Selasa, 5 Juli 22

Dua Warga Palestina Tewas di Aksi “Hari Kemarahan” Terkait Yerusalem

Dikabarkan, sedikitnya dua warga Palestina tewas setelah bentrok dengan pasukan IsraelĀ  ketika ribuan rakyat Palestina berdemonstrasi di Jalur Gaza menentang keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Seusai menunaikan Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, para jemaah berjalan menuju gerbang Kota Tua yang dibatasi dengan dinding dengan meneriakkan “Yerusalem adalah milik kita, Yerusalem adalah Ibu kota kita,” dan “Kita tidak memerlukan kata-kata kosong, kita membutuhkan batu dan Kalashnikov,”.

Dikutip dari Reuters, tentara Israel menembak mati seorang pria Palestina di dekat perbatasan Gaza, ini merupakan kematian pertama yang dikonfirmasi sejak dua hari berlangsungnya kerusuhan dalam “Day of Rage” (hari kemarahan) yang diserukan rakyat Palestina.

Pejabat rumah sakit di Gaza menyebutkan korban berikutnya meninggal lantaran luka-luka yang dideritanya. Sementara seorang tentara Israel mengatakan ratusan warga Palestina menggulirkan ban yang terbakar dan melemparkan batu ke tentara di seberang perbatasan.

“Selama kerusuhan tentara IDF menembakkan senjata secara selektif terhadap dua orang penghasut dan penembakan sudah dikonfirmasi,” ujarnya, Sabtu (9/12/2017).

Layanan Ambulans Red Crescent Palestina menyebutkan lebih dari 80 warga Palestina terluka di kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki oleh Israel karena tembakan dan peluru karet. Puluhan lagi menderita gangguan pernafasan yang disebabkan oleh gas air mata. Dikonfirmasi ada 31 orang terluka pada Kamis (7/12/2017).

Aksi Day of Rage “Hari Kemarahan” diserukan oleh faksi politik berkuasa di Palestina,Fatah di mulai pada Rabu 19 Juni 2017. Seruan ini kembali menggema seusai pidato Presiden Trump terkait Yerusalem pada Rabu (6/12/2017. Dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Washington tidak lagi berperan sebagai perantara untuk mencapai perdamaian di Palestina.

Di Hebron, Betlehem, dan Nablus, puluhan warga Palestina melemparkan batu ke tentara Israel yang melepaskan tembakan gas air mata. Sedangkan di Gaza, yang dikendalikan oleh kelompok Islam, Hamas, menyerukan agar para jemaah melakukan protes dengan menggunakan pengeras suara.

Bukan hanya di Palestina, aksi Day of Rage juga dilakukan umat Islam diseluruh dunia yang pada hari Jumat (8/12/2017), untuk mengungkapkan solidaritas kepada warga Palestina dan kemarahan atas kemunduran pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Trump.

Sementara itu Hamas telah menyerukan pemberontakan baru di Palestina seperti “Intifada” pada 1987-1993 dan 2000-2005, yang mengakibatkan ribuan warga Palestina dan Israel menjadi korban tewas.

Pemimpin Hamas Faathy Hammad menyerukan jika ada siapapun yang memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem maka mereka akan menjadi musuh Palestina dan menjadi target faksi-faksi Palestina.

“Kami menyatakan sebuah Intifada sampai pembebasan Yerusalem dan seluruh Palestina,” serunya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait