Kamis, 6 Oktober 22

Eksotisme Taman Batu di Perut Bumi Bogor

Kabupaten Bogor boleh dibilang kaya potensi alam yang indah. Tidak hanya lokasi wisata air terjun, danau hingga iklim sejuk pegunungan di sejumlah tempat tersebar, eksotisme goa di perut bumi yang menjadi ‘harta karun terpendam’ juga tak kalah mempesona.

Adalah Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor yang menyimpan rahasia pesona kawasan kars (goa alam). Komunitas Linggih Alam mendata terdapat 50 goa di lokasi ini. Tajur, merupakan gugusan kars (goa alam) yang membentang. Daerah tajur dikelilingi bukit-bukit hijau disela-sela batuan kapur. Kondisi jalan di sepanjang Tajur ini terbilang baik dengan adanya peran PT Indocement.

Bagi wisatawan susur goa yang ingin menikmati keindahan perut bumi, sebelumnya disarankan mempersiapkan perlengkapan seperti baju pekerja tambang, sepatu boot, cahaya penerangan di kepala (headlamp), baterai cadangan, tas anti air, handuk kecil, lilin, korek api, obat-obatan pribadi, dan juga tali pengaman (webbing).

Linggih Alam Anton 3

Selain itu, juga wajib menjaga lingkungan goa dengan tidak membuang sampah di dalam, tidak mengganggu kehidupan biota goa, dan juga tidak membuang air besar maupun kecildi dalam goa.

“Konon goa alam yang terdapat di daerah ini dulunya merupakan tempat persembunyian pasukan pemberontakan DI/TII pada dekade 70-an,” kata Anton Nugroho, Litbang Linggih Alam saat bersama Ketua Komunitas Linggih Alam, Enjang Anwarudin di sekretariatnya Leuwibilik, Desa Tajur, KecamatanCitereup, Kabupaten Bogor kepada indeksberita.com, Sabtu (20/8/2016).

Linggih Alam, sebut Anton, sejauh ini juga sudah menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor untuk memberdayakan potensi wisata 50 goa yang berada di wilayah Babakanmadang, Citeureup dan Klapanunggal.

“Pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor Wardani akan mengkaji terlebih dahulu ke-50 mulut goa tersebut, dimulai kedalamannya, tingkat kerawanannya dan memastikan apakah ada binatang liar yang tinggal di dalam goa tersebut. Kami sendiri dari Linggih Alam, sebelumnya sudah melakukan penyelusuran di beberapa goa tersebut,” tuturnya.

Linggih Alam Anton 2

Masih menurut mahasiswa Universitas Pakuan Bogor tersebut, dari 50 mulut goa sudah ada dua tempat yang dikenal masyarakat, yakni Goa Kekenceng dan Garunggang. Untuk petualang yang ingin berkunjung ke goa itu, disarankan membawa peralatan keamanan yang mencukupi. Sebab, di kawasan itu masih ditemui lokasi terjal dan berbahaya dengan kemiringan mendekati 90 derajat. Sebagian mulut goa berada di lahan milik salah satu perusahaan besar di Kabupaten Bogor.

“Perlu gunakan alat yang safety untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Sebab, medannya sangat curam serta membahayakan,” imbuhnya.

Untuk menuju kawasan wisata ini, jalannya terbilang terjal dan belum tersentuh aspal. Perlu waktu 30-60 menit dari kampung atau pos terdekat untuk mencapainya. Gua Garunggang tidak hanya terdiri dari gua yang memiliki kedalaman seperti ruang aula dan stalagnit, tetapi juga geopark.

Wilayah wisata Gua Garunggang ini merupakan bagian kawasan Perhutani. Sejatinya, Dinas Tata Ruang dan Pertanahan (DTRP) perlu campur tangan membantu melindungi kawasan ini agar gua dan batu-batuan terlindungi keberadaannya.

Linggih Alam Anton 6

Pesona perut bumi yang juga tidak kalah indahnya yakni Goa Kakenceng.

Perjalanan menuju goa ini tak bisa ditempuh dengan kendaraan biasa. Gua Karenceng mempunyai ciri khas stalagnit berbentuk menyerupai alat kelamin pria, tak jauh dari mulut gua. Pantauan media online ini, masuk ke Goa Karenceng ini sangat sempit, namun di dalamnya cukup luas. Di dalam goa tersebut juga terdapat air terjun. Di lokasi tersebut, pihak pengelola menyediakan jasa pemandu dan fasilitas alat safety seperti helm, jaket dan sepatu boot. Terkait tiket masuk, terbilang murah. Pengunjung hanya dikenakan biaya Rp6000.

Perjalanan menuju Goa Kakenceng bisa melalui Desa Karang Tengah, Babakan Madang atau lewat Kampung Parung Bonteng. Bila melalui Kampung Parung Ponteng, Desa Tajur bisa menggunakan kendaraan roda empat. Tapi, jika melalui Desa Karang Tengah hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua. Kemudian, setibanya di Pos Perhutani pengunjung bisa berjalan kaki menuju lokasi. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait