Sabtu, 2 Juli 22

Istana Bogor, Saksi Sejarah Perjalanan Masa

Kota Bogor tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan Istana Kepresiden RI. Bangunan yang menjadi destinasi wisata yang kerap dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri ini memiliki arsitektur bergaya kolonial Belanda. Adalah Gubernur Jendral Belanda G.W. Baron van Imhoff yang membangun Istana Bogor di sebuah kampung yang dulunya bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.

Istana Bogor yang kini dijadikan tempat berkantor sekaligus tempat tinggal Presiden Joko Widodo ini semula arsitekturnya mencontoh Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilakukan pada masa Gubernur Jendral Jacob Mossel tahun 1750 – 1761. Saat meletus Gunung Salak, Istana Bogor pernah mengalami kerusakan berat pada tanggal 10 oktober 1834. Seterusnya, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851 – 1856), kembali dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX.

“Dari literatur yang saya ketahui, sebutan Istana Bogor sejak bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia,” tukas Ketua DPRD Kota Bogor, Untung Maryono saat diwawancarai indeksberita.com di kediamannya, Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Sabtu (4/6/2016).

Bertutur tentang sejarah Istana Bogor, pria yang lahir dan dibesarkan di Kota Bogor ini mengatakan, bentuk dan luas bangunan Istana Bogor mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu.

“Dari berbagai sumber yang saya baca, penghuni terakhir Belanda yakni Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg, selanjutnya bangunan tersebut sempat direbut Jepang. Dan, seterusnya, tahun 1950, pemerintah Indonesia mengambil alih istana dan resmi menjadikannya sebagai salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Semasa pemerintahan Soekarno, pria anak petinggi polisi Kota Bogor pada era tahun 1960-an itu menyampaikan, Istana Bogor jadi saksi sejarah peralihan kekuasan dengan turunnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang dikenal dengan Supersemar.

“Informasi yang saya himpun dan yang saya ketahui serta bukan lagi jadi rahasia, ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar di Istana Bogor. Mereka adalah Brigjen Muhammad Jusuf, Mayjen Basuki Rachmat dan Brigjen Amir Mahmud. Singkatnya, terjadi peralihan setelah Soekarno didesak menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Supersemar,” urainya.

Semasa era Soeharto, Istana Bogor pernah mengadakan pertemuan APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation) pada tanggal 15 November 1994. Selanjutnya, masih kata Untung, Presiden Abdurrhaman Wahid atau Gus Dur juga pernah menjamu tamu negara di Istana Bogor.

“Di era pemerintahan Megawati pernah di Istana Bogor pernah dibuat perayaan kemerdekaan RI. Kemudian, Presiden Amerika George Walker Bush juga datang kesana pada masa kepala negara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan, sekarang, Presiden RI ke 7 Jokowi yang saya ketahui lebih memilih Istana Bogor sebagai tempat tinggal sekaligus kantor,” pungkasnya.

Istana Bogor memang merekam perjalanan sejarah dan jadi saksi sepanjang masa. Istana yang berlokasi di Jalan Juanda No 1, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor ini memiliki ciri khas ratusan rusa totol asal Nepal, India yang dibiarkan hidup lepas di halaman. Bangunan tua yang berdiri kokoh ini juga menyadarkan agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait