mall diracun sianida.
Ngopi di Starbucks dibom teroris.
Pantesan mahasiswa suka ngopi paste……

Setidaknya ada dua peristiwa yang membuat banyak orang hari-hari ini membicarakan kedai kopi. Pertama serangan bom bunuh diri di Starbucks Caffee di Jalan Thamrin Jakarta, dan kedua, tewasnya Wayan Mirna Salihin setelah menyeruput kopi di Oliver Cafe Grand Indonesia, Jakarta. Peristiwa pertama perbuatan teroris, sedangkan kasus kedua hingga kini belum diketahui siapa yang memasukkan sianida ke dalam gelas Mirna. Mengapa kedai kopi kini menjadi gaya hidup masyarakat kita?

Tradisi minum kopi di kedai bagi masyarakat Indonesia sebenarnya belum dikenal lama. Namun ada satu daerah yang budaya minum kopinya sangat “ekstrim” yaitu Aceh. Di Banda Aceh atau pun di kota-kota kabupaten kedai kopi tersebar di berbagai sudut jalan dan gang. Boleh jadi, kopi ibarat nafas bagi orang Aceh yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka sejak zaman kesultanan Aceh.

Sebagai salah satu daerah produsen kopi kelas dunia, sejak zaman Belanda hingga kini, setidaknya ada dua daerah sentra produksi kopi di Aceh, yaitu Ulee Kareng dan Gayo. Kopi Ulee Kareng yang termasuk jenis kopi Robusta dihasilkan dari Kecamatan Ulee Kareng.
Sementara, kopi Gayo termasuk jenis Kopi Arabika kelas kopi premium di pasar dunia. Kedua jenis kopi inilah yang mengharumkan nama Aceh sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Indonesia yang memasok 40% pasar dalam negeri.

Orang Aceh tak bisa dipisahkan dari kedai kopi, terutama kaum lelaki. Pagi sebelum bekerja ngopi. Siang saat istirahat makan siang kembali ngopi. Dan malam hari kembali menyeruput kopi sembari ngerumpi. Konon ‘kegilaan’ ngopi ini salah satunya karena ada semacam “hadist” yang belum jelas kesahihannya: barang siapa suka minup kopi maka ia akan masuk surga.

Kegilaan ngopi masyarakat Aceh mengingatkan kita pada kegemaran orang Jerman pada bir. Dari bangun tidur hingga mau tidur kembali, bir menjadi minuman paling populer termasuk di kafe-kafe negeri itu. Jika orang Jerman dikhawatirkan kesehatannya karena terlalu banyak ngebir, biasanya akan dijawab, “ngebir mati nggak ngebir mati juga, ya mending ngebir…”

Kini tak hanya di Aceh, di seantero kota-kota di Indonesia, kedai kopi mulai menjadi bagian dari gaya hidup modern. Setiap kedai kopi berlomba meningkatkan fasilitas demi tamunya betah. Tata ruang yang nyaman dan fasilitas internet gratis (Free Wifi bukan Free Wife) umumnya menarik lebih banyak kalangan muda untuk betah berlama-lama di kedai kopi.

Tentu tak semua pengunjung kafe adalah peminum kopi sejati. Bahkan ada yang tak bisa membedakan antara kopi Arabica dan Robusta. Ada yang bingung mengapa ada Capucino tetapi tak ada Capujowo, Capusundo, atau Capulondo. Bagi penikmat kopi, umumnya ia akan menyeruput kopi tanpa gula agar citarasa kopi entah dari Aceh, Timor dan Toraja dapat dinikmati. Kata mereka, hidup itu seperti kopi, meski pahit tetap dinikmati.

Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan. Ini kalimat indah dari novelis Dewi Lestari lewat kumpulan cerpen yang telah difilmkan “Filosofi Kopi”. Karena itu, barista di Klinik Kopi, sebuah kedai kopi di Jogja, tidak sekadar meramu, mengecap rasa, tapi juga merenungkan kopi yang dia buat. Menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi.

Indonesia pernah menjadi perhatian dunia ketika kopi luwak dibahas dalam acara talkshow televisi terlaris “Oprah Show” di Amerika Serikat. Kopi luwak lalu mendunia dan harganya terdongkrak tinggi. Kopi untuk kelas kaki lima ada di Jogja, namanya Kopi Jos. Silakan ngopi di dekat stasiun Tugu. Kopi jos adalah kopi tubruk biasa namun penyajiannya ditambah bara arang. Ketika bara api itu dimasukkan dalam gelas kopi berbunyi joss!

Mukidi, seorang petani kopi dari Temanggung, Jawa Tengah, kini sedang mengembangkan kopi yang ditanam berdampingan dengan tanaman tembakau. Kopi ini diyakini mempunyai sensasi rasa tembakau. Di sekitar alun-alun Temanggung kini menjamur kedai kopi yang mengangkat kopi lokal sebagai konsumsi utama bukan kopi pabrikan. Ketika budaya minum kopi buatan lokal semakin banyak, maka kopi Temanggung akan mulai dikenal.

Life is short enjoy your coffee. Begitu kata bijak para penikmat kopi. Ayo ngopi dulu biar gak stres. Meskipun ngopi di gerai waralaba kopi Amerika dibom, ngopi di kaki lima terancam ditabrak kendaraan bermotor atau ngopi di mal tercampur racun, ternyata masyarakat tak surut dan takut menyeruput kopi. Mereka seolah ingin berseru Kami Tidak Takut Ngopi!

Akhirnya, sebuah pertanyaan untuk Anda, kopi apa yang paling tak disukai teroris? Kopikir kami takut ngrumpi sambil nyeruput lagi!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait