Jumat, 9 Desember 22
Beranda Featured DPR Ingatkan Menteri Susi Hentikan Kriminalisasi Nelayan Kecil

DPR Ingatkan Menteri Susi Hentikan Kriminalisasi Nelayan Kecil

0
DPR Ingatkan Menteri Susi Hentikan Kriminalisasi Nelayan Kecil

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengingatkan Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk tidak mengkriminalisasi nelayan kecil. DPR menilai Peraturan Menteri KKP Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pelarangan Penggunaan Alat Tangkap Cantrang atau pukat harus dicabut karena merugikan nelayan kecil.

Daniel menambahkan, kebijakan terkait pelarangan penggunaan pukat bagi nelayan sangat merugikan nelayan kecil. Ia menilai kebijakan ini menyebabkan nelayan tidak bisa melaut karena di kapal kecil yang dimiliki tidak memiliki alat tangkap selain pukat.

Politisi PKB itu menyayangkan beberapa nelayan yang nekat melaut justru ditangkap oleh Polisi Perairan (Polair). Karena itu, ia berharap Mentri KKP bisa merasakan penderitaan nelayan kecil dan segera mencabut Permen No. 02 Tahun 2015, mengingat banyaknya protes dari nelayan kecil diseluruh Indonesia.

“Apapun peraturannya termasuk khususnya peraturan pelarangan cantrang itu harus diberikan waktu. Kebijakan itu sangat tidak tepat kalau justru pemerintah mempersulit masyarakatnya. Bahkan ekstrim sekali kalau para nelayan itu dipenjarakan,” ujar Daniel di gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (14/4/2016).

Terpisah, Ketua Asosiasi Nelayan Lamongan, Agus Mulyono mengaku tidak tahu harus berbuat apa ketika banyak anggota nelayan asosiasinya ditangkap dan dipenjarakan oleh Polair.

Agus berharap Komisi IV DPR RI lebih memperhatikan nasib nelayan kecil. Menurutnya, hadirnya Permen ini membuat nelayan kecil kehilangan mata pencarian.

“Karena kebijakan Menteri KKP, banyak teman-teman kami yang ditangkap dan dipenjara tanpa tahu salahnya. Ini masalah kehidupan. Nelayan kecil ini harus dibina, bukan dibinasakan. Ini juga soal mencari kerja, bukan mencuri. Kenapa melaut di negeri sendiri malah dipenjarakan? Peraturan itu sangat mematikan,” ujar Agus.