Kamis, 6 Oktober 22

Hotspot Meningkat, Gubernur Kalbar Minta Hujan Buatan

Dalam seminggu terakhir, titik panas (hotspot) di Provinsi Kalimantan Barat meningkat secara signifikan. Satelit Modis dari NASA mendeteksi 158 hotspot di Kalimantan Barat pada Jumat pagi (19/8/2016). Sebelumnya pada 18/8/2016, jumlah hotspot di Kalimantan Barat sebanyak 106 hotspot.

Gubernur Kalimantan Barat telah menetapkan siaga darurat kebakaran huna dan laha berlaku 1/6/2016 hingga 1/9/2016. Untuk mengatasi hotspot kebakaran hutan dan lahan yang meluas maka Gubernur Kalimantan Barat telah mengajukan surat permintaan kepada BNPB agar dibantu helikopter water bombing, hujan buatan dan helikopter patroli pada 16/8/2016.

BNPB menyiapkan 2 helikopter water bombing. Perijinan terbang ke Kementerian Perhubungan masih diproses. BPPT menyiapkan pesawat terbang Casa TNI AU dan bahan semai untuk hujan buatan. Diperkirakan hujan buatan dapat dilakukan minggu depan. Keterbatasan pesawat terbang menyebabkan operasi hujan buatan seringkali terkendala. Untuk mengcover wilayah Kalimantan yang luas diperlukan pesawat Hercules C-130 yang mampu menjelajah luas dan membawa bahan semai 8 ton untuk hujan buatan.

Sementara itu, jumlah hotspot fluktuatif setiap harinya. Kebakaran hutan dan lahan di Riau masih terjadi di beberapa tempat. Pantauan satelit menunjukkan sebaran asap atau gas CO2 menyebar hingga Selat Malaka. Namun demikian belum mempengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapore. Indeks Standar Pencemaran Udara di Malaysia dan Singapore masih baik.

Pemantauan satelit Modis dari Lapan terdapat 339 hotspot pada Jumat pagi (19/8/2016) yaitu 218 hotspot untuk hotspot dengan tingkat kepercayaan Sedang (30 – 79%) dan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan Tinggi (80 – 100 %).

Sebaran 218 hotspot untuk tingkat kepercayaan Sedang adalah Kalimantan Barat 96, Kalimantan Selatan 7, Kalimantan Tengah 16, Kalimantan Timur 1, Jawa Barat 2, Jawa Tengah 1, Jawa Timur 1, NTT 14, Bangka, Belitung 17, Maluku 8, Maluku Utara 1, Sulawesi Selatan 7, Sulawesi Tengah 1, Sulawesi Tenggara 1, Sumatera Barat 2, Sumatera Selatan 9, Sumatera Utara 14, Jambi 4, Kepulauan Riau 1, Riau 10, Lampung 1, Papua 2, dan Gorontalo 1. Sedangkan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan Tinggi tersebar di Kalimantan Barat 62, Kalimantan Selatan 1, Kalimantan Tengah 7, Kalimantan Timur 1, NTT 1, Bangka Belitung 7, Lampung 1, Riau 22, Sumatera Selatan 4, Sumatera Utara 14, dan Sulawesi Selatan 1.

Upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan oleh ribuan personil satgas terpadu dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, relawan dan karyawan perusahaan perkebunan. Bulan September adalah puncak kemarau dan menjadi periode kritis kebakaran hutan dan lahan. Umumnya pada periode September adalah paling banyak hotspot di Sumatera dan Kalimantan. Oleh karena itu penanganan diintensifkan. Demikian menurut keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait