Sabtu, 3 Desember 22

Indonesia Perlu Kembangkan Pelatihan Vokasional

Presiden Joko Widodo beserta rombongan hari ini (Rabu, 20/4) mengakhiri kunjungan kenegaraannya di Inggris dan bertolak menuju Brussels, Belgia, sebagai bagian dari rangkaian lawatannya ke beberapa negara Eropa.

Beberapa isu bilateral strategis telah dibahas di antara pemimpin kedua negara. Di antaranya rencana pembentukan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA), isu penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu bagi eksportir produk kayu untuk memberantas praktek perdagangan kayu ilegal. Selain itu juga dibahas standar masing-masing negara, khususnya yang terkait dengan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) bagi produk sawit Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang turut serta dalam rombongan Presiden memandang penting arti kunjungan pemerintah Indonesia ke beberapa negara Eropa ini.

“Kunjungan ini adalah bagian dari kerjasama perdagangan kita. Sebelum berangkat, persiapan sudah kita lakukan. Pemerintah sudah menyampaikan pandangan terhadap perjanjian perdagangan, menyampaikan konsep dan garis besarnya. Dan tentu saja kita juga menerima komen dari mereka. Nanti di Brussels kalau ada kesepakatan, kita pun sudah siap,” ujar Darmin.

Darmin menggarisbawahi pesan Presiden yang disampaikan dalam Forum Bisnis. Yakni tentang fokus pemerintah saat ini yang sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur. Kedua, bersamaan dengan itu, pemerintah juga melakukan reformasi struktural, antara lain melalui berbagai paket deregulasi.

“Tak kalah penting adalah pelatihan sumberdaya manusia. Jerman itu terkenal dengan kelebihannya di bidang training vokasional. Untuk pendidikan, kita sudah punya anggaran 20%. Tapi masih ada yang harus dikembangkan, yaitu vocasional training,” tambah Darmin.

Menurut Darmin, pengembangan pelatihan vokasional itu penting menghadapi era persaingan dan perdagangan bebas. Kemenaker sudah memiliki kelembagaannya seperti Balai Latihan Kerja (BLK). Tapi agar pelatihan itu memiliki standar kualitas, perlu kerjasama dengan lembaga akreditasi dan sertifikasi.

Kesepakatan dan Rencana Investasi

Kunjungan Presiden ke Inggris menghasilkan sejumlah kesepakatan, yakni MOU on Tertiary Education, MOU concerning Information and Experience Sharing on Hosting Global Sports Events, Amendment MOU on Creative Industries, dan Implementing Agreement (IA) on Marine Affairs and Fisheries.

Selain itu juga tercapai beberapa kesepakatan bisnis antar pelaku usaha kedua negara dan pengumuman beberapa rencana investasi perusahaan Inggris di Indonesia dengan nilai total komitmen investasi sekitar USD 19,02 Miliar. Di antaranya adalah Jardine Matheson dengan nilai investasi US$ 7,5 miliar; HSBC dengan nilai investasi US$ 1,2 Milyar; British Petroleum (BP) Tangguh dengan nilai investasi US$ 8 miliar; Unilever dengan nilai investasi US$ 500 juta; NVVogt Sinergi Buton Selatan dengan nilai investasi US$ 200 juta; dan Nuovito dengan nilai investasi US$ 100 juta.

Selama tiga tahun terakhir, Inggris adalah salah satu satu dari lima negara investor terbesar di Indonesia.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait