Kamis, 6 Oktober 22

Diah Pitaloka: Negeri ini Miskin Ekonom Ber Pancasila

BOGOR – Indonesia saat ini terbilang miskin ekonom yang ber-Pancasila. Akibatnya, kepentingan masyarakat seringkali terpinggirkan. Tak jarang terjadi pencemaran lingkugan, hingga menjual hajat hidup orang banyak seperti sumber daya alam.

Demikian dikatakan Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kota Bogor-Cianjur, Diah Pitaloka saat menggelar Sosialiasi 4 Pilar di Ruang Rapat 1, Balaikota Bogor, Jalan Juanda, Sabtu (20/2/2016).

“Andai kita punya banyak ekonom yang memikirkan dan mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila, tentu negeri ini akan lebih maju. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Fakta menerangkan banyak sumber daya alam kita terkuras, seperti pencemaran lingkungan, kerusakan hutan dan lainnya,” tukas politisi PDI Perjuangan di depan ratusan aktivis mahasiswa dan pemuda.

Pancasila itu tidak hanya sebatas ideologi, sambungnya, tapi harus menjadi nafas hidup dalam keseharian. Diah juga menyentil soal kebijakan kekinian Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto terkait mulai dari larangan perayaan As Syura hingga menghadiri peresmian kantor Hizbuz Tahrir Indonesia (HTI).

“Sejatinya, Indonesia lahir dari keragaman. Dari keragaman tumbuh persaudaraan. Kita punya sejarah berproses melalui ketertindasan, penekanan. Nah, jika berada di posisi yang kuat, idealnya tidak melemahkan yang lemah. Bima Arya, selaku kepala daerah seyogyanya bisa menjadi pengayom semua golongan, semua kepentingan,” ujar Diah Pitaloka panjang lebar.

Sementara, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Mihradi, yang ikut hadir menjadi pembicara dalam diskusi tersebut menegaskan, Pancasila yang merupakan produk dalam negeri belakangan seolah malah terabaikan.

“Filosofi Pancasila itu sebenarnya indah dan saling berkaitan antar sila dengan sila yang lain. Contohnya, Ketuhanan Yang Maha Esa penerjemahannya adalah berke-Tuhan-an yang menghormati sesama manusia hingga saling membantu antar sesama sebagai amanat sila kelima,” tuturnya.

Dia menegaskan, Pancasila dari waktu ke waktu akan tetap berlaku.

“Ber-Indonesia, berarti ber Pancasila. Tanpa itu, keragaman tidak akan pernah menjadi persaudaraan. Itulah warisan berharga pendiri bangsa yang akan terus berlaku hingga masa mendatang,” tutupnya. (*)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait