Selasa, 24 Mei 22

Festival Wedang Ronde dan Sambel Tumpang Kuliner Khas Salatiga

Kota Salatiga selain dikenal sebagai kota sejuk di lereng gunung Merbabu juga dikenal dengan makanan khasnya, wedang ronde dan sambel tumpangnya. Rasanya tak kan lengkap bila singgah ke kota ini tanpa sempat mengicipi kedua kuliner khas Salatiga tersebut.

Di malam hari akan dengan mudah menemui penjual wedang ronde di sepanjang jalan Jendral Sudirman. Ronde Mak Pari dan Ronde Jago bahkan namanya sudah mendunia. Sementara setiap pagi di sudut-sudut jalan kita akan menemukan penjual sambel tumpang dengan pembeli yang rela mengantri.

PAWARSA (Paguyuban Warga Salatiga di wilayah Jabodetabek) berusaha memperkenalkan dan mengangkat kuliner khas kota Salatiga itu menjadi identitas kota Salatiga. Usaha tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Fesival Wedang Ronde dan Sambel Tumpang pada hari Sabtu (8/7/2017).

Endi Aras Agus Riyono, ketua panitia Festival Wedang Ronde dan Sambel Tumpang memberikan apresiasi baik kepada pengunjung maupun peserta. Endi berharap agar Sambel Tumpang dan wedang ronde akan menjadi identitas Kota Salatiga.

“Kegiatan ini baru sekali dilaksanakan animo pengunjung juga peserta patut diapresiasi. Kegiatan ini mengangkat Sambel Tumpang dan wedang ronde muncul sebagai identitas kuliner khas kota Salatiga,“

Endi Aras menambahkan, sambel tumpang khas kota Salatiga mempunyai ciri khasnya yang tidak didapat di daerah lain. Tempe bosok yang dicampur sebagai bumbu sambel tumpang menghadirkan citarasa dan keunikan rasa tersendiri. Oleh karena itu. Kriteria penilaian yang utama adalah rasa, kebesihan, penyajian dan keramahan peserta kepada pengunjung.Prapti dan suami jualan Sambel TumpangNuryati dan suami jualan Sambel Tumpang

Nuryati (64) tidak menyangka bahwa Sambel Tumpang yang biasa dia jual di depan Candi Baru memenangi festival ini. Mengaku baru setahun berjualan sambel tumpang, membuatnya bersyukur bahwa sambel tumpangnya disukai oleh masyarakat.

“Membuat sambel tumpang itu gampang-gampang susah. Harus tau persis kapan tempe bosoknya bisa dipakai. Terlalu bosok nggak bagus. Kurang bosok juga nggak terasa, “ Ujar Nuryati.

Sejak muda Nuryati suka menerima pesanan masakan gudeg, sambel tumpang dan gudangan. Namun baru setahun terakhir memberanikan diri berjualan sambel tumpang dengan gerobak yang didorong bersama suami.

Nuryati menambahkan, selain terima pesanan masakan, sejak dulu saya jualan pakaian sampai sekarang. Kadang jualan sepi. Kadang ramai. Tapi kalau sambel tumpang ini selalu rame.  Kuncinya di tempe bosok dan koyor sapi. Lalu pelengkapnya  sayuran hijau dan irisan kates enom (papaya muda), serundeng, karak dan tahu kulit.

Senada dengan Nuryati, Prapti(51) tidak menyangka bahwa wedang ronde bikinannya memenangi festival ini. Penjual wedang ronde, wedang roti dan wedang kacang ini mengaku sudah 6 tahun berjualan di jalan Sukowati.

Kesederhanaan semangkok wedang rondeKesederhanaan semangkok wedang ronde

“Di kota Salatiga hamper sepanjang jalan Jendral Sudirman dipenuhi penjual wedang ronde. Belum lagi ronde yang terkenal seperti Ronde Jago dan Ronde Mak Pari, membuat persaingan antara penjual ronde jadi rapet,“ Ujarnya.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan pelanggan tetap dan pelanggan baru adalah terus menerus melakukan inovasi wedang ronde, ujarnya lagi.

Prapti dan Gerobak RondePrapti dan Gerobak Ronde

Topping rode buatan Prapti memang agak berbeda dengan wedang ronde pada umumnya. Selain kolang-kaling, kacang tanak, agar-agar dan klepon, Prapti juga menambahkan irisan buah belimbing dan beligo yang dibuat manisan. Semangkok ronde sekoteng panas mampu  menjadi penawar dinginnya malam di kota Salatiga.

Dibalik kesedarhanan wedang ronde dan kerumitan sambel tumpang ternyata menyimpan sejuta harapan, kedua kuliner tersebut bisa menjadi identitas kota Salatiga. Para penjual seperti Nuryati dan Prapti tentu berharap apa yang mereka lakukan mendapat tempat dihati masyarakat dan pemerintah kota Salatiga.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait