Jumat, 2 Desember 22

Hanta Yudha: Reshuffle Harus Hilangkan Dualisme Loyalitas Menteri

Jakarta – Sinyal bahwa Presiden Joko Widodo akan melakukan perombakan kabinet atau reshuffle terus menguat. Berbagai kalangan menilai pemanggilan sejumlah menteri dan pertemuan antara Jokowi dengan pimpinan partai politik pendukung pemerintah akhir-akhir ini, berkaitan dengan agenda reshuffle kabinet.

Menurut Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha, perombakan Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla harus betul-betul dilakukan berdasarkan penilaian dan evaluasi obyektif.

Hanta mengaku tidak mengetahui bagaimana proses evaluasi kabinet oleh presiden selama ini. “Sekarang kan tidak ada lagi lembaga seperti UKP4 yang dibuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya.”

Kendati demikian, Hanta mengatakan bahwa urgensi reshuffle  harus tepat dan terukur, terutama harus terkait dengan kepentingan untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat soliditas kabinet. Selain itu adalah faktor kepentingan konsolidasi koalisi.

“Kinerja kabinet sangat vital karena akan mempengaruhi tingkat kepuasan publik dan legitimasi pemerintahan,” ungkap Hanta kepada indeksberita.com, Rabu (13/11/2016).

“Banyak laporan dan publik juga sekarang bisa menilai mana menteri yang kinerjanya baik dan mana yang rendah,”ujarnya.

Rendahnya kinerja sejumlah menteri menurut Hanta dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah buruknya soliditas kabinet.  Karena itu, presiden harus menimbang faktor itu ketika melakukan reshuffle nanti.

“Artinya, diperlukan sosok menteri yang punya kemampuan menjalin komunikasi yang baik dan efektif, sehingga kekompakan kabinet terjaga dengan baik,” ujarnya.

“Jangan seperti sekarang dimana antar menteri justru terlihat tidak kompak dan bahkan cenderung membuat kegaduhan dan kebingungan di masyarakat,” tambahnya.

Hanta mensinyalir kegaduhan itu antara lain akibat adanya dualisme loyalitas pada sejumlah menteri. Sehingga sejumlah menteri terlihat seperti punya agenda lain di luar misi presiden. “Itu terlihat pada sejumlah isu yang muncul belakangan ini,” ujarnya, ketika ditanya siapa menteri dimaksud.

Selain faktor teknokratik, pertimbangan penting lain menurut Hanta adalah faktor politik. Perubahan orientasi beberapa partai politik, menurutnya, harus dimanfaatkan Jokowi untuk lebih memperkuat konsolidasi koalisi partai pendukung pemerintahannya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait