Kamis, 30 Juni 22

Kaki Dicor Semen

Pada pertengahan September 1989, saya dan rombongan mahasiswa IKIP Jakarta (UNJ) mengunjungi Theodorus Yacob Koekerits yang tengah mogok makan di Kampus Institut Teknologi Bandung. Ondos, begitu ia akrab disapa, tubuhnya lemas dan wajahnya kuyu. Ia lebih sering tiduran. Kami mencoba mengajak bicara, Ondos hanya menjawab dengan lirih. Ia sesekali duduk dengan menyandarkan diri ke dinding. Meski tubuh lemas, tetapi sorot mata mahasiswa Jurusan Geologi ITB angkatan 1982 itu menunjukkan keteguhan hatinya. “Aku siap mati. Akan mogok makan sampai tuntutanku dipenuhi,” ujarnya seperti dikutip Tempo September 1989.

Ondos mogok makan menentang penangkapan terhadap sejumlah mahasiswa ITB yang pada 5 Agustus 1989 melakukan aksi menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini. Ondos dianggap sebagai pelopor gerakan mogok makan di Indonesia, sebagai bentuk protes terhadap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Aksi ini berbahaya namun dari segi keamanan tetap diperhitungkan. Meskipun mogok makan, berarti tak ada asupan makanan, tetapi tetap boleh minum, agar tak dehidrasi. Karena itu, Ondos mampu bertahan lebih dari seminggu sebelum ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

Semangat membangun rakyat dan bangsa yang sejehtera, mandiri, damai, penuh toleransi serta dihargai dalam pergaulan internasional, terus Ondos perjuangkan bersama PDI Perjuangan. Ondos kemudian menjadi anggota DPR RI. Ia meninggal dunia pada saat mengunjungi daerah pemilihannya di Jawa Timur pada September 2012, akibat kecelakaan lalu lintas.

Aksi protes dengan cara yang berbahaya kembali dilakukan oleh sejumlah aktivis pada 7 sampai 12 Agustus 2009. Protes atas penjualan aset-aset bangsa dan pelaksanaan pemilu yang dinilai diintervensi pihak asing, kader Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menggelar aksi mengubur badan. Aksi digelar di Kantor lama PDIP, Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Lima orang dikubur di dalam lubang sedalam satu meter. Mereka dikubur dengan posisi duduk, hingga yang terlihat hanya kepalanya. Di belakang mereka, ada sebuah spanduk besar bertuliskan ‘Jangan jual tanah Indonesia, kami rakyat Indonesia bukan budak Amerika. Tolak Presiden boneka RI’.

Aksi yang paling mengerikan tentu saja yang dilakukan Sondang Hutagalung. Lelaki ini nekat membakar diri tepat di depan Istana Merdeka Jakarta, 7 Desember 2011. Ia langsung tergolek tak berdaya dengan luka bakar parah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta angkatan 2007 itu akhirnya meninggal dunia.

Sondang, adalah Ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi). Organisasi ini aktif di kegiatan ‘Sahabat Munir’. Sondang dan kawan-kawannya menggelar aksi mengenang almarhum Munir. Sondang memerankan pembunuh Munir lewat aksi teatrikal.

Ada lagi aksi yang cukup berbahaya yaitu menjahit mulut. Aksi yang dilakukan mahasiswa asal Kabupaten Kampar ini tak main-main lagi. Empat orang melakukan aksi jahit mulut. “Kami melakukan aksi ini supaya Presiden Jokowi tahu, bahwa kami para mahasiswa yang mewakili rakyat Kampar sudah dizalimi oleh kepala daerah (Jefri Noer) yang berkuasa sekarang di Kabupaten Kampar,” kata Koordinator Lapangan (Korlap) Gerakan Rakyat Kampar (GERAK) Anton, (2/11/2014).

Aksi protes berbahaya terakhir tentu saja kaki dicor semen. Sembilan perempuan dicor kakinya di depan Istana Negara. Cor semen itu membelenggu kaki petani perempuan dari Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah untuk memprotes keberadaan Pabrik Semen di sana. Menurut Joko Prianto, pendamping “Sembilan Kartini” yang juga petani asal Rembang, aksi pengecoran kaki dengan semen ini merupakan simbol penegasan kepada pemerintah bahwa hadirnya semen di wilayah pertanian Pegunungan Kendeng, dapat memasung dan merusak sumber kehidupan.

Panas terik matahari tidak menyurutkan niat Sukinah, Martini, Siyem, Karsupi, Sutini, Surani, Ngatemi, Ngadinah dan Ripambarwati untuk menunggu Presiden Joko Widodo menemui mereka. Mereka duduk berjajar, lengkap dengan busana kebaya dan topi caping.

Pada hari kedua, kondisi sembilan perempuan itu sudah tidak memungkinkan untuk meneruskan aksi. Wajah mereka sudah terlihat pucat, letih, dan lesu akibat terjemur panas matahari, ditambah lagi dengan keadaan kaki yang dicor dengan semen. Kemungkinan peredaran darah yang ada di kaki terhambat bisa terjadi. Mereka menghentikan aksi setelah ditemui Kepala Staf Presiden Teten Masduki dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, mewakili Presiden Jokowi.

Semua aksi di atas, kecuali aksi bakar diri, tentu telah diperhitungkan aspek keamanannya. Memang mereka melakukan aksi dengan menyakiti diri sendiri dan berbahaya, namun mereka tak sampai membunuh diri. Tim kesehatan, termasuk dokter memantau mereka. Dalam aksi semacam ini media sangat berperan menggaungkan tuntutan mereka yang melakukan aksi protes.

Pemberitaan yang terus menerus pada akhirnya bisa mengetuk hati pihak-pihak yang dituntut. Aksi sembilan Kartini Kendeng misalnya, mampu mengetuk hati Presiden Jokowi untuk memperhatikan nasib para petani di Pegunungan Kendeng atas ancaman Pabrik Semen.

Sebagai orang yang pernah merancang dan melakukan aneka aksi pada era Orde Baru tentu saya mengapresiasi aksi-aksi yang kreatif, berani, dan nendang. Saya belum pernah melakukan aksi yang terhitung berbahaya. Aksi lompat pagar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang dilakukan para aktivis mahasiswa Timor Leste pada 1994, menurut saya sangat berbahaya dan tujuannya tercapai dengan sukses. Para mahasiswa itu sukses mencuri perhatian para delegasi APEC yang sedang berkumpul di Bogor termasuk Presiden Amerika Serikat Bill Clinton.

Aksi protes tujuannya menyampaikan tuntutan kepada pihak terkait. Jika aksi konvensional seperti penandatnganan petisi, aksi turun ke jalan dan aksi lainnya sudah dilakukan, tetapi para pemangku kepentingan masih tutup mulut dan telinga. Maka aksi berbahaya, kreatif dan nendang perlu dilakukan.

Bagaimana pun aksi protes adalah salah satu cara sah dalam demokrasi ketika saluran dialog mampet.
Bagi kelas menengah “ngehek” yang selama ini sangat terganggu aksi yang memacetkan jalan, tak ada alasan untuk membully aksi-aksi di atas. Kecuali Anda Dian Sastro. Cinta mungkin lama tak bertemu Rangga sekian lama, sehingga tak rajin membaca.

Karena itu tak heran komentarnya malah terdengar sangat Orde Baru, “Ibu-ibu tak perlu berpolitik, sebaiknya kembali mengurusi domestik,” kata perempuan yang dianggap salah satu perempuan tercantik di Indonesia itu. Oh… Ada Apa dengan Dian Sastro?”

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait