Jumat, 30 September 22

Jawaban Denny JA terhadap “Kritik atas Analisa Survei LSI di Pilkada DKI”


Tadi saya sempat membaca artikel dari Teddy Wibisana soal analisis publikasi survei LSI. Ia tidak mempersoalkan soal data ataupun turunnya dukungan pertahana (Ahok). Namun data itu bisa dianalisis dengan cara lain.

Saya membaca reviewnya. Cukup asyik dan sah. Namun memang ia luput dari beberapa point penting.

1) Teddy menyatakan bahwa dengan 3 pasang, basis sebaran Muslim adalah 33.3 persen. 100 persen:  3 calon. Lalu basis ini ia jadikan dasar analisa versinya.

Jawab:

Dalam kenyataannya, seperti yang dijelaskan dalam konferrnsi pers, dalam survei selalu ada suara yang masih belum memutuskan. Basis sebarannya, yang belum memutuskan itu sebesar 25- 30 persen (tergantung dua pasang, atau tiga pasang, jika dua pasang tergantung siapa lawan siapa).

Basis sebaran calon jauh lebih kecil lagi, suara yang sudah memutuskan, sekitar 70-75 persen.

Dibagi 3 calon sama dengan 25 persen. Basis yang benar sekitar 25 persen.

Jika basisnya berbeda, analisasi selanjutnya bisa berbeda pula.

2) Teddy menyatakan, dukungan muslim kepada Ahok walau menurun (di bawah 35%), tetap lebih banyak dibanding calon lain dan di atas sebaran rata rata.

jawab:

Jika calon tiga pasang, memang dukungan muslim ke Ahok lebih banyak dibanding ke calon lain dan di atas sebaran rata rata. Penyebabnya karena dukungan pemilih Muslim pecah kepada dua calon.

Namun dalam pertarungan dua calon: Anis vs Ahok, atau Agus vs Ahok, dukungan pemilih Muslim lebih banyak ke pihak Anies atau Agus karena dukungan Muslim menyatu.

Di kalangan pemilih Muslim, Anies vs Ahok ke Anies 40.3 persen, ke Ahok 28.9 persen. Sisanya 30.8 persen belum menentukan.

Di kalangan pemilih Muslim, Agus vs Ahok, ke Agus 37.4 persen, ke Ahok 28.4 persen.

Jika dua calon, dukungan ke Ahok di bawah (bukan di atas) sebaran rata rata.

3) Teddy menyatakan tetap saja mayoritas pemilih Ahok adalah pemilih Islam. Dari 100 persen pemilih Ahok, tetap saja lebih banyak pemilih Muslimnya ketimbang non Muslimnya.

Jawab:

Tentu saja. Karena pemilih Muslim itu 85 persen. Non- Muslim hanya 15 persen.

Tapi memang yang ingin dilihat dalam survei ini adalah pemilih tersegmentasi dari sisi agama.

Di pemilih non Muslim, Ahok jauh mengungguli lawannya dalam head to head. Ahok selalu didukung di atas 70 persen. Lawannya, baik Anies atau Agus, jika head to head selalu di bawah 10 persen.

Sebaliknya, di pemilih Muslim, sangat berbeda. Anies ataupun Agus di atas Ahok walau tak mencolok: 40.3 persen vs 28.9 persen (kasus Anies) dan 37.4 persen vs 28.4 persen (kasus Agus).

Walau tidak dimobilisasi secara kasat mata, pemilih non Muslim jauh lebih solid (di atas 70 persen) ke Ahok, ketimbang pemilih Muslim ke Anies atau Agus (masing masing masih di bawah 35 persen)

Ini temuan yg menarik terutama bagi yang ingin studi mengenai politik identitas dalam hubungannya dengan voting behavior: pemilih non Muslim lebih solid.

4. Teddy menyatakan jika jumlah yg tak ingin gubernur Muslim naik dari 40 persen ke 55 persen, sementara dukungan Ahok menurun dari 59.3 persen ke 31.4 persen (27.9 persen), bukankah ada penyebab lain yg bukan karena agama yg jauh lebih besar.

Jawab:

Betul dan salah dengan catatan.

Dalam konferensi pers sudah dikatakan ada 4 variable yg menyebabkan turunnya ahok: kebijakan, personality, lawan yg fresh, dan isu primorial. Isu primordial pun dibagi ke agama dan etnis.

Secara matematik sederhana saja, 27.9 persen turunnya Ahok katakanlah disumbang oleh 15 persen (bertambahnya pemilih Muslim tak suka pemimpin non Muslim, katakanlah menjadi 12.5 persen karena pemilih Muslim hanya 85 persen), berarti 40 persen disebabkan soal agama sendirian.

Catatannya:

Sisa 60 persennya disebabkan oleh 3 (menjadi 4 karena variabel etnis) lainnya. JIka dibuat rata tata, 4 variabel lainnya menyumbang sekitar 15 persen. Agama sendirian menyumbang 40 persen!!

Variabel agama kalah banyak dibanding 4 variabel lain digabung menjadi satu. Namun jika 4 variabel itu diurai dan dibuat rata rata saja, variabel agama jauh lebih banyak dibanding masing masing variabel lain.

5) Teddy menyatakan blunder soal surat Al Maidah itu terjadi setelah survei. Tidak sah jika ia dijadikan bagian analisis.

Jawab:

khusus yang ini bro Teddy kurang teliti membaca.

Memang dituliskan di makalah itu, bahwa ke depan, Ahok bisa mengambil kembali hati pemilih Muslim. Namun bisa juga sebaliknya. Surat Al Maidah (dan himbauan MUI) justru bisa membuat anjlok lagi.

Tentu maksudnya pengaruh surat Al Maidah ini setelah survei ini dibuat dan diuji melalui survei berikutnya.

Namun secara keseluruhan ulasan Teddy Wibisana mengasyikan sebagai bagian tukar menukar analisa. Thanks bro!

Denny JA

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait