Jumat, 2 Desember 22

Harga Daging Dibawah Rp 80 Ribu? APDI: Sangat Mungkin

Jakarta – Menanggapi perintah Presiden Joko Widodo kepada para menterinya untuk menurunkan harga daging sapi hingga di bawah Rp 80.000,- per kilogram, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan bahwa tingkat harga sebesar itu sangat mungkin.

Asnawi juga menilai adanya intervensi pemerintah terkait persoalan ini, tepat. Harga pemerintah bisa menekan harga pasar untuk tidak terlalu “gaduh”.

“Sebetulnya, karena pemerintah punya kekuasaan dan wewenang maka ketika pemerintah punya kemauan, apapun sangat mungkin dan bisa dilakukan,” kata Asnawi ketika dihubungi indeksberita.com melalui telepon selularnya, di Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Menurut Asnawi, jika pemerintah tidak melakukan intervensi maka yang akan berlaku adalah hukum pasar dimana harga daging ditentukan pelaku pasar.

“Selama ini pun pemerintah sebetulnya sudah relatif berhasil mengendalikan harga daging. Jika tidak, maka harganya pasti sudah liar sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Apalagi saat menjelang Ramadhan dan Lebaran,” ujar Asnawi.

Hal itu, kata Asnawi, terlihat dari “stabilnya” harga daging saat ini. Harga rata-rata daging di tingkat pedagang eceran pada periode Januari – Mei 2016 berada di kisaran harga Rp 112.000,- per kilogram.

Namun, Asnawi mengakui bahwa untuk menurunkan harga daging ke tingkat harga yang diinginkan Jokowi tidaklah mudah. Menurutnya, selain perlu kerja keras, upaya ke arah itu juga akan sangat tergantung pada sejauh mana kuatnya komitmen pemerintah.

Salah satunya, kata Asnawi, pemerintah terutama harus jelas dan tegas dalam mengatur mengenai segala hal terkait aturan dalam kebijakan importasi daging sapi. Sebab, persoalan yang terkait dengan kebijakan itu akan turut mempengaruhi harga daging di dalam negeri.

Saat ini, lanjut Asnawi, pemerintah telah merencanakan untuk mengimpor sapi dari India dengan kuota sebanyak 10.000 ekor.

Impor ini akan dilakukan untuk menutupi kebutuhan daging sapi di dalam negeri selama menjelang Ramadhan/Lebaran dan hingga akhir tahun ini.

Menurut Asnawi, kebijakan pemerintah itu tepat. Selain harganya lebih murah, impor sapi dari India juga akan membuat harga daging sapi di dalam negeri tidak ditentukan oleh patokan harga daging asal Australia, yang selama ini dominan menguasai pasar Indonesia.

“Ini bukan semata karena harga sapi dari India lebih murah. Tapi, semakin banyak pemerintah membuka pengadaan dari beberapa sumber, maka hal itu membuat harga daging sapi di dalam negeri bersaing dan akhirnya akan menguntungkan konsumen,” tutur Asnawi.

Ditanya, apakah harga yang disebut Jokowi akan merugikan pedagang daging eceran di pasar tradisional? Asnawi mengatakan, bahwa sebetulnya mereka justru tidak terlalu diuntungkan ketika harga daging sapi melambung tinggi. Keuntungan terbesar tetap dinikmati para pedagang besar.

“Selama ini para pedagang eceran justru sering dituduh mempermainkan harga. Padahal, mereka hanya menjual sesuai dengan harga pembeliannya,” ujarnya.

“Sederhananya begini, yang terpenting bagi pedagang daging eceran adalah ketersediaan daging terjaga dan jualannya laku. Percuma juga harga tinggi kalau penjualannya rendah,” pungkas Asnawi.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait