Kamis, 7 Juli 22

Dulu Pencegah Banjir, Kini Penyumbang Banjir?

Lain dulu, lain sekarang. Jika Kota Bogor sebelumnya terasa asri dengan banyaknya hijau pepohonan di beberapa tempat, kini berangsur berganti bangunan beton. Daerah yang memiliki ciri khas dengan kontur lahan berundak dengan ketinggian 190 sampai 330 meter dari permukaan laut ini memiliki udara sejuk dengan rata-rata suhu 21,8 celcius.

 Kota Bogor memiliki dua sungai besar seperti Sungai Ciliwung dan Cisadane. Serta, 5 buah anak sungai yaitu Sungai Cipakancilan, Sungai Cibalok, Sungai Ciparigi, Sungai Ciharhashas dan Sungai Cidepit yang semua airnya bermuara ke Teluk Jakarta. Kota Bogor yang memiliki luas 11.850 hektar ini merupakan daerah penyangga Ibukota Jakarta yang berjarak sekitar 60 kilometer.

“Karena hampir setiap setiap hari turun hujan, rata-rata dalam setahun hingga 70 persen, maka Kota Bogor ini berjuluk ‘Kota Hujan’. Hal itu juga yang membuat Belanda sejak masa kependudukannya dulu menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian,” tutur budayawan Sunda, Felix Martha saat diwawancarai indeksberita.com, Jumat (3/6/2016).

Semasa kependudukan Belanda, pelestarian lingkungan hidup menjadi perhatian utama. Hal itu terbukti dengan dibangunnya Bendungan Katulampa  di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor yang mulai dioperasikan pada tahun 1911. Bendungan rancangan Van Breen ini merupakan bendungan tertua yang ada di Bogor.

“Dari data menyebutkan, pembangunan bendungan Katulampa sudah dimulai direncanakan sejak tahun 1889, setelah banjir besar melanda Jakarta pada tahun 1872. Bendungan Katulampa diresmikan pada tanggal 11 Oktober 1912 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Alexander Willem Frederick Idenburg. Tujuannya memantau debit air Ciliwung, bendungan Katulampa juga difungsikan sebagai sarana irigasi untuk mengairi lahan seluas 5000 hektar,” tuturnya.

Namun setelah tahun 1990, area persawahan di Bogor dan Jakarta tidak lagi tersisa dan berubah menjadi pemukiman.

“Buntutnya fungsi irigasi dari Bendungan Katulampa menjadi tidak maksimal akibat tidak adanya lagi lahan-lahan persawahan di Bogor dan Jakarta,” ujarnya.

Pada bagian lain, Dadang Haedarsono Padmadiredja, sejarahwan yang juga budayawan Sunda membenarkan pencegahan banjir sudah sejak dulu dipikirkan Belanda pada masa kependudukannya agar air tidak menggenangi ibukota Jakarta.

“Sebelum ada Kanal Barat dan Kanal Timur di Jakarta, ada Kanal Selatan di Bogor, Belanda membangun Kanal Selatan yang notabene adalah sodetan Ciliwung-Cisadane pada tahun 1854. Saluran itu dulu disebut Westerlokkan atau Kanal Barat Ciliwung. Alirannya dari Empang melalui Paledang, Jembatan Merah, Ciwaringin, Jalan Semeru, dan Cimanggu Barat. Seterusnya, kanal bercabang ke kiri menuju Cilebut dan ke kanan ke Jalan RE Martadinata dan Jalan Ahmad Yani dan masuk lagi ke Ciliwung. Namun, sayangnya Kanal Selatan belakangan ini terkesan tidak terurus ditandai dengan merebaknya bangunan ditiap sisinya,” ujarnya panjang lebar.

Soal pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan banjir belakangan ini seolah tidak lagi menjadi prioritas. Terbukti saat ini di Kota Bogor banyak bangunan komersil disepanjang Sungai Cibalok, Tajur, Kecamatan Bogor Selatan. Obral izin membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang dinahkodai Walikota Bima Arya Sugiarto seolah tutup mata dengan maraknya bangunan yang melanggar garis sempadan sungai. Bahkan, hingga membuat penyempitan sungai serta semakin berkurangnya area terbuka hijau atau lokasi tangkap air.  Tidak hanya itu, sekitar 16 hotel dan 15 rumah sakit swasta berdiri pada waktu yang nyaris bersamaan di awal kepemimpinan Bima Arya Sugiarto menjabat kepala daerah Kota Bogor.

“Ya, ada belasan hotel dan rumah sakit swasta di Kota Bogor belakangan ini. Soal banyaknya bangunan komersil di sepanjang Sungai Cibalok, Tajur memang sudah ada sejak sebelum Bima Arya menjabat sebagai walikota. Tapi, memang tidak kunjung dilakukan pembongkaran. Mungkin, karena keterbatasan anggaran pemkot yang tidak mencukupi untuk penggantian,” tutur anggota Komisi C, DPRD Kota Bogor, Laniasari Davis. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait