Rabu, 6 Juli 22

Hari Wayang Dunia, Wayang Masterpiece Kebudayaan Dunia

Hari Wayang Dunia berlangsung di Indonesia, tepatnya di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Rabu (21/03/18), dengan isu utamanya, Wayang sebagai masterpiece kebudayaan dunia. Acara yang melibatkan organisais pemerhati wayang dunia, UNIMA – Union Internationale de la Marionnette ini, dihadiri cabang organisasi yang berasal dari Australia dan India.

Bahkan, Presiden UNIMA Inernasional, Dadi Pudumjee, turut hadir bersama Karren Smith (dari Australia)-Sekretaris Jenderal UNIMA Internasional, dan Runjena Panday dari UNIMA India. UNIMA Internasional dan Indonesia, bekerjasama dengan Badan Pengelola Anjungan Jawa Tengah dan Paguyuban Jawa Tengah, menyelenggarakan acara ini.

Sigale-gale - Wayang Samosir
Sigale-gale – Wayang Samosir

Dadi Pudjungee, menjawab pertanyaan wartawan, mengemukakan bahwa di setiap negara, memiliki karakteristik dan keunggulan dalam sajian perwayangannya, yang bertumpu pada akar kulturalnya masing-masing

“Khusus perkembangan apresiasi wayang di dunia, sangat bergantung pada perkembangan perwayangan di Indonesia, sebagai masterpiece dari perwayangan dunia,” papar Dadi Pudjungee, penuh antusiasme.

Perayaan ‘Hari Wayang Dunia’ merupakan tahapan menjelang Indonesia menjadi Tuan Rumah Kongres UNIMA Internasional dan Festival Wayang Dunia yang akan dilaksanakan di Gianyar Bali, April 2020 mendatang. Kongres ini direncanakan akan dihadiri tidak kurang dari 90 negara anggota organisasi UNIMA Internasional.

Wayang Koheti, Wayang Keturunan Cina di Indonesia
Wayang Koheti, Wayang Keturunan Cina di Indonesia

“Kongres UNIMA nantinya akan menjadi pentas wayang dunia. Karena semua wayang dari 90 negara, akan ditampilkan. Ini untuk menunjukan pada dunia internasional bahwa eksisteblnsi wayang masih terjaga,” jelas Drs. TA. Samudra Sriwidjaja, Presiden UNIMA Indonesia.

Samudra kemudian mengemukakan harapannya, agar Wayang, dalam acara tersebut harus bisa menyesuaikan dengan kondisi global dari dunia internasional, termasuk untuk mengakomodir dunian para millenials Indonesia, yang aktif dalam perkembangan dunia media sosial dengan teknologi IT dan digital didalamnya.

Selain penampilan Tari “Gatot Kaca” Gandrung, juga disajikan Wayang Potehi oleh Rumah Cinta Wayang Keturunan Tionghoa Indonrsia,  Boneka kayu dari Samosir  Sigale-gale, dan Wayang Kulit, lakon Kikis Tunggarana oleh dalang Ki Sutrisno SH., yang menjadi pemungkas pertunjukan.

Sebelum pergelaran diselenggarakan sarasehan menyoal wayang dalam konteks kekinian, yang menghadirkan para pembicara antara lain;  Drs. Suparmin Sunjoyo, Dr. Darmoko, Dr. Al Zastrouw, dan Dr. Maria Theresia Widyastuti.

Tari Gatot Kaca
Tari Gatot Kaca

Hadir juga Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia), Nurrachman Oerip, SH, (Penasehat UNIMA Indonesia), Dr. Al Zastrow Ngatawi (Councillor UNIMA Indonesia), Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Kepala Bidang Humas SENA WANGI), dan para budayawan lainnya.

Kepala Bidang Humas SENA WANGI, Sulistyowati S.Pd , MM, yang hadir di acara tersebut, menyampaikan, bahwa ada kesamaan visi antara UNIMA Indonesia dan SENA WANGI. Sejarah perjalanan kedua organisasi pewayangan ini, menurutnya, saling terkait.

“Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi kewajiban mengenal masa lalu (budaya) menjadi kebutuhan penting, sebagai sumber nilai, norma, adat, tradisi. Inilah yang menjadi visi UNIMA Indonesia dan SENA WANGI, meletakkan budaya Indonesia sebagai bagian sentral dari pembangunan budaya dunia di masa depan,” ujarnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait