Rabu, 30 November 22

HUT Kodam III/Siliwangi: Operasi Teritorial dan Kesejahteraan Rakyat

Peringatan hari jadi satuan, merupakan saat yang paling tepat untuk merefleksikan perjalanan satuan, seperti halnya HUT Kodam III/Siliwangi (20 Mei 1946 – 20 Mei 2017).  Merenungkan kembali perjalanan satuan, beserta pasang surutnya, sembari berikhtiar, apa yang bisa kita sumbangkan pada bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Barat, sebagai ibu kandung Kodam Siliwangi.

Sejak berdirinya, Kodam Siliwangi menganut sesanti “Siliwangi adalah rakyat Jawa Barat, dan rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi”. Karena semboyan itulah, Kodam Siliwangi selalu berusaha mengaktualkan perannya bagi (khususnya) masyarakat Jawa Barat. Kini tantangannya telah berbeda, bila di awal kelahirannya dulu, sampai periode 1960-an, Kodam Siliwangi lebih mengedepankan unsur pertempuran, tantangan masa kini  adalah bagaimana Kodam Siliwangi bisa ikut andil dalam menyejahterakan masyarakat Jawa Barat, tanpa harus mengurangi kesiapannya sebagai satuan tempur, bila sewaktu-waktu harus diterjunkan.

Menyesuaikan zaman yang telah berganti, Kodam Siliwangi (selanjutnya: Siliwangi) ingin berkarya di palagan yang lain, di luar medan pertempuran. Seperti yang pernah terjadi pada sekitar tahun 1966-1967, ketika Siliwangi baru saja menumpas pemberontakan DI/TII, Siliwangi bersama-sama dengan rakyat mulai membuka daerah terisolir, yang sebelumnya merupakan basis DI/TII, salah satunya dengan membangun jalan Garut – Pameungpeuk. Jalan itu menjadi saksi sejarah, betapa eratnya kerja sama Siliwangi dengan rakyat Jabar. Di masa sekarang, didasari tanggung jawab moril selaku prajurit TNI yang ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya, Siliwangi turut berpartisipasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, dengan meluncurkan program pengembangan agrikultur.

Operasi Teritorial 

Posisi Jabar yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, tentu akan memiliki pengaruh pada situasi di sosial, ekonomi dan politik  di Jabar. Segala isu dan peristiwa berskala nasional yang terjadi di Jakarta, akan terasa getarannya di wilayah Jabar. Namun di balik itu, posisi Jakarta sebagai pusat perdagangan dan jasa, jelas menguntungkan bagi  pelaku usaha dan petani di Jabar,  mereka bisa memanfaatkan fasilitas itu semaksimal mungkin. Ditambah posisi Jabar, yang  menjadi penghubung lalulintas barang dan jasa ke Sumatera, akan semakin menguntungkan pula dalam  jasa distribusi.

Sebagaimana kita ketahui kondisi iklim Jawa Barat, topografi serta lahan yang sangat potensial untuk dikembangkan berbagai macam tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, bukan hanya sebatas padi, tetapi juga sayuran, buah-buahan dan berbagai tanaman palawija lainnya. Ada metafor yang bagus untuk menggambarkan kondisi alam  Jabar, disebutkan tanah Parahiangan ibarat sekeping tanah surga yang terlempar ke Bumi. Alangkah sayangnya bila kondisi geografis yang mendukung ini tidak dimanfaatkan. Bila program pertanian ini telah membuahkan hasil kelak, distribusinya bisa memanfaatkan fasilitas jalur distribusi yang dimiliki Jakarta sebagaimana disebutkan di atas. Selain untuk konsumsi dalam negeri, kiranyabisa juga menjadi komoditas ekspor.

Berdasar pertimbangan posisi dan kondisi geografis itu pula, Kodam Siliwangi turut andil dalam program ketahanan pangan. Kodam Siliwangi berangan-angan, agar rakyat Jabar dan Indonesia umumnya, bisa mandiri dalam hal penyediaan sembako, khususnya beras. Mengingat konsep ketahanan di masa kini, tidak hanya bertumpu pada alutsista, namun juga tergantung pada bagaimana ketahanan pangannya.

Pengalaman Siliwangi pada dasawarsa 1960-an dulu, yang memelopori program Operasi Bakti (pembangunan infrastruktur) dan Operasi Karya (pemberdayaan ekonomi),  bisa dijadikan sumber inspirasi sehingga operasi territorial (opster) selalu aktual.  Realitas kesenjangan ekonomi, bila tidak diatasi secara bertahap, dikhawatirkan memunculkan frustrasi kolektif, dan bisa berlanjut pada keresahan di masyarakat. Itulah arti penting aktualiasi opster, khususnya yang dijalankan jajaran Kodam Siliwangi.

Kesejahteraan Rakyat 

Sumbangsih  di bidang kesra menjadi relevan dibicarakan, di tengah situasi memprihatinkan bangsa sekarang ini. Menilik Perang Kemerdekaan dulu, anggota TNI selalu bahu-membahu dengan rakyat, baik untuk kepentingan kemiliteran (tempur) maupun untuk kesejahteraan. Saat operasi tempur berlangsung, rakyat yang mendukung TNI dalam urusan logistik. Ketika pertempuran mereda, giliran TNI  yang membantu rakyat dalam perbaikan infrastruktur.

Pengalaman di masa Perang Kemerdekaan bisa disebut bentuk praktik awal, apa yang kemudian dikenal sebagai konsep OMSP (Operasi Militer Selain Perang), ketika konsep OMSP sendiri belum familier saat itu. Pengalaman selama perang kemerdekaan merupakan landasan bagaimana prajurit TNI harus bersikap terhadap rakyat, baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Khusus bagi Siliwangi, pengalaman berjuang bersama rakyat Jabar, masih berlangsung sampai dasawarsa 1960-an, sampai gerakan DI/TII benar-benar ditumpas, setelah pemimpin utamanya, yakni SM Kartosuwiryo, berhasil ditangkap prajurit Siliwangi.

Model Operasi Bakti  dan Operasi karya yang telah dilakukan bertahun-tahun lalu masih relevan untuk dilaksanakan. Ada satu pedoman yang  tetap relevan, sehubungan  pelaksanaan opster, yang berbunyi “how to win the heart and the mind of the people” (bagaimana merebut sanubari dan pikiran rakyat).

Pemenuhan aspek moril bidang kesejahteraan rakyat tidak kurang pula pentingnya. Salah satu bentuknya adalah mengembalikan kebanggaan dan kepercayaan rakyat terhadap TNI, sementara di sisi lain TNI benar-benar bisa diandalkan dalam menjaga kedaulatan bangsa dan rasa aman masyarakat.

Kerja sama yang erat dengan rakyat, memang menjadi ciri khas Siliwangi sejak kelahirannya tahun 1946. Rakyat Jawa Barat bersama Siliwangi senantiasa sapapait samamanis (bersama-sama dalam pahit manisnya perjuangan)  menghadapi setiap rintangan. Kerja sama Siliwangi dan rakyat Jawa Barat merupakan catatan sejarah yang tak dapat dihapus begitu saja. Keduanya ibarat ikan dan air, saling mendukung, memelihara dan membesarkan. Rakyat percaya Siliwangi7 akan menjadi pelindung pada saat dibutuhkan.

Seluruh warga Jabar, akan terus mendukung dan berharap, agar seluruh jajaran  Siliwangi  terus melanjutkan tradisi para pendahulu, untuk senantiasa mengayomi rakyat Jawa Barat.  “Esa Hilang, Dua Terbilang”. Dirgahayu Kodam III/Siliwangi.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait