Jumat, 9 Desember 22

Indonesia Kurang Bawang, Fortani: Tidak Cukup Dijawab dengan Manipulasi Data dan Impor

Jakarta – Keputusan pemerintah untuk mengimpor bawang merah dinilai Forum Tani Indonesia (Fortani) sebagai langkah yang tidak bijak. Menurut Ketua Fortani Wayan Supadno kurangnya komoditas itu tidak cukup dijawab dengan manipulasi data atau dijawab dengan impor.

Hal itu mengemuka dalam forum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Gedung Parlemen Jakarta, Rabu (24/5/2016), antara pelaku pertanian dari berbagai komoditas dan berbagi profesi yang tergabung dalam Fortani dengan Komisi IV DPR RI.

“Kami dari Forum Tani Indonesia merasa kecewa dengan keputusan pemerintah mengimpor bawang merah, artinya pemerintah tidak bisa mengantisipasi kenapa harus sampai melakukan impor,” kata Wayan Supadno.

Menurut Wayan, pemerintah kurang bijak dan kurang tegas dalam mengantisipasi jangka panjang dari keputusan impor tersebut. Kalau memang volumenya kurang, kata Wayan, berarti tanamannya  kurang luas. Dan kalau tanamannya kurang luas, maka berarti lahannya juga kurang luas dan jumlah petaninya kurang banyak.

“Ini harus jadi introspeksi pemerintah, dan paling mendasar di mata saya adalah kurangnya pelaku pertanian usia muda, serta kurang luasnya lahan pertanian. Hal ini tidak cukup dijawab dengan  manipulasi data,  dengan operasi pasar, atau dijawab dengan impor,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wayan mengatakan bahwa dalam jangka panjang kondisi ini dapat membunuh karakter profesi pertanian.

Karena itu, Ia menekankan agar siapapun jangan menyalahkan jika setiap tahunnya Indonesia kehilangan setengah juta kepala keluarga petani. Umumnya mereka beralih profesi karena tindakan-tindakan importasi pemerintah yang tidak tepat.

Selain itu, dalam RDPU tersebut, Fortani menyampaikan butir-butir tuntutannya yang terangkum dalam Nawacita Petani Indonesia.

“Ide dan gagasan para pelaku pertanian ini bisa ditampung menjadi bagian dari program dan anggaran pemerintah ke depan,” ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait