Minggu, 25 September 22

Diprotes Warga, Sistem ‘One Way’ di Puncak akan Dikaji Ulang

BOGOR – Akhir pekan dan hari libur di jalur Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, kerap diberlakukan satu arah atau one way. Hal itu diberlakukan karena volume kendaraan yang melintas mengalami peningkatan dibanding hari biasa.

Namun, sistem rekayasa lalu lintas ini akan dikaji ulang oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bersama Kepolisian Resort Bogor di Jalur Puncak dengan membentuk tim khusus yang terdiri dari Sat Lantas dan Dishub.

One way akan dilakukan kajian Polres Bogor untuk mengurai kemacetan. Sebenarnya bukan penolakan, hanya minta dikaji soal waktunya,” kata Bupati Bogor Nurhayanti kepada indeksberita.com, baru-baru ini.

Terkait sistem satu arah itu, Bupati Bogor mengatakan, banyak keluhan pengusaha serta warga yang disampaikan kepadanya.

”Warga disana (red.Puncak) menginginkan waktunya makan siang dan sholat magrib jangan diberlakukan one way. Muspida, nantinya juga akan bertemu dengan warga puncak guna menindaklanjuti hal ini,”tuturnya.

Terpisah, Wakapolres Bogor, Kompol Dian Setyawan menyebutkan, sejauh ini belum ada pilihan untuk mengurai kemacetan di kawasan Puncak. Apalagi, upaya pelebaran jalan tidak mungkin dilakukan karena lintasan tersebut merupakan jalan nasional dan perlu campur tangan Kementrian Perhubungan,

“Kementerian dong seharusnya, bukan Pemda. Nanti akan diadakan rapat dengan pihak terkait, hasilnya apa nanti lihat saja ya. Kenapa kita lakukan one way. One way ini salah salah satu cara yang paling efektif untuk mengurai kemacetan Jalur Puncak,” tukasnya.

Dian melanjutkan, dalam pengkajian ini semua pihak yang terkait harus melihat akar permasalahan di Jalur Puncak.

“Masalah Jalur Puncak ini kompleks. Dari tahun ke tahun jalan tetap segitu-segitu. Sementara kendaraan di Bogor setiap minggu bertambah sekira 2.000 sampai 3.000 kendaraan baru,” ujarnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, warga, LSM dan pengusaha di jalur lintasan Puncak memprotes kebijakan sistem one way yang disebutnya menyulitkan warga setempat karena tak mengenal waktu. Aksi protes tersebut dilakukan dengan memajang spanduk dan poster menuntut penghapusan sistem one way di sepanjang Jalur Puncak, mulai dari Gadog hingga Cisarua.

“Keberatan warga sangat beralasan. Jika warga mengalami masalah seperti ada yang akan melahirkan, sakit sehingga perlu ke rumah sakit, bahkan meninggal dunia yang akan diantar ke pemakaman saat hari libur, terpaksa terhenti karena sistim buka tutup,” kata Siska Ferdiany, warga Naringgul, Tugu Utara, Cisarua. (ek

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait