Sabtu, 2 Juli 22

Di Fakultas Kehutanan UGM, Jokowi Bertekad Perhutanan Sosial Harus Terwujud

Setelah memberikan kuliah umum pada acara Dies Natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada (UGM), Jokowi berkesempatan untuk dialog dengan sejumlah dosen, alumni, dan mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Dalam keaempatan tersebut ia berpesan agar hutan dikelola lebih baik, dan program perhutanan sosial harus terwujud.

Dalam kesempatan dialog dan silaturahmi, Jokowi kemudian mengungkapkan, bahwa ia pernah bercita-cita bisa bekerja di Perum Perhutani. Namun, saat itu ia tidak berhasil diterima di sana.

“Saya mendaftar tidak diterima, diterimanya jadi Presiden,” candanya yang disambut tawa.

Kepada rekan-rekan alumni yang bekerja di kehutanan, menitipkan pesan, agar pengelolaan hutan di Indonesia dapat menjadi lebih baik. Menurutnya, huta jika dikelola dengan baik, seperti yang dilakukan oleh negara Norwegia, dapat mensejahterakan rakyat.

“Dii Norwegia kandungan tambang banyak sekali, tetapi justru yang dikembangkan adalah sektor kehutanan. Hanya dari situ mereka bisa hidup menjadi negara dengan pendapatan yang sangat tinggi,” kata Jokowi.

Hal tersebut menurutnya, karena semua hal dikelola dan dikerjakan dengan detail. “Saya melihat dari hulu hingga hilir dikerjakan secara detail, yang kita tidak melakukannya. Mulai dari penanaman, pemeliharaan, dan penebangan semua dikerjakan dengan manajemen yang sangat detail sekali,” urainya.

Presiden Jokowi, di Fakultas Kehutanan UGM di depan alumni dan dosen, bertekad Perhutanan Sosial Harus Terwujud.
Presiden Jokowi, di Fakultas Kehutanan UGM di depan alumni dan dosen, bertekad Perhutanan Sosial Harus Terwujud.

Ia kemudian menyinggung soal anggaran besar yang dimiliki oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Dari anggaran yang besar tersebut, menurutnya tidak ada yang membuahkan hasil berupa hutan jadi selain Hutan Wanagama (Yogyakarta) dan Hutan Getas-Ngandong (perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur).

“Artinya apa? Sebenarnya kita bisa. Anggaran di LHK itu besar sekali. Jika tidak kita bangun hutan-hutan itu, nanti hutan konservasi habis. Kita bisa tetapi tidak mau mengerjakan,” tuturnya lagi.

Presiden melanjutkan, bahwa saat berkunjung ke sejumlah wilayah Nusantara, ia menemukan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki lahan yang sangat subur. Namun, sayangnya, lahan-lahan tersebut ditelantarkan begitu saja.

“Kita harus blak-blakan, yang paling penting ke depan harus diperbaiki,” katanya.

Tekad Perhutanan Sosial Harua Terwujud

Lebih lanjut, Jokowi juga menyinggung soal program Perhutanan Sosial untuk Rakyat. Menurutnya, rakyat harus diberikan kesempatan untuk dapat mengelola lahan agar menjadi lebih produktif.

“Lahannya ada, rakyat yang menanam, dan mereka harus dikorporasikan, harus menjadi sebuah kelompok yang besar. Dari sanalah rakyat menjual ke sektor hilir seperti pabrik mebel. Cara-cara itu yang saya tangkap di negara-negara Skandinavia,” urainya.

Presiden pun memastikan bahwa ia akan terus mengawasi urusan perhutanan ini mengingat anggaran besar yang dimiliki LHK. Ia bertekad, program perhutanan sosial harus terwujud.

“Akan saya kejar terus. Harus jadi barang karena triliunan dan bertahun-tahun. Artinya mulai saat ini, uang itu harus jadi,” ujarnya

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait