Kamis, 6 Oktober 22

Ibu Saeni dan Wartegnya

Andre Donas, kawan saya sesama aktivis  di IKIP Jakarta (sekarang UNJ), pernah cerita tentang seorang penjual rokok di kampus Rawamangun yang sering kami panggil Babe. Babe sebenarnya berasal dari Cirebon, karena itu kalimat yang sampai kini saya ingat adalah: langka pikire. Kata Andre, Babe punya tiga anak, satu di UI, satu di Trisakti, satu lagi di Atmajaya. “Wah hebat dong Babe, mereka kuliah semua?” tanya saya. “Tidak, jual rokok juga,” jawab Andre.
Cerita di atas mengingatkan saya pada Ibu Saeni, pemilik warung di Serang yang diambil dagangannya oleh petugas Satpol PP kota itu. Saeni kemudian mendapat hadiah dari publik berupa donasi sebesar Rp 170 juta rupiah. Lalu, ada orang yang tak setuju dan iri dengan kemujuran Saeni, membuat berita tentang Saeni yang sebenarnya kaya, mempunyai tiga warung di berbagai kota. Anda percaya? Kalau pun berita itu benar, apa yang salah dari Saeni? Bukankah dia bekerja keras di kota lain untuk membangun kehidupan lebih baik di desanya itulah pedagang Warung Tegal atau Warteg.
Warteg adalah salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Warteg sudah menjadi istilah generik untuk warung makan kelas menengah ke bawah di pinggir jalan, baik yang berada di kota Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegal maupun dari daerah lain. Warteg pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari dua desa di Kabupaten Tegal dan satu desa di Kota Tegal yaitu warga Desa Sidapurna, Sidakaton Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal dan Krandon. Mereka mengelola Warteg secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan keluarga) setiap 3 sampai 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya.
Hidangan di Warteg umumnya sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi putih dan beberapa sayur misalnya tahu, sawi, kol, dan kacang panjang hampir selalu dapat ditemui, demikian pula lauk seperti tahu, tempe, pindang, telor asin dan ayam. Minuman yang selalu siap adalah teh, jeruk, dan kopi. Ada juga Warteg yang melengkapi dengan minuman ringan bermerek.  Beberapa Warteg khusus menghidangkan beberapa jenis makanan, seperti sate tegal, gulai dan minuman khas Tegal teh poci.
Meski banyak yang sukses dan bisa memperbaiki taraf hidupnya dengan membuka Warteg di Jakarta tapi tidak sedikit pengusaha Warteg yang gagal dan akhirnya bangkrut dan terpaksa pulang ke kampung halaman. Bahkan karena biasanya modal para pengusaha Warteg adalah pinjaman dari bank dengan jaminan rumah, tanah, atau sawah milik mereka maka bila Warteg milik mereka bangkrut banyak dari mereka yang akhirnya rumahnya disita.
Di Jabodetabek saja terdapat 34.725 warteg. Jumlah tersebut adalah warteg yang tergabung dalam Koperasi Warung Tegal (Kowarteg). Di luar itu masih ada ratusan. Untuk di Jakarta saja, diperkirakan jumlah warteg mencapai angka 2.000-an. Warteg merupakan jaring pngaman sosial di Jakarta, salah satu pilar utama survival kaum miskin kota.
Apabila kehidupan para pengusaha Warteg di kota-kota serba apa adanya, namun tidak demikian dengan di desanya. Seperti di Desa Sidapurna dan Desa Sidakaton, Kec. Dukuhturi, Kabupaten Tegal, rata-rata pengusaha Warteg membangun rumah mewah dengan dana ratusan juta bahkan miliaran. Pengusaha Warteg membangun rumahnya satu lantai bahkan dua lantai dengan gaya minimalis. Minimal untuk membangun rumah menghabiskan dana Rp 400 juta bahkan kalau rumahnya tingkat bisa Rp 1 miliar.
Meskipun rumah mewah, namun penghuni rumah sehari-hari adalah anak-anak yang didampingi neneknya. Sedangkan ayah dan ibunya pergi merantau. Rumah hanya beberapa kali dalam setahun ditempati seperti saat lebaran. Demikian pula dengan mobil yang sering  berseliweran di desa-desa asal pengusahaWarteg yang rata-rata plat nopolnya B.
Warteg dan Politik:
Mengingat jumlahnya yang begitu banyak, belum lagi jika ditambah dengan keluarga mereka, maka Warteg banyak dilirik para politisi setiap ada pemilu. Seperti pada Pemilu 2014, ribuan pengusaha Warteg se-Jabodetabek menyatakan dukungan kepada calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Jusuf Kalla. Ketua Paguguyuban Warteg Jabodetabek Nurul Cahaya Hakim mengatakan,  pengusaha Warteg mendukung Jokowi-JK karena pasangan itu dinilai mewakili kepentingan pengusaha kecil. Warteg merupakan tempat makan rakyat kecil. Jokowi berasal dari rakyat kecil dan memiliki empati untuk rakyat kecil seperti pengusaha Warteg.
Kini kita bisa mengerti mengapa ada yang tak setuju Ibu Saeni dan Wartegnya. Siapa mereka? Mereka yang gagal move on sejak Pilpres 2014. Mereka tak menghargai kerja keras Ibu Saeni dan kaum perantau yang membuka Warteg. Jangan dikira, pengusaha Warteg yang kelihatan sederhada di kota, tetapi mereka berharta di desa. Mereka tak salah, karena kerja keras dan tidak korupsi. Mengapa para pembenci Ibu Saeni dan Wartegnya tak memperdulikan ada 26 bupati yang memiliki rekening berisi lebih dari Rp. 1 triliun (hasil analisis terakhir PPATK). Atau mempermasalahkan mengapa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo yang diduga membawa barang-barang milik kantor senilai Rp. 8,5 miliar.
Sesungguhnya diwajibkan atas kamu berpuasa. Bukan ngurusin orang lain puasa atau tidak.
- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait