Kamis, 1 Desember 22

HUT Brigif 17/Kujang I : Harapan Bangsa Dari Cijantung  

Ada banyak satuan dalam TNI AD, dengan tradisinya masing-masing. Namun yang benar-benar melegenda tidak banyak, salah satu yang bisa disebut adalah Brigif 17 / Kujang I. Nama besar satuan ini sebagian berkat sumbangsih satuan-satuan di bawah Brigif 17, yang telah membangun legendanya sendiri: Yonif Para Raider 305/Tengkorak (Karawang), Yonif Para Raider 328/Dirgahayu (Cilodong, Bogor), dan Yonif Para Raider 330/Tri Darma (Cicalengka, Bandung).

Itu bisa terjadi, karena ketiga yonif tersebut, didirikan lebih dulu ketimbang Brigif 17 selaku induknya, yang baru resmi berdiri pada 20 Mei 1966 di Bandung. Dalam jangka waktu yang lama, satuan yang bermarkas di Cijantung (Jaktim) ini, dikenal dengan sebutan Brigif Lintas Udara (Linud) 17. Namun karena adanya peningkatan kualifikasi, sebutannya berganti menjadi Brigif Para Raider, yang selanjutnya diikuti tiga satuan di bawahnya.

Nama besar Brigif 17 dibentuk dari akumulasi serangkaian prestasi dari satuan di bawahnya, baik melalui operasi tempur maupun sebagai pasukan perdamaian di bawah payung PBB (Kontingen Garuda). Operasi penumpasan DI/ TII, Operasi Trikora dan Dwikora, Operasi di Timtim, Operasi Pembebasan Sandera di Taman  Nasional Lorentz Papua, adalah deretan prestasi dari Brigif 17.

Kini ketika negeri ini sudah kondusif, ketika operasi tempur semakin jarang digelar, baik juga dipikirkan, bagaimana tetap menjaga performa satuan-satuan seperti Brigif 17 ini. Itu bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana: apa peran aktual yang bisa diambil Brigif 17 dalam masa damai.

Dari Siliwangi ke Kostrad

Satuan ini diresmikan pada 20 Mei 1966 oleh KSAD Jenderal TNI Soeharto (kemudian Presiden RI), dengan Letkol Inf Himawan Sutanto sebagai Komandan Brigade pertama. Pemilihan tanggal peresmian tersebut bukan tanpa alasan. Tanggal itu dikenal sebagai hari jadi Kodam Siliwangi (20 Mei 1946), induk pertama Brigif 17, sebelum kemudian dialihkan ke Kostrad pada 20 Agustus 1969. Konsep awalnya dulu, Brigif 17 memang direncanakan sebagai satuan andalan Kodam III/Siliwangi.

Kodam Siliwangi sebagaimana diketahui, sejak dulu sering melahirkan satuan-satuan yang andal, salah satunya adalah Kesatuan Komando, yang kini dikenal sebagai Kopassus. Begitu berartinya Brigif 17 bagi Kodam Siliwangi, sehingga pada seputar tahun 1968 – 1969 sempat terjadi perdebatan, terkait rencana Brigif 17  alih komando ke Kostrad.

Bagaimana pun jejak Kodam Siliwangi masih terasa hingga sekarang. Julukan ”Kujang I” pada satuan ini, merupakan ikon khas tradisi Siliwangi. Dalam peta elit tentara mutakhir, tidak banyak satuan yang kontribusinya demikian besar, sebagaimana Brigif 17.

Satuan ini ibarat lahan persemaian bagi calon pemimpin TNI (khususnya AD) di masa depan. Karena perwira-perwira yang masuk eselon pimpinan TNI, pada umumnya pernah berdinas Brigif 17. Selain rasa bangga karena bergabung pada satuan legendaris, kebersamaan saat bertugas di berbagai medan tempur, turut membangun ikatan emosional di antara anggotanya, hingga jauh di kemudian hari, saat mereka tidak lagi berdinas pada satuan ini.

Harapan Bangsa

Bagi perwira yang pernah berdinas pada satuan ini telah terbentuk ikatan, semacam rumpun atau linkage eks anggota Brigif 17. Ikatan khusus di antara mantan anggota Brigif 17, mengingatkan kita pada ikatan kultural yang dulu sempat mewarnai sejarah TNI-AD, seperti Rumpun Siliwangi dan Rumpun Diponegoro.

Tradisi dan prestasi tempur yang dimiliki Brigif 17, telah memberi dampak positif kepada prajuritnya, baik yang masih berdinas, maupun yang sudah lepas dari Brigif 17. Sebagai bagian dari pembinaan satuan dan personel, kebanggaan terhadap satuan, merupakan kondisi yang memang secara sengaja diciptakan.

Salah satu capaian tertinggi Brigif 17 di luar medan tempur, adalah terpilihnya Letjen TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI selama dua periode (2004 – 2014). Saat masih berpangkat kolonel, SBY pernah menjabat Komandan Brigif 17 (1992-1993), dan sebagian besar masa dinasnya dijalani di Yonif 305 dan Yonif 330 Singkatnya, figur SBY dibesarkan di satuan ini.

Latar belakang SBY selaku militer, dengan sendirinya berdampak pada satuan yang dulu membesarkan SBY, dimana Brigif 17 semakin sering menjadi perbincangan masyarakat. Baik bagi Brigif 17 maupun TNI AD secara umum, perhatian publik merupakan tantangan yang harus dijawab. Terpilihnya SBY sebagai Presiden, merupakan sinyal bahwa rakyat tidak alergi pada figur militer.

Kiranya pengalaman SBY bisa dijadikan referensi bagi mantan anggota militer yang akan memimpin bangsa di kemudian hari, pasca berakhirnya model otoritarian rezim Soeharto. Cukup sudah masa-masa gelap seperti itu. Dibanding elemen masyarakat lain, seperti parpol, ormas atau birokrasi, citra TNI masih lebih baik. Ada masanya TNI dihujat demikian keras, dan secara perlahan kepercayaan publik bisa diperolehnya kembali.

Rasanya tidak berlebihan bila kita menyebut TNI sebagai harapan bangsa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentu saja tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa TNI merupakan lembaga super. Utamanya bagi segenap anggota Brigif 17, kini ada momentum untuk andil dalam melakukan perbaikan kehidupan bangsa, berdasarkan nilai integritas dan rasa cinta Tanah Air yang sudah tertanam selama ini. Salah satunya dengan cara tidak ikut larut dalam budaya korupsi dan berebut jabatan, yang tarafnya sudah sangat memalukan.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait