Rabu, 7 Desember 22

Hantu Film Horor Indonesia dan Hantu TNI

Kawan saya Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhamaddiyah Yogyakarta (UMY) , menulis “Bernafas dalam Hollywood: Seks dalam Film-film Indonesia Bergenre Horor pasca-1998”. Tulisan ini ada di buku “Media (Baru), Tubuh, dan Ruang Publik” dengan editor Budiawan. Setidaknya ada tiga perbedaan antara film horor pra 1998 dengan pasca-1998.

Menurut Fajar Junaedi, film horor pra 1998 menggunakan artis panas lokal, sementara  film horor pasca 1998 menggunakan artis panas asing yang di negara asalnya benar-benar membintangi film yang full nudity misalnya Maria Ozawa alias Miyabi, Rin Sakuragi, dan Terra Petrick. Film horor pra 1998 selalu berdasar pada legenda dan mitos lokal seperti “Nyi Blorong” dan  “Pembalasan Ratu Laut Selatan”, sementara film horor pasca 1998 karakternya berbeda seperti  “Tali Pocong Perawan”, “Suster Ngesot”,  dan “Suster Keramas”.   Film horor pra 1998 menggunakan setting lingkungan desa (rural), sementara film horor  pasca 1998 lebih banyak berorientasi pada setting kota (urban) misalnya di apartemen dan kafe.

Kita tak tahu persis apakah Menhan, Kapolri dan jajaranya suka menonton film Indonesia terutama film horor yang dibumbui seks. Di sana terjadi metamorfosa hantu di Indonesia. Tetapi yang kita ketahui dengan pasti, bagi Menhan, Kalpolri dan jajarannya, “hantu” paling menakutkan tetap sama sejak 1965 yaitu PKI. “Hantu” ini terus direproduksi sementara dunia dan Indonesia sudah berubah.  Karena itu, publik tak akan takut dengan “hantu” jadul.

Publik yang kini terbiasa dengan media sosial dengan cepat membicarakan sikap ingin membangkitkan kembali :hantu” lama ala TNI dan Polri. Melalui salah satu akun di Facebook simak status kritis berikut ini:

Tinggal tentara Indonesia dan Kim Jong Un:
Pak Jokowi sibuk membangun infrastruktur sampai menggandeng negara komunis terbesar di dunia, tetapi lupa belum merevolusi mental pandangan tentara tentang komunisme masa kini. Jika pandangan tentara tentang komunisme tak berubah, itu artinya sama dengan pandangan Kim Jong Un (Korea Utara) terhadap dunia. Chiina, Rusia, Vietnam berubah, bahkan Kuba juga berubah. Lima partai besar di Indonesia secara resmi menjalin kerjasama dengan Partai Komunis China. Ya, hanya mereka yang hidup dalam bayangan masa lalu yang tak bisa menyongsong masa depan.

Diangkatnya kembali isu bahaya komunisme dengan pelarangan pemutaran film berbau kiri, sweeping buku kiri, dan ada seorang memakai kaos Penikmat Kopi Indonesia ditangkap tentara, membuat institusi resmi pengguna kekerasan ini ramai dibicarakan di media sosial. Berikut status di Facebook tentang sweeping:

Sweeping:
Tentara Amerika : “Kami sering sweeping senjata di Baghdad”
Tentara Israel : “Kami biasa sweeping bom di Yerusalem”]
Tentara Filipina : “Kami rutin sweeping perahu Abu Sayyaf di perairan Mindanau”
Tentara Indonesia: “Kami berani sweeping buku dan kaos komunis di Jakarta”

Simak juga kritikan publik di bawah ini melalui media sosial Facebook yang berwujud dalam status lelucon:

Suatu Hari di Sebuah SD

Guru : “Coba anak-anak ceritakan buku apa yang kamu baca selama liburan?”
Yanti : “Saya membaca buku komik Jepang bu”
Guru : “Bagus. Tapi jangan lupa komik lokal juga bagus.”
Anton :”Saya membaca buku sejarah bu”
Guru : “Bagus, penting mengetahui perjalanan bangsa dan tokohnya. Kamu Budi, buku apa yang kamu baca?”
Budi : “Saya ndak baca buku bu”                                                                                         Guru : “Kamu tak membaca buku. Mau jadi apa kalau besar nanti?”
Budi : “Tentara bu”

Publik langsung menuduh TNI (dan Polri) yang ingin membangkitkan hantu jadul bernama PKI. Menteri Pertahanan kemudian menjadi sasaran kritik karena ikut memprovokasi isu komunisme yang sudah usang. Terlepas di tubuh TNI ada friksi pasca Simposium tentang 1965 di Jakarta, namun Menhan sendiri ada masalah. Ia dinilai tak sejalan dengan Presiden Joko Widodo dalam memandang Peristiwa 1965.

Lagi-lagi mari kita simak reaksi masyarakat terhadap Menhan kita yang mutunya kurang bagus dibanding Menhan yang kita punya sepanjang sejarah RI dari 1945 sampai 2016.

Siapa Menhan Paling Bodoh?
Ada 14 Menteri Pertahanan pada era sebelum Orde Baru. Dari 14 nama ada lima yang cukup menonjol yaitu: Mr. Amir Sjarifuddin, Drs. Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal APRI A. H. Nasution, dan Jenderal APRI Soeharto. Sementara pada era Orde Baru ada tujuh Menhankam/Pangab. Maraden Panggabean, M Jusuf, Poniman, LB Moerdani, Try Sutrisno, Eddy Sudrajad dan Wiranto.

Pasca reformasi ada tujuh Menhan. Dari tujuh Menhan hanya dua orang dari kalangan militer, Agum Gumilar bahkan tak sampai sebulan menjabat Menhan. Dari lima Menhan kalangan sipil, empat orang bergelar Prof. Berikut urutan Menhan era reformasi:
1. Prof. Dr. Juwono Sudarsono
2. Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D
3. Jenderal TNI (HOR) Agum Gumelar
4. Matori Abdul Djalil
5. Prof. Dr.Juwono Sudarsono
6. Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro
7. Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu

Dari penelusuran Menhan sejak Indonesia merdeka hingga hari ini, saya yakin Menhan sekarang paling tidak pintar. Karena itu jangan heran jika kebijakannya dan pernyataannya sangat tidak bermutu! Menhan yang tak sejalan dengan visi presiden sudah barang tentu berpotensi membebani presiden.

Menteri Pertahanan dianggap menjadi beban bagi Presiden Jokowi jika selalu berbeda visi dengan presiden. Menteri adalah pembantu presiden. Jokowi selalu mengatakan tak ada visi menteri, yang ada adalah visi presiden, dalam hal ini adalah Nawacita Presiden Jokowi.

Soal visi menhan, di bawah ini adalah guyonan publik terkait mutu menhan kita dibandingkan dengan menhan mancanegara.

 

Visi Menteri Pertahanan:

Menhan Amerika Serikat :
“Kami mempertahankan kepemimpinan global di tengah dunia yang terus berubah. Kawasan Asia Pasifik kami nilai sebagai kawasan paling dinamis di dunia, Amerika Serikat berupaya untuk kembali memperkuat kehadirannya guna merespon kebangkitan Cina.”

Menhan Israel :
“Tugas kami mempertahankan negara dari ancaman militer dalam dan luar negeri. Seperti strategi dalam sepakbola, bagi kami, menyerang adalah pertahanan terbaik”

Menhan Singapura :
“Kami mempertahankan negara kecil kami bahkan dengan memanfaatkan wilayah udara negara tetangga.”

Menhan Indonesia :
“Kami bertahan, pokoknya PKI itu jahat!”

Sekali lagi, TNI dan Polri tak akan berhasil menakut-nakuti publik dengan hantu jadul. Dunia sudah berubah, Indonesia juga berubah. Hantu di film nasional kita saja berubah kok hantu ciptaan tentara tak berubah. Kalau mau menakut-nakuti publik mbok ya cerdas sedikit dengan membuat hantu baru misalnya ISIS.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait