Sabtu, 10 Desember 22
Beranda Opini Jenis-jenis Politisi Kita

Jenis-jenis Politisi Kita

0
Jenis-jenis Politisi Kita
Penulis: Gibran Ajidarma

Apa saya yang salah dengan politik Indonesia? Mengapa setelah reformasi berjalan hampir 20 tahun– dan di sepanjang masa tersebut telah mempunyai lima presiden dari berbagai latar belakang (dari ahli rancangan pesawat, ulama cum cendekiawan, trah politik hebat, tentara yang lihai pencitraan diri, dan terakhir pengusaha mebel cum kepala daerah sukses)—politik Indonesia seperti masih jalan ditempat?
Pertanyaan iseng itu saya lontarkan dalam sebuah pembicaraan kebetulan dengan wartawan senior cum kolumnis politik, pada suatu sore, di sebuah ruang tunggu rumah sakit.

Sang wartawan senior itu tercenung sejenak. Sepertinya, ia mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan.
Selintas kemudian ia menjawab, dengan nada penuh  keraguan, seakan kurang yakin akan jawabannya sendiri: “Mungkin, karena negeri ini tidak punya politisi yang baik sekaligus andal.”
Tentu saja, saya tak puas dengan jawaban menggantung itu. Lantas kami terlibat diskusi lumayan serius, sedikit melebar kesana-kemari. Tapi, diskusi singkat itu (tak sampai satu jam) “menemukan” beberapa hal menarik tentang kondisi terkini kaum politisi Indonesia, terutama yang berkiprah di partai politik.

Secara gampang, para politisi partai itu jenisnya bisa dipilah dalam rentang dua kutub ekstrim: “ideologis” dan “oportunis” (dibuat dalam tanda petik, karena tidak ada seorangpun yang memenuhi secara utuh kedua jenis tersebut). Rinciannya, juga secara gampangan, sebagai berikut.

Ada beberapa politisi yang pemahaman ideologisnya lumayan baik, tapi tak punya kemampuan mengorganisir yang bagus. Jenis politisi ini biasanya– karena merasa frustasi atapun memang sudah karakternya–, berperilaku soliter dalam keriuhan pentas politik partai maupun parlemen.

Yang jumlahnya lebih sedikit lagi adalah jenis politisi yang paham ideologi (bisa bermacam-macam, sesuai partai dimana mereka berdiam) sekaligus punya keahlian mengorganisir yang mumpuni. Sialnya, jenis politisi seperti ini justru jarang sekali mendapat posisi strategis di struktur partai ataupun di parlemen, bahkan kerap kali jadi “orang buangan”. Mungkin, karena mereka dianggap tidak  cocok  dengan sistem dan budaya partai. Mereka hanya dipakai jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Dan setelah beberapa lama kemudian, biasanya eksistensi jenis politisi seperti ini hilang ditelan masa, nyaris tak berjejak.

Kebalikannya, cukup banyak politisi yang oportunis tapi punya kemampuan mengorganisir yang bagus (bisa karena wibawa personal, ataupun modal finansial yang besar).  Jenis politisi seperti inilah sejatinya yang menguasai panggung politik di partai maupun parlemen, di tingkat nasional hingga ke tingkat lokal (provinsi dan kabupaten/kota). Ada yang muncul di permukaan, tapi lebih banyak yang bermain di belakang layar. Penting dicatat, justru politisi jenis inilah yang membangun karir dan reputasinya dari bawah, melewati pertarungan politik yang keras. Proses itu membuat mereka lihai bermain di setiap peristiwa ataupun momentum politik penting.

Jenis yang terakhir adalah politisi opurtunis yang ikut arah angin kemana pun berhembus. Jenis politisi ini yang paling banyak jumlahnya memenuhi partai maupun parlemen. Mereka ini bisa dikatakan “mendadak jadi politisi”, dengan beragam latarbelakang antara lain: aktivis mahasiswa kelas medioker, pengusaha atau anak pengusaha, anak penguasa daerah, pengacara, dan sebagainya. Motivasi mereka menjadi politisi juga bermacam-macam, tapi secara umum berujung “menaikkan kelas sosial, melalui peningkatan pendapatan”.

Lantas, dengan sumberdaya seperti itu, bagaimana nasib politik Indonesia di masa depan?
Ketika pertanyaan itu saya ajukan diakhir pembicaraan (yang terputus karena kedatangan seorang yang memang ditunggu-tunggu), wartawan senior cum kolumnis politik itu hanya menggumam tak jelas sambil menggelengkan kepala. Sorot matanya memancarkan pesimisme. Itu semacam jawaban, sebangun dengan jawaban yang menggayut di pikiran saya.