Selasa, 16 Agustus 22

Hendardi: Merawat Kemajemukan Tak Cukup dengan Seremoni ala TNI

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, langkah TNI mengambil prakarsa yang seolah-olah menyelamatkan kemajemukan, secara normatif dapat dibenarkan, meskipun secara prinsip dapat saja dipersoalkan. Tetapi TNI bukanlah satu-satunya tempat bergantung, karena TNI adalah alat pertahanan.

Namun, menurut Hendardi, hal ini dapat dimaklumi karena elemen pemerintah dan partai politik gagal mengambil peran nyata mengatasi persoalan. Berbagai kecemasan dan ketegangan sosial justru telah efektif digunakan oleh TNI sebagai cara untuk memupuk supremasi TNI di hadapan rakyat.

“Bahwa seolah-olah TNI yang paling mampu mengatasi persoalan, sehingga memupuk legitimasi untuk TNI mengambil peran sosial politik lebih dari sekadar alat pertahanan,” kata Hendardi dalam keterangan persnya, Kamis (1/12/2016) di Jakarta.

“Langkah-langkah ini adalah satu paket dengan keinginan TNI hadir dalam mengatasi berbagai aksi yang mengganggu keamanan dan terorisme yang merupakan domain institusi Polri,” tambahnya.

Ancaman terhadap kemajemukan, menurutnya, bukan datang tiba-tiba tetapi dampak dari pengabaian para penyelenggara negara merumuskan kebijakan dan memberikan keteladanan yang kondusif bagi menguatnya keberagaman.

“Kita membutuhkan persatuan dan kesatuan yang genuine dan kokoh bukan sekedar seremonial persatuan dan kesatuan sebagaimana diprakarsai TNI kemarin. Kamuflase prakarsa aksi semacam itu sesungguhnya hanyalah obat penawar generik yang tidak akan memperkokoh kemajemukan sesungguhnya. Kerja merawat kemajemukan harus dimulai dari penegakan hukum atas mereka yang mengancam kemajemukan itu sendiri,” tegas Hendardi.

Lebih lanjut, Hendardi mengingatkan bahwa tugas utama merawat kemajemukan adalah tugas pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah.

“Karena itu Jokowi harus memimpin pemulihan kemajemukan yang terkoyak ini secara lebih komprehensif dan berkelanjutan dan tidak membiarkan merebaknya bentuk dan prakarsa kelompok-kelompok tertentu mengibarkan persatuan dan kesatuan seremonial dan imitasi yang hanya menguras energi serta membuat bingung publik,” pungkasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait