Rabu, 6 Juli 22

Djarot Pilihan Ideologis PDIP dalam Pilkada DKI

Gagasan bagaimana membangun bangsa dan negara yang sesuai dengan ideologi suatu partai, adalah agenda utama partai yang berkarakter ideologis. Dan hal tersebut akan lebih bisa diwujudkan, jika kontestasi elektoral dimenangkan dan kandidat yang akan dimenangkan merupakan kader internal

Paradigma Memenangkan Calon yang diusung

Dalam politik, kemenangan adalah segalanya. Bahkan dalam politik tak ada yang benar atau salah, tetapi menang atau kalah. Sehingga “mendukung yang akan menang” menjadi paradigma sebagian besar politisi/organisasi politik kita dalam mengusung seorang menjadi kandidat dalam kontestasi elektoral.

Istilah calon yang akan menangĀ adalah istilah untuk mereka yang menjadi bakal calon/calon kandidat terkuat, berdasarkan hasil survey. Ada keuntungan mendukung calon yang akan menang, yaitu peluang untuk memenangkan kontestasi elektoral lebih besar, sehingga upaya untuk memenangkannya akan lebih mudah.

Tapi bagi partai ideologis, politik bukan hanya memenangkan kontestasi elektoral, juga menyangkut perjuangan gagasan dan ideologi. Gagasan bagaimana membangun bangsa dan negara yang sesuai dengan ideologi suatu partai, adalah agenda utama partai yang berkarakter ideologis. Dan hal tersebut akan lebih bisa diwujudkan, jika kontestasi elektoral dimenangkan, dan kandidat yang akan dimenangkan merupakan kandidat yang berasal dari kader internal. Sehingga paradigma mendukung bakal calon yang akan menangĀ harus perlahan diubah menjadi memenangkan kader yang akan didukung.

Kesempatan lagi bagi PDI Perjuangan

Mencalonkan kader partai, walau di awal kader yang dicalonkan tersebut bukanlan calon yang akan menang, sudah beberapa kali dilakukan oleh PDIP. Bahkan beberapa kali, kontestasi elektoral tersebut berhasil dimenangkan. Ganjar Pranowo di Pilkada Propinsi Jawa Tengah, adalah contoh bagaimana kader internal yang dicalonkan dan berhasil dimenangkan. Walaupun di awalnya peluang Ganjar untuk memenangkan Pilkada Jawa Tengah lebih kecil dibanding lawannya saat itu.

Perjalanan Jokowi saat mulai dari Solo dan DKI, adalah contoh lainnya. Dalam survey awal di kedua daerah tersebut, Jokowi kalah unggul dibanding lawannya. Baru ketika di Pilpres, Jokowi sudah unggul sejak awal.

Ada contoh luar biasa lainnya, saat bagaimana PDIP menetapkan kader internal dalam pilkada, saat PDIP mencalonkan Rieke Dyah Pitalioka dan Teten Masduki menjadi calon gubernur/wakil gubernur Jawa Barat yang diselenggarakan pada 24 Februari 2012. Banyak orang yang tak menduganya sama sekali. Pertama, mencalonkan kandidat perempuan di wilayah dimana perempuan dianggap sulit menang. Kedua, dana kampanye mereka yang jauh lebih kecil dibanding lawannya. Ketiga, PDIP tidak berkoalisi dan yang dilawan adalah petahana yang diusung beberapa partai dengan pendukungnya sangat “galak” meniupkan isu agama dan sentimen anti komunis. Itu menjadi kejutan. Dan secara tegas Megawati saat memutuskan memilih Rike-Teten sebagai pasangan kandidat PDIP, menyatakan bahwa ini merupakan pilihan ideologis.

Walaupun pada akhirnya Rieke dan Teten tidak berhasil memenangkan pilkada tersebut, tetapi bisa menduduki posisi ke 2, meraih suara 28%. Suara tersebut jauh melebihi suara PDIP dalam pemilu legialatif tahun 2009 yang hanya 16%. Pilihan ideologis itu semakin tidak sia-sia, saat setahun kemudian dalam pemilu legislatif 2014 suara PDIP meningkat hampir 25% (dari 16% menjadi hampir 20%), dan memenangkan pemilu legislatif di Propinsi Jawa Barat.

Proses yang paling berharga dalam mencalonkan kader internal adalah bagaimana mesin partai “dipanaskan” dan diuji militansinya. Kerja politik memenangkan kontestasi elektoral adalah kerja besar, yang memerlukan partisipasi semua elemen partai dan masyarakat/relawan, sehingga semangat gotong royong dan kerja kolektif diuji. Semua bisa berhasil jika proses awal dalam menentukan siapa kader partai yang akan dipilih, seleksinya dilakukan dengan terbuka, kalau bisa sudah dapat ditentukan jauh sebelum pilkada berlangsung. Tujuannya agar proses konsolidasi bisa segera dilakukan, dan masih ada banyak waktu untuk penggalangan dan pemenangan.

Pilkada DKI menjadi kesempatan lagi bagi PDIP untuk melakukan eksperimen ideologisnya dalam pilkada. Tidak akan sia-sia jika kemudian pilihan ideologis diambil. Apa lagi Pilgub DKI jaraknya tidak lama dengan pemilu legislatif 2014. Ini menjadi latihan pemanasan mesin, sekaligus memenangkan pilkada DKI dan pemilu legislatif.

Saya yakin kemungkinan dipilihnya kader internal PDIP sebagai kandidat gubernur DKI masih terbuka lebar. Jika banyak pihak yang pesimis terhadap kemungkinan itu, yang mereka harus ingat adalah: Bukankan selama ini Megawati selalu memiliki kejutan-kejutan tersendiri? Mari kita tunggu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait