Senin, 26 September 22

Kalau Virus Trump Menular ke Jakarta

Tahun lalu Donald Trump menjadi populer di Indonesia. Pasalnya, Setya Novanto yang saat itu Ketua DPR RI, hadir di kampanye calon presiden Amerika Serikat asal Partai Republik itu. Trump dalam kampanyenya sering membuat pernyataan anti rasial. Kini ternyata virus Trump menyebar sampai Jakarta, terutama menjelang Pilkada di ibu kota.

Pernyataan-pernyataan Trump yang rasis antara lain, “Begitu banyak Muslim seluruh dunia membenci AS sehingga penting bagi negeri ini melarang mereka masuk Amerika. Trump menganjurkan semua umat Muslim didaftarkan ke dalam data base terpisah. Capres Republik ini juga mengatakan bahwa Amerika harus menutup sejumlah masjid di dalam negeri. Hal itu sebagai upaya mencegah serangan garis keras.

Pernyataan Trump tentang orang Meksiko juga sangat kontroversial. Trump  akan mendeportasi 11 juta orang Hispanik yang tidak memiliki dokumen lengkap. Tak itu saja. Konglomerat properti itu menghina orang Meksiko dengan keinginan membuat tembok tinggi di perbatasan dengan AS. “Karena mereka mengirimkan masalah. Orang-orang Meksiko membawa obat-obatan, mereka kriminal,” kata Trump.

Itulah pernyataan-pernyataan Trump, gabungan antara kebencian dan kebodohan yang berubah menjadi ketakutan. Trump adalah campuran antara xenophobia, takut orang asing dan kebodohan tentang pengetahuan suatu agama. Pernyatannya jelas menyakiti para aktivis yang sedang berjuang melawan terorisme. Beberapa pemimpin dunia juga mengecam provokasi Trump dan khawatir Trump memimpin AS.

Kini virus trump menyebar sampai Jakarta yang tahun depan memilih gubernur baru. Perhatikan sejumlah pernyataan bakal calon gubernur DKI Jakarta dan tokoh lainnya tentang pemilihan gubernur di ibu kota. Adhyaksa Dault, mantan menpora,  meminta Ahok masuk Islam agar lancar menjadi gubernur. Lalu, Ahmad Dhani, musisi, mengatakan “Saya akan melarang pendatang dari luar daerah masuk Jakarta.” Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Riziek melarang umat Islam Jakarta memberikan KTP dukungan untuk Ahok. Sebelumnya ada Jaya Suprana, pengusaha jamu, pemilik Museum Rekor Indonesia, mengingatkan Ahok agar berhati-hati bersikap dan berbicara, karena dirinya keturunan Tionghoa. Dan terakhir pernyataan cukup keras dari mantan Kastaf TNI Letjen (Purn) Suryo Prabowo. Katanya, bila 2017 Ahok terpilih dan Ahok masih sok jago, akan memicu amuk massa terhadap etnis Tionghoa.

Sebagai virus kebencian dan kebodohan, ia menyerang akal sehat dan kecerdasan seseorang. Penduduk Jakarta yang tingkat pendidikannya tinggi di Indonesia namun pada setiap pemilihan pemimpin akal sehat dan kecerdasannya disimpan entah kemana.

Para calon gubernur yang semestinya menjadi teladan dan panutan warga dalam berdemorasi malah mempertontonkan sikap rasis. Sebuah sikap yang anti demokrasi dan keberagaman. Begitu juga pernawirawan jenderal yang seharusnya  mempunyai wawasan kebangsaan tinggi, namun pemikirannya kian sempit. Dalam hal ini. TNI gagal melahirkan purnawirawan Saptamargais, karena dirinya  gemar memprovokasi masyarakat.

Akhirnya, bagi warga DKI yang masih waras dan berakal sehat, pemilihan gubernur adalah memilih pemimpinpolitik dan birokrasi di provinsi DKI Jakarta. Bukan memilih kepala suku, bukan pula memilih ketua majelis ulama. Karena itu, sekali lagi akal sehat dan kecerdasan harus digunakan.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait