Selasa, 5 Juli 22

Haris Azhar

Koordinator KontraS Haris Azhar mendadak menjadi sorotan publik melalui media massa maupun media sosial. Namun kali ini bukan karena soal advokasi KontraS terhadap korban pelanggaran hak asasi manusia seperti yang sering dilakukan koordinator sebelumnya: Usman Hamid dan Munir. Haris Azhar disorot karena menulis di dunia maya tentang pertemuannya dengan terpidana hukuman mati kasus narkoba Freddy Budiman. Mengapa Freddy Budiman memilih Haris Azhar untuk menyampaikan keterlibatan oknum Polri, TNI dan BNN yang membantu jaringan peredaran narkoba.

“Nyanyian” Freddy Budiman ternyata berbuntut panjang. Banyak lembaga merasa kebakaran jenggot. Ketiga lembaga yang ditulis Haris Azhar meradang, lalu melaporkan ke polisi dengan sangkaan pencemaran nama baik melalui dunia maya yang diatur dalam UU ITE. Dukungan kepada Haris Azhar kemudian deras mengalir dari masyarakat termasuk dari Forum Akademisi #KamiPercayaKontraS.

Kapolri Tito Karnavian rupanya berpikir cukup jernih. Ia menghentikan (semntara) pemeriksaan terhadap terlapor Haris Azhar sembari membentuk tim investigasi – guna menelusuri keterlibatan oknum polisi dalam jaringan Freddy Budiman – yang dipimpin seorang jenderal polisi dengan tiga anggota dari non-polisi. Mereka adalah Hendardi (aktivis HAM, Koordinator Setara Institute), Effendy Ghazali (dosen Komunikasi Politik UI), dan Poengki Indarti (aktivis HAM, anggota Kompolnas),

Belum lama tim investigasi bekerja, ada laporan dari Ketua PPATK bahwa terdeteksi  tranfer mencurigakan, dengan nilai ratusan milyar, kepada petinggi polisi. Laporan ini belum dibuka ke publik. PPATK akan memberikan temuannya kepada BNN. Inilah titik terang bahwa apa yang ditulis Haris Azhar mengenai pengakuan Freddy Budiman bukan isapan jempol.

Sebagai orang yang pernah bergaul dengan bermacam tahanan dan narapidana di beberapa penjara di pulau Jawa, saya tak mudah percaya dengan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP). Kenapa? Sudah bukan rahasia lagi penghuni penjara itu tak mudah dipercaya. Kepada para pelaku pasal 378 KUHP jelas saya tak percaya. Pasal ini tentang penipuan. Kepada narapidana kasus lain juga saya tak mudah percaya. Semua tahanan dan napi itu berada dalam tekanan psikologis bahkan banyak yang stress. Karena itu omong besar yang ujungnya bohong atau menipu adalah salah satu modus atau cara mempertahankan diri (survive) di dalam penjara yang keras.

Apakah Freddy Budiman berbohong? Mari kita analisis. Sebagai gembong narkoba Freddy Budiman memiliki segalanya. Meskipun berada di balik tembok penjara, ia tetap bisa mengendalikan bisnisnya. Pemenjaraan dalam sistem hukum Indonesia adalah hukuman badan yang diberikan oleh negara kepada seseorang agar ia tetap berada di dalam penjara sesuai vonis pengadilan. Kata kuncinya terpidana dipenjara tak boleh kemana-mana.

Dengan uangnya yang tak berseri, Freddy Budiman bisa mendatangkan apa saja ke dalam penjara. Saat berada di LP Cipinang ia bebas menggilir dua kekasihnya dengan memanfaatkan ruang Kepala LP Cipinang. Menurut Vanny, salah satu kekasih Freddy, kekasihnya membayar sekitar Rp. 10 juta per jam kepada pihak Lapas. Belum lagi Freddy Budiman  memiliki banyak telpon seluler yang dipakai untuk berkomunikasi dengan jaringan bisnis narkoba.

Apakah Freddy Budiman dalam keadaan tertekan saat dipenjara? Saya kira Freddy memiliki segalanya bahkan mampu mendatangkan apa saja. Dengan begitu, ia bukan sosok yang tertekan dan putus asa. Freddy Budiman baru mulai kecewa dan tertekan ketika dirinya dipastikan sebagai salah satu yang mau dieksekusi mati. Ia merasa telah menyebar banyak uang tetapi kok tak mendapat imbalan sepadan. Karena itu ia mulai “menyanyi”.

Freddy Budiman cukup pintar memilih orang yang tepat untuk “curhat”. Tak mungkin Freddy berbicara dengan orang Lapas. Tak mungkin pula ia memberi informasi kepada polisi, BNN atau TNI tentang keterlibatan oknumnya dalam jaringannya.

Pilihannya jatuh kepada Haris Azhar. Koordinator KontraS ini tipikal orang yang lurus dan berani seperti Usman Hamid dan Munir. Dengan meminjam kredibilitas Haris Azhar dan KontraS, “nyanyian” Freddy Budiman kini kian nyaring terdengar. Dan tampaknya “nyanyian” itu tak sumbang. Beberapa nama bisa jadi akan tumbang. Mari kita buktikan!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait