Sabtu, 3 Desember 22

Jakarta adalah Mitos, Ridwan Kamil Putuskan Batal Ikut Pilgub DKI Jakarta

Jakarta – Ridwan Kamil akhirnya memutuskan untuk tidak maju ke pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Keputusan ini ia sampaikan ke publik melalui postingan di akun Facebòok-nya pada Senin (29/2/2016)

Ridwan mengungkapkan, alasan utama dibalik keputusannya adalah karena dia lebih memilih harus menyelesaikan tugasnya sebagai Walikota Bandung hingga 2018 yang akan datang.

“Bukan takut kalah. Menang kalah itu biasa dalam hidup. Masalah batin saya hanya satu. Saya belum selesai menunaikan tugas sebagai Walikota Bandung, ” ujarnya.

Dalam pernyataanya yang panjang, Ridwan mengakui betapa kuatnya tarikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan/politik dan juga pusat ekonomi Indonesia. Sehingga, Jakarta menjadi pusat adu nasib warga negara dari seluruh Indonesia.

“Termasuk untuk menjadi gubernur Jakarta menjadi incaran utama di panggung politik,” kata Ridwan. Padahal, lanjutnya, “Jakarta adalah mitos. Jakarta sekaligus juga adalah bom waktu.”

Ia mengakui, kesempatan bagi dia untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta dan bahkan memenangkannya cukup terbuka. Meskipun selama ini ia merasa tidak melakukan upaya apapun yang bersifat mempromosikan diri ke warga Jakarta.

“Ketika hasil survey menyatakan popularitas dan elektabilitas tiba-tiba-tiba naik, saya duga karena apa yang saya lakukan di Bandung dengan mudah dikonsumsi warga Jakarta via media sosial. Jangan lupa Jakarta adalah kota Twitter paling cerewet se dunia,” tambah Ridwan.

Ridwan menambahkan, bahwa selama 3 bulan terakhir mengalami dilema, sehingga tidak bisa langsung menyatakan iya atau tidak terhadap tawaran menjadi calon Gubernur DKI.

“Saya menghormati masukan dan aspirasi dari beragam kelompok warga dan tokoh Jakarta. Saya mendatangi informal undangan dari 4 parpol. Juga masukan langsung dari Bapak Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, termasuk berdiskusi hangat dengan Pak Prabowo Subianto. Saya memperhatikan masukan warga via media sosial juga,” ujarnya panjang lebar.

“Jika mengikuti hawa nafsu dan hitungan matematika pilkada, pastilah saya tidak banyak berpikir panjang. Namun hidup tidaklah harus selalu begitu. Saya ingin bahagia tanpa mencederai. Saya ingin menang tanpa melukai,” katanya lebih lanjut.

Di bagian akhir pernyataan, Ridwan menuturkan,
Indonesia tidak hanya Jakarta. Mitos pusat segalanya itu harus dibongkar.

“Saya yakin Indonesia bisa maju jika di daerah juga dipimpin orang-orang terpercaya dan progresif secara merata. Indonesia bisa hebat dengan kepemimpinan orang-orang hebat seperti Ibu Risma di Surabaya atau Prof. Nurdin Abdullah di Bantaeng. Saya mungkin bisa ke Jakarta, tapi tidak sekarang. Saya masih ingin menyelesaikan mimpi-mimpi besar di di Bandung, ibukota solidaritas Asia Afrika dan kota desain Unesco ini,” pungkasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait