Kamis, 11 Agustus 22

Jelang 212, Kampus Bogor akan Bentuk Posko Siaga

Seruan lakukan perlawanan terhadap isu SARA yang mengancam perpecahan bangsa, disuarakan kepada seluruh mahasiswa se kota dan Kabupaten Bogor, dari kampus Juanda, Kabupaten Bogor, hari ini, Selasa (29/11/2016). Fahreza Anwar, mewakili Universitas Juanda mengatakan, saat ini ada upaya yang berniat mengadu domba sesama bangsa.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang coba dipecah belah. Ada pihak yang mencoba merubah sistem negara, merubah bentuk negara kesatuan dan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain,” tukas mahasiswa yang menjadi Presidium Solidaritas Mahasiswa untuk NKRI (PSM NKRI) perwakilan Kabupaten Bogor kepada indeksberita.com

Dikatakannya, jika dicermati diduga kuat ada pihak yang menggunakan isu SARA menumpang momentum pilkada DKI dengan menggalang aksi massa untuk memaksakan kehendaknya. Ia juga mengatakan, sejumlah mahasiswa dari beberapa kampus se Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta akan menggelar aksi unjuk rasa mengusung isu: Jangan Teror Rakyat dengan SARA.

“Sekarang sudah semakin jelas, terindikasi ada gerakan yang mengarah pada pemakzulan Presiden. Kami, Solidaritas Mahasiswa untuk NKRI sebagai generasi muda pewaris negara tidak akan diam. Kami akan lakukan perlawanan, jika ada yang berniat menghancurkan negara ini. Apalagi jika ada upaya untuk membenturkan sesama anak bangsa, maka harus kita lawan” ujarnya.

Sementara, Egi Hendrawan yang juga PSM NKRI perwakilan Kota Bogor mengatakan, mahasiswa juga menyatakan akan membentuk posko-posko di setiap kampus. Tujuan posko itu menurut Egi, untuk menangkal upaya gerakan rasikal yang akan mengadu domba masyarakat.

“Posko terbuka secara umum. Dan, posko kami siap untuk menjaga masyarakat sekitar kampus dari segala apapun terkait gerakan-gerakan radikal,” kata Egi.

Pada bagian lain, Ketua GMNI Bogor Raya, Universitas Pakuan, Desta Lesmana mengaku sedih dengan keadaan politik kekinian. Ia merasa prihatin, gerakan mobilisasi massa yang membuat masyarakat resah. Desta juga heran, karena banyak kelompok politik belakangan ini seolah paling memiliki kebenaran. Padahal, sebutnya, kebenaran hakiki itu adanya di rakyat yang bahagia dengan perdamaian.

“Terus terang saya sedih. Hati saya menangis. Negeri yang saya diami bernama Indonesia seolah dalam keadaan menakutkan dengan adanya mobilisasi massa besar-besaran. Jika perdamaian yang kerap kali kami dengungkan tidak lagi dianggap bermakna, maka kami siap turun ke jalan menjaga keutuhan NKRI,” tuntasnya. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait