Senin, 3 Oktober 22

Jilbab Sosial

Saya baru menyadari, jika sejak dulu saya tekuni bisnis jilbab, boleh jadi saya bisa seperti  Zoya atau Dolce & Gabanna. Kisahnya begini. Ketika seusia SMP sampai kelas 1 SMA, saya membantu ibu dan nenek menjual pakaian di Pasar Kliwon Temanggung, Jawa Tengah. Salah satu jenis pakaian yang dijual adalah kerudung namun bentuknya selendang. Kain untuk bahan kerudung dibeli di toko tekstil, biasanya Toko Saudara atau Toko Pantes. Kain sepanjang 10  atau 15 meter kemudian dipotong-potong menjadi ukuran 150 x 40 centimeter. Pekerjaan berikutnya, selepas saya mengerjakan PR, adalah membakar dua sisi kain dengan lilin. Caranya setiap satu centimeter kain disentuhkan ke api lilin sehingga menghasilkan semacam gelombang kehitaman. Pekerjaan ini dilakukan secara manual, karenanya sering terjadi kain terbakar disebabkan  saya mengantuk. Permintaan kerudung aneka warna semacam ini biasanya meningkat menjelang hari raya lebaran. Para ibu biasanya mengenakan kerudung untuk pengajian atau takziah mengunjungi orang meninggal di rumah duka.

Itulah perkenalan saya dengan kerudung.  Saat itu istilah jilbab belum populer.  Jilbab mulai ngetop awal 1980an. Ketika itu jilbab mulai dikenakan terutama oleh para mahasiswi di kampus lalu ke siswa putri di SMA (kini bahkan anak PAUD-pun berjilbab). Seingat saya, tak ada satu pun mahasiswi satu angkatan di jurusan saya (IKIP Jakarta, 1983) yang mengenakan jilbab. Namun pada tahun kedua ada seorang mahasiswi mulai mengenakan jilbab usai mengikuti latihan dasar kepemimpinan sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Saat saya menjadi Ketua Unit Pers Mahasiswa sekaligus Pemimpin Redaksi majalah Didaktika, nyaris tak ada aktivis pers mahasiswa yang berjilbab pada akhir 1980an atau awal 1990an. Ada seorang aktivis Didaktika yang semasa SMA memakai jilbab namun saat kuliah di IKIP Rawamangun tidak berjilbab. Aktivis inilah yang memicu pengalaman agak lucu dengan dua aktivis mahasiswa Yogyakarta.

Suatu saat kami berempat, tiga mahasiswa satu mahasiswi, melakukan perjalanan ke Bandung dan Yogyakarta dalam rangka memperkuat jaringan pers mahasiswa antar perguruan tinggi di Indonesia. Saya sering memakai istilah “ukhuwah persiah” maksudnya ukhuwah di antara aktivis pers (mahasiswa). Ketika perjalanan sampai Yogyakarta, dalam sebuah pertemuan dengan para aktivis pers mahasiswa di kota gudeg ini terjadi dialog dua aktivis kondang saat itu. Sengaja nama-nama saya singkat he he he.

BS : “Aku baru kenalan sama aktivis Didaktika IKIP Jakarta namanya IF”

T : “Oh IF, aku sudah kenal di Jakarta, kawannya Tri Agus yang pakai jilbab to?”

BS : “Iya IF dari IKIP Jakarta, tapi ndak pakai jilbab”

T : “Piye to. Kalau IF itu ya pakai jilbab, Jangan-jangan orangnya beda”

BS: “IF ndak pakai jilbab!”

T: “IF Pakai jilbab!

Antara BS dan T saling meyakinkan

Saya hanya tertawa mendengar dua aktivis itu berdebat. Bukan soal menjatuhkan Soeharto tapi soal apakah seorang aktivis memakai jilbab atau tidak. Keduanya tidak salah. IF saat bertemu T di Jakarta berjilbab, tapi saat kunjungan ke Jogja dan bertemu BS tak berjilbab.

Seorang kawan bercerita, ia pernah mengalami pengalaman “menyenangkan” saat menjemput pacarnya di sebuah kost putri di sekitar jalan Pemuda, seberang IKIP Rawamangun. Saat itu mahasiswi berjilbab masih bisa dihitung alias masih minoritas. Ketika menunggu sang pacar dandan, tiba-tiba ada seorang mahasiswi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Melihat ada seorang cowok di ruang tamu, spontan sang mahasiswi yang belum lama memakai jilbab itu langsung menutupi kepalanya dengan handuk. Namun apa yang terjadi? Rambut tertutup sebaliknya tubuhnya malah terbuka.

Kini banyak kawan perempuan saya yang dulu nasionalis sekuler tersebar di mana-mana. Dari guru SMA, dosen, peneliti, aktivis LSM, pebisnis, sampai jurnalis. Sebagian besar mereka berjilbab, meski sedikit yang ala syar’i. Alasan berjilbab pun bermacam-macam. Itu hak mereka. Untungnya, dalam pergaulan mereka tidak jaim. Jika bertemu sesama alumni tak segan-segan mereka bercipika-cipiki baik sesama perempuan atau dengan kawan lelaki.

Jilbab itu personal. Seseorang mengenakan jilbab tak melulu karena urusan agama. Ada yang karena semua teman sekantor berjilbab, ya terpaksa ikut memakai. Inilah jilbab sosial. Tak masalah. Di kantor berjilbab, di lingkungan tempat tinggal bertanktop. Bahkan, seorang komika perempuan kerempeng berjilbab, yang tampil di Kompas TV mengatakan: “Jilbab itu baik untuk menutupi rambut dan……. dada saya yang kecil…” Para supir truk malah banyak yang suka melukis gambar di pantat bak truk mereka dengan tulisan: nDuwur Kudung, Ngisor Warung (atas kerudung bawah warung). Entah apa maksudnya. Sementara di Padang, Sumatera Barat, ada pejabat dikbud yang mengatakan, “jilbab itu bisa melindungi siswa dari nyamuk DBD.” Wah hebat, jangan-jangan di rak toko jilbab dipajang dekat autan dan baygon…

Lain lagi, sebagaian kawan nasionalis sekuler saya, yang kini bergabung di partai politik yang juga sekuler. Mereka sehari-hari tak mengenakan jilbab, namun pada musim pemilu dan pilkada para politisi itu mendadak jilbab. Jelas alasan mereka berjilbab adalah politis, demi pencitraan untuk meraih simpati para pemilih. Mereka mengira, kalau foto berjilbab dipasang di mana-mana, jumlah pemilihnya bertambah. Mereka juga mengira popularitas dan elektabilitas adalah segalanya (padahal yang penting isi tas he he he). Cara ini juga digunakan para koruptor perempuan yang ditangkap KPK, mereka mendadak jilbab atau mendadak cadar. Padahal, seingat saya belum pernah ada hakim Pengadilan Tipikor yang memberikan keringanan hukuman karena terdakwa memakai jilbab atau cadar.

Sekarang saya menetap di Yogyakarta. Katanya pusat peradaban budaya Jawa. Tapi jangan salah, di sini lebih sulit menemukan toko konde dan pakaian adat Jawa dibanding toko jilbab. Hampir di semua sudut jalan ada gerai toko jilbab, menggantikan wartel dan mungkin akan menyaingi kehadiran Alfamart dan Indomaret. Jika kita melihat kampus-kampus di kota ini, lebih tepat kota ini dijuluki “kota santri” bukan “kota pelajar”. Di daerah Terban, sepanjang jalan C. Simanjuntak, para hijaber dimanjakan dengan kehadiran butik hijab di sini. Di daerah Wijilan dan mBarek, pusat sentra makanan khas gudeg, kini nyaris tinggal Gudeg Yu Djoem (dan Ny. Suharti) yang gambar mereknya seorang ibu nJawani tanpa jilbab. Merek gudeg generasi berikutnya mulai beralih ke gambar perempuan berpakaian Jawa tapi berjilbab. Di Lempuyangan ada Resto Jepang tapi semua pelayan perempuan memakai jilbab, bukan kimono. Saya tanya kenapa dijawab, “Supaya konsumen yakin makanan ini halal, meski belum ada sertufikat dari MUI…” Kecenderungan seperti ini mirip di Aceh. Di sana bahkan pahlawan nasional yang gambarnya tak berjilbab harus digambar berjilbab. Seruan aktivis perempuan Lies Marcoes tentang jihad jilbab tampaknya perlu didukung.

Di Jogja salon muslimah juga bertambah, sejalan dengan kost khusus muslimah. Tulisan Menerima Kost Khusus Muslimah sering kita lihat di berbagai sudut jalan di sekitar kampus-kampus besar di kota ini. Barangkali jika kita ingin melihat penampakan putri Jawa, kita perlu ke kraton. Karena di sanalah adat-istiadat Jawa masih diugemi. Setidaknya ada bagian ruang tertentu di kraton yang mewajibkan orang mengenakan pakaian adat Jawa (dan jilbab tak dianggap Jawa). Di pemakaman Imogiri perempuan wajib mengenakan kemben.

Akhirnya tulisan ini ingin saya tutup dengan kejadian saat pembukaan sebuah acara seni dua tahunan di Jogja National Museum, Yogyakarta, tahun lalu. Dealita, sebuah kelompok paduan suara ibu-ibu keluarga korban 1965 ikut tampil membawakan lagu-lagu era 1960an. Panitia dengan bercanda mencari pengisi acara, “Mana ibu-ibu PKI wis siap durung?” Dealita akhirnya tampil memukau. Namun ada penonton yang tertarik dengan sebagian anggota grup yang merupakan generasi ketiga korban 1965. Penonton itu nyeletuk, “PKI kok nganggo jilbab…”

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait