Jumat, 9 Desember 22

Hersri Setiawan Terima Penghargaan Fisipol UGM

Mata Hersri Setiawan berkaca-kaca saat memberi sambutan dan ketika menerima piagam dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang disampaikan Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hilmar Farid sempat menggoda, “Di penjara gak nangis kok di sini nangis…”

Sore itu (11 Maret 2016) ruang seminar lantai 2 Fisipol UGM penuh sesak. Mahasiswa, para penyintas 1965, dan peminat sejarah lainnya mengikuti acara diskusi buku Memoar Pulau Buru 1 karya Hersri Setiawan dengan tema “Sejarah Kemanusiaan dan Melacak Pengetahuan Bagi Kaum Muda”. Tia Pamungkas, salah satu panitia dan dosen di Departemen Sosiologi sempat meminta mahasiswa UGM khususnys Fisipol untuk memberi kursi kepada tamu dari luar UGM. Alhasil, para mahasiswa duduk lesehan di kiri dan kanan panggung. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Youth Studies Center Fisipol UGM (YouSure) dan Departemen Sosiologi Fisipol UGM belerjasama dengan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Museum Bergerak 1965 Yogyakarta.

Penghargaan kepada Hersri mantan Tahanan Politik 1965, di antaranya di Pulau Buru, sungguh membuat penulis buku “Memoar Pulau Buru 1” ini diliputi suasana haru. “Siang ini adalah hari yang penting untuk saya, yaitu ‘pulang’ ke ‘rumah’ besar almamater bernama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada yang dulu bernama Jurusan Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP) dan bertempat di Pagelaran, Alun-alun Utara,” ujar Hersri mengawali sambutannya.

Hersri menambahkan, sesudah 51 tahun “si anak hilang” telah ditemukan oleh “ibu”nya. Lima puluh satu tahunsungguh waktu yang panjang dalam sejarah. Dan waktu itu masih bisa lebih panjang lagi jika kita tidak berbuat sesuatu. Jika kita tidak berani mengambil tindakan memutus rantai kebisuan.

Secara khusus Hersri berterima kasih kepada Dekan Fisipol UGM yang telah mengambil tanggungjawab untuk melawan upaya pelupaan yang tak kenal henti, dengan memberi penghargaan terhadap karya-karyanya. Artinya, lanjut Hersri, dekan Fisipol UGM memberi ruang kebebasan untuk para cendekia dan kaum muda untuk mengenal dan menelaah karya-karyanya. “Karena selama lima puluh tahun kita telah menjadi bagian dari sistim politik yang memaksakan tentang apa yang harus diingat dan apa yang harus dilupakan. Sehingga kita kehilangan kesadaran dan ingatan masa lalu yang sangat penting untuk menata kembali kehidupan kini dan masa depan,” jelas Hesri.

Dengan rendah hati Hersri mengatakan penghargaan ini bukan untuk dirinya secara pribadi tetapi untuk beratus-ratus teman yang hilang dan tidak kembali, yaitu para cendekia dan kaum muda harapan bangsa ini. Penghargaan ini juga untuk megingatkan dan memaknai suara dan martabat korban ’65, sebagai upaya pengungkapan kebenaran, rehabilitasi serta rekonsiliasi.

Di akhir sambutan yang singkat, Hersri membaca puisi untuk almarhum sahabatnya Bung Ibnu Santoro (dosen Fakultas Ekonomi), almarhum Bung Sunardi (dosen Fakultas Pedagogi) dan untuk para mahasiswa UGM, yang hilang di tahun ’65-’66.

Acara pemberian penghargaan untuk Hersri juga dimeriahkan oleh kelompok musisi muda Sisir Tanah dan kelompok ibu-ibu sepuh penynitas ’65, Kelompok Paduan Suara Dialita. Dialita diantaranya membawakan lagu mars Ganefo dan himne UGM.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait