Rabu, 6 Juli 22

Dunia Perbankan Bisa Dorong Peningkatan Partisipasi Ekonomi Perempuan

Sektor swasta merupakan kunci dalam mewujudkan prinsip kemajemukan dan inklusivitas dalam pembangunan dan ekonomi. Strategi komprehensif antara pemerintah, sipil harus menyertakan sektor bisnis termasuk perbankan karena pada akhirnya dunia usahalah yang menciptakan lapangan kerja dan melakukan rekrutmen tenaga kerja.

Tidak saja memberlakukan prinsip gender equality opportunity ke dalam manajemen perusahaan bank sebagaimana dimandatkan Uni Eropa (EU), prinsip tersebut juga diberlakukan perusahaan untuk menjalankan bisnis mereka.

Hal ini dijelaskan oleh Betsy Nelson, Vice President dan Chief Risk Officer dari European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) dalam sesi Empowering Women for Economic Growth pada Konferensi Women G20 di London, Selasa (12/7/2016).

Strategi tersebut diberlakukan sebagai syarat pengajuan kredit ataupun saat penilaian pinjaman pribadi untuk usaha. Dampak bagi peningkatan partisipasi kerja perempuan sudah menjadi prinsip dalam usaha.

EBRD menggunakan logika untung dan rugi ketika melakukan studi dan menyimpulkan strategi tersebut justru sejalan dengan misi bank sebagai lembaga komersil.

“Betsy menjelaskan bahwa mereka berpikir ‘keuntungan’ jangka panjang terutama¬† perlunya mengurangi kemiskinan sehingga bisnis tetap berjalan. Tidak ada strategi yang lebih efektif bagi pengurangan kemiskinan kecuali¬† menguatkan ekonomi kelompok perempuan,” kata peserta konperensi dari Indonesia, Eva Sundari kepada indeksberita.com melalui pesan selularnya.

Eva Sundari melihat bahwa perbankan Indonesia seharusnya mengikuti logika dan perilaku baru dalam berbisnis tersebut, sehingga menjadi terobosan untuk memajukan perekonomian Indonesia di sektor riil.

“BI dan OJK sebagai regulator bisa berperan konkrit dan signifikan dalam mendorong penyempitan ‘gender gap’ dalam pasar tenaga kerja melalui kebijakan yang mengalahkan peran perbankan dan lembaga keuangan non bank untuk merespon kebutuhan perlunya kesetaraan gender demi mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata anggota DPR dari PDI Perjuangan itu.

“(Hal) ini penting, mengingat sektor pasar tenaga kerja di Indonesia masih menjadi faktor penyebab rendahnya daya saing RI dalam pertarungan global,” pungkas Eva.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait