Selasa, 5 Juli 22

Ini Alasan Pebisnis Masuk Dalam Panama Papers

Jakarta – Mencuatnya nama-nama pebisnis Indonesia yang ada didalam dokumen Panama Papers hingga saat ini menjadi polemik di publik, pasalnya mereka tersebut diduga menghindar dari pajak.

Direktur Eksekutif CITA (Center for Indonesia Taxation) Yustinus Prastowo mengatakan, setidaknya ada tiga alasan bagi mereka yang termasuk dalam panama papaers tersebut.

Di mana, sambung Pras, pebisnis-pebisnis tersebut menjalin kerjasama Mossack Fonseca, sebuah firma hukum asal Panama itu. Dengan begitu, mereka bisa menyimpan duit dalam jumlah besar di negara tax havens (surga pajak).

Tiga alasan tersebut, yang pertama, modusnya adalah murni aksi korporasi. Di mana, seseorang mendirikan perusahaan di negara tax havens untuk berbagai keperluan. Contohnya, menjual obligasi, membeli saham, atau melakukan ekspansi bisnis.

“Menurut saya ada tiga modus atau kategori, pertama murni aksi korporasi. Mereka (pengusaha) melakukannya karena administrasinya mudah, kerahasiaan terjamin, serta untuk antisipasi kebankrutan,” ujar Pras di Jakarta, Sabtu (9/4).

Alasan kedua lanjut Pras, pendirian perusahaan di negara suaka pajak, bermotif untuk menyembunyikan aset dari hasil bisnis ilegal, seperti korupsi. Hal ini, jelaslah sebuah aksi pelanggaran hukum. “Ini adalah modus dari pengusaha untuk menyembunyikan uangnya dengan menyimpan di negara tax havens,” ungkap Pras.

“Modus ini banyak terjadi di pengusaha, politisi, dan pejabat kita. Mereka menyimpan uangnya di sana. Selain aman juga tidak kena pajak,” tambahnya.

Alasan ketiga, kata Pras, aksi ini bertujuan memang untuk menghindari pajak, sehingga perusahaan bisa lebih efisien. Karena, mereka hanya dibebankan biaya pajak yang murah.

Khusus modus pertama dan ketiga, wilayahnya masih bisa abu-abu alias belum jelas. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pajak perlu melakukan pengujian terlebih dahulu. “Apakah perusahaan tersebut melanggar aturan atau tidak,” paparnya.

Selain itu, sambung Pras, Cara identifikasinya, sederhana sana. Misalnya dengan menyelidiki ada tidaknya aktivitas bisnis yang dilakukan oleh perusahaan di negara tax havens tersebut.

“Jika tidak ada, maka itu bisa diindikasikan praktik tax evasion, dan dapat dikenakan sanksi. Saya kira Panama Papers adalah puncak gunung es dari segala permasalahan pajak di dunia, khususnya Indonesia,” tandasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait