Selasa, 5 Juli 22

Eksekusi Lahan Ricuh di Desa Serangan Denpasar Bali

Proses eksekusi lahan seluas 94 are di Kampung Bugis, Desa Serangan Denpasar Bali, berlangsung ricuh. Eksekusi atas lahan yang didiami oleh 36 KK tersebut, merupakan buah dari konflik pertanahan sejak tahun 2009. Konflik itu terjadi diantara ahli waris Hj. Maisaroh yang memiliki sertifikat atas lahan tersebut, dengan warga yang mendiaminya sejak ratusan tahun lalu. Ahli waris Hj. Maisaroh mengajukan eksekusi kepada Pengadilan Negeri Denpasar, berdasarkan Putusan MA No.8031/PTT/2012. Keputusan itu memenangkannya, dari tuntutan warga.

Warga yang mendengar bahwa eksekusi lahan akan dilakukan, sudah mulai berkumpul sejak pagi (3/1/2017). Mereka berkumpul di jalan yang menjadi akses masuk ke kampung, untuk menggagalkan eksekusi. Dan pihak keamanan yang dilibatkan sejumlah 1.278 personil, terdiri dari berbagai unsur, termasuk Polri dan TNI, berkumpul di lapangan I Made Bulit.

Sekitar pukul 9.00 aparat dengan alat berat dan water canon mulai bergerak, dan warga dengan poster dan spanduk terbentang, bersama penasehat hukumnya, bernegosiasi agar eksekusi ditunda. Tetapi eksekusi tetap dilakukan. Pukul 11.00, aparat membubarkan secara paksa kerumunan massa yang menghalangi masuknya alat berat. Massa kemudian melempari aparat dengan batu bahkan panah ke arah aparat. Aparat lalu mulai bertindak tegas dengan menyemprotkan massa dengan water canon, gas air mata dan peluru karet. Bahkan pengacara warga, Rizal Akbar Poetra, cedera mata kirinya terkena gas air mata.

Suasana eksekusi semakin mencekam ketika anak-anak dan perempuan, berteriak histeris dan menangis. Setelah massa berhasil dibubarkan, alat-alat berat mulai menghancurkan bangunan satu persatu. Masyarakat sendiri lalu dikumpulkan di lapangan Desa Sarangan.

Pihak kepolisian, melalui Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo, menjelaskan bahwa aparat hanya bertugas untuk mengawal dan mengamankan proses eksekusi itu. Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah mengamankan beberapa orang provokator, termasuk diantaranya seorang yang dianggap telah melukai seorang petugas dengan anak panah. “Barang buktinya berupa anak anah, tombak ikan, batu, kayu, besi, pentungan, yang digunakan untuk menghadang petugas sudah kami amankan,” ujar Hadi Purnomo.

Dia juga menjelaskan bahwa aparat keamanan yang terluka akibat lemparan anak panah sudah dalam perawatan. “Yang terkena tembakan anak panah, sudah dievakuasi ke RS Prima Medika, sedang di operasi untuk mencabut mata anak panahnya,” ujarnya lagi.

Sementara Pengacara Warga, Rizal Akbar menyatakan akan tetap menperjuangkan hak-hak warga. “Eksekusi ini jelas salah, penetapannya tidak sesuai” ujar Rizal.

Eksekusi yang dipimping langsung oleh Ketua PN Denpasar Mustafa Jakfar, merupakan eksekusi yang ke tiga kalinya. Setelah sebelumnya, 2 kali upaya eksekusi gagal di tahun 2014. Pada eksekusi 17 Juni 2014, juga terjadi bentrokan berdarah, antara warga dengan ormas yang dilibatkan dalam eksekusi saat itu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait