Selasa, 24 Mei 22
Beranda Featured Dirgahayu Polisi

Dirgahayu Polisi

Seorang petugas pengantar surat kebingungan mencari alamat. Pasalnya ada sebuah surat yang ditujukan kepada Tuhan. Pak Pos akhirnya menyerahkan ke kantor polisi terdekat. Pak Polisi terpaksa membuka surat yang pengirimnya anak SD. Isinya minta uang ke Tuhan untuk membeli sepeda seharga Rp. 500.000. Polisi itu merasa kasihan, ia membuka dompetnya mengeluarkan Rp. 100.000, lalu meminta sumbangan ke rekan sekerja di kantor kecil itu. Hasilnya Rp. 450.000. Suatu hari ia menemui anak SD si pengirim surat. “Nak ini ada surat dari Tuhan,” kata polisi. Usai menghitung, anak itu langsung berkata, “Dasar polisi, uang pemberian Tuhan saja dikorupsi!”

Lelucon di atas mungkin pernah kita dengar dengan versi yang berbeda. Intinya adalah pesan bahwa di mata masyarakat citra polisi masih korup. Tak hanya polisi berpangkat rendahan melainkan juga para jenderal. Tak heran jika saat ini masih sering kita dengar ungkapan bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama polisi tidur, kedua patung polisi, dan ketiga Jenderal Hoegeng.

Di kalangan masyarakat, kita juga mendengar kalau bisa – dalam hidup ini – jangan sampai berurusan dengan polisi. Masyarakat masih percaya berurusan dengan polisi itu merepotkan. Membuang waktu, tenaga, juga uang. Karena itu, meskipun ada orang kehilangan barang, ia tak akan melaporkan ke polisi. Sebab ada ungkapan, melaporkan kemalingan seekor kambing malah bisa hilang seekor sapi. Polisi bahkan ada yang mengecilkan laporan warga, “Cuma kemalingan TV saja lapor polisi.” Tulisan besar di setiap kantor polisi “Melayani dan Melindung” ternyata belum cukup efektif mengajak masyarakat mempercayai polisi.

Saya sendiri punya pengalaman berurusan dengan polisi. Pada Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2003 saya ikut menyewa lapak kecil untuk berjualan kaos bertema politik. Salah satu kaos yang dipermasalahkan adalah kaos bergambar Karl Marx dengan tulisan MARX. Namun huruf R pada tulisan itu menyerupai atau mirip gambar palu dan arit. Kawan saya seorang karikaturis yang menjaga kios itu ditangkap polisi. Semua barang dan kaos saya termasuk desain lain disita polisi. Suatu saat kawan saya menelpon bahwa ia baru saja menonton acara kriminal di TV, dan ada polisi sedang memeriksa para kriminal dengan memakai kaos saya (tentu bukan yang MARX).

Seharusnya setelah reformasi bergulir dan polisi berpisah dari TNI, polisi makin profesional. Namun harapan itu belum terwujud. Polisi masih lebih banyak mengedepankan kekerasan ala militer saat berhadapan dengan aksi damai masyarakat sipil. Belum lagi dalam penanganan terorisme, seolah polisi tiada kendali. Banyak tersangka teroris yang tertembak mati tak sempat diadili.

Susahnya keluar dari bayang-bayang TNI barangkali tercermin dari lelucon tentang ucapan terima kasih di bawah ini. TNI dan Polri mempunyai cara sendiri mengucapkan terima kasih sesuai matranya. TNI Angkatan Darat: “Terima kasih seluas-luasnya”. TNI Angkatan Laut, “Terima kasih sedalam-dalamnya.” TNI Angkatan Udara: “Terima kasih setinggi-tingginya.” Dan, untuk Polri: “Terima kasih sebanyak-banyaknya.”

Ya, sebanyak-banyaknya. Di kalangan polisi berpangkat rendahan dulu ada istilah “Prit jigo”. Artinya sekali semprit dapat jigo, entah berapa nilai rupiahnya kalau diukur sekarang. Konon polisi lalu lintas yang menilang warga yang melanggar sering menawarkan perdamaian. “Kita damai saja, kalau di pengadilan ribet dan mahal,” katanya. Karena itu ada yang bilang polisi pantas menerima Nobel Perdamaian, karena mencintai damai.

Saya sering menonton acara SUCI 6, Stand Up Comedy Indonesia 6 di Kompas TV dan mendukung salah satu comik bernama Mr Gamayel. Ia seorang polisi – asal Kalimantan – yang lucu dan tampil membuat gerr penonton dengan lelucon tentang polisi. Setiap muncul di awal open mic ia berteriak, “Surat-suratnya mana!?” Hanya di era sekarang ini polisi bisa meledek polisi. Kritikannya segar terhadap institusinya sendiri menjadi bahan pemancing tawa. Salah satu joke Gamayel yang masuk tiga besar SUCI 6 itu adalah, “Saya ini polisi tapi saya tak suka polisi, saya sukanya polwan…..”

Kini polisi telah berbenah. Bahkan baru-baru ini polisi menjadi hero. Saat penumpasan teroris di kawasan Sarinah jalan Thamtin, Jakarta, polisi langsung mendapat pujian dari masyarakat bahkan mancanegara. Polisi juga makin dicintai warga ketika mempromosikan slogan TURN BACK CRIME. Sebuah kampanye dari Interpol (Organisasi Polisi Internasional) agar kita semua melawan balik kejahatan. Kini banyak warga ikut memakai slogan tersebut pada topi, kaos, stiker di mobil dan barang lain.

Beruntung kita mempunyai presiden yang berani berimprovisasi dan tak tunduk kepada partai yang mengusungnya menjadi presiden. Presiden tak memilih calon Kapolri yang terindikasi kasus rekening gendut. Presiden Jokowi malah memilih seorang jenderal paling muda di jajaran jenderal polisi. Meski muda bukan berarti miskin prestasi dan visi ke depan. Kita berharap Kapolri baru Tito Karnavian bisa mengubah polisi menjadi lebih profesional melayani dan melindungi masyarakat. Dirgahayu Polisi Republik Indonesia!