Kamis, 6 Oktober 22

Holding Non Operasional untuk Memperbaiki Kultur BUMN

Dalam liputan khusus mengenai Super Holding sebagai upaya penguatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), indeksberita.com telah memaparkan gagasan Faisal Basri, Wahyu Sakti Trenggono, dan Menteri Keungan Sri Mulyani. Pendapat mereka terlihat berbeda tetapi saling menguatkan.

Faisal Basri dan Trenggono melihat bahwa prioritas yang harus dilakukan adalah menyehatkan BUMN yang sedang sakit. Setelah sehat baru holding/super holding dibentuk. Menteri keuangan Sri Mulyani juga menyiratkan hal yang senada.

Saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sri Mulayani mengingatkan bahwa esensi dari holdingisasi adalah memperkuat sinergi, bukan sekadar penggabungan aset.

Baca: http://www.indeksberita.com/sri-mulyani-holding-bukan-sekedar-penggabungan-neraca-semangat-sinergi/

Sementara, Kementerian BUMN cenderung mempercepat pembentukan holding-holding BUMN untuk menuju super holding. Caranya dengan memilih BUMN yang asetnya 100% dikuasai negara atau BUMN yang paling sehat, untuk dijadikan sebagai sebagai perusahaan induk (perusahaan holding), lalu memposisikan BUMN lainnya yang sejenis sebagai anak perusahaan.

Lantas, model holding ideal seperti apa yang sebaiknya dibentuk? Menurut Trenggono, yang kami hubungi, Selasa (30/8/2016), pilihannya adalah membentuk perusahaan baru sebagai holding. Holding ini adalah holding non operasional, yang akan membawahi dan memperbaiki kultur BUMN yang dibawahinya.

“Dengan dibentuk perusahaan baru sebagai holding, maka holding itu akan benar-benar bersih dan belum tercemar, sehingga akan berwibawa untuk memperbaiki BUMN yang dibawahinya, yang memiliki kultur yang sudah lama terbentuk,” tuturnya.

Ditambahkan Trenggono, tantangan utama yang harus diatasi oleh holding adalah adanya benturan karena perbedaan kultur tadi. Untuk itu sebelum holding dikukuhkan, perlu diawali dengan sinergi.

“Holding fungsinya untuk memastikan bahwa sinergi bisa berjalan. Tetapi upaya sinergi sudah harus dimulai sejak awal sebelum holding dikukuhkan, agar tidak terjadi benturan akibat adanya perbedaan kuktur tadi. Dan sinergi yang diinginkan bisa ditentukan melalui business tree analysis,” terangnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait