Jumat, 9 Desember 22

Denny JA: Ahok Bisa Kalah, Ini Lima Alasannya

Jakarta – Menurut Direktur Eksekutif Lingkaran Survey Indonesia, Denny JA, bakal calon / Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok masih bisa dikalahkan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017 mendatang.
“LSI sudah melakukan riset pada bulan Maret 2016. Banyak data yang belum diungkap lembaga survei lain yang sebenarnya bisa memberikan gambaran utuh,” ujarnya
“Ahok memang kuat, tapi di atas 70 persen publik merasa Ahok bisa dikalahkan,” tambah Denny.Menurutnya, 10 bulan sebelum hari H Pilkada, posisi Ahok memang cukup kuat. Dukungan Ahok di atas 50 persen. Kepuasan atas kinerjanya di atas 60 persen.

Sentimen Ahok bisa dikalahkan merata di aneka segmen pemilih: kaya-miskin, muda-tua, apapun agamanya, apapun partai pilihannya.

Mengapa Ahok bisa dikalahkan? Ini lima alasan Denny JA.

1. Banyak contoh opini publik berbalik dalam waktu 10 bulan. Waktu 10 bulan adalah waktu yang panjang untuk perubahan dukungan, contohnya:

a). Pada pilkada DKI 2012, H-10 bulan, hasil survey menempatkan Fauzi Bowo di atas 50 persen, sedangkan Jokowi di bawah 10 persen. Hasil akhir: Jokowi justru menang.
b). Pilkada Jateng 2013, H- 10 bulan, Bibit Waluyo di atas 50 persen, Ganjar Pranowo  di bawah 10 persen. Hasil akhir: Ganjar Pranowo justru menang
c). Pilpres 2004, H- 10 bulan, Megawati di atas 50 persen,  SBY di bawah 10 persen. Hasil akhir  SBY justru menang2. Lebih dari 40 persen Muslim Jakarta tak bersedia dipimpin non-muslim. Perjuangan anti Ahok dalam 10 bulan ke depan menjadi kuat karena motif keagamaan. Terlepas kita suka atau tidak, ini perilaku pemilih Jakarta yang terpotret.

3) Partai besar tak ingin Ahok menang jika Ahok menggunakan jalur independen. Yang mereka khawatirkan bukan Ahok di DKI, tapi meluasnya eforia calon independen di daerah lain. Ini membahayakan eksistensi partai dalam pilkada.

Jika Ahok menang, warung partai politik akan sepi diminati di pilkada berikutnya. Partai besar akan sekuat tenaga bersatu agar ini tidak terjadi.

Jika akhirnya partai besar mendukung Ahok mungkin karena Ahok membatalkan maju lewat jalur independen. Marwah partai besar jelas terganggu jika mereka hanya menjadi pelengkap saja dari Ahok yang sah maju sebagai calon independen.

Partai besar yang bersatu melawan Ahok karena alasan survival, itu akan menjelma mesin raksasa.

4. Lebih dari 40 persen pemilih tak suka karakter Ahok. Mereka suka ketegasan Ahok. Namun pernyataan kasarnya di depan publik tak disukai. Misalnya ketika ia menghardik seorang ibu dengan pernyataan “Ibu Maling” yang beredar luas.

5. Lebih dari 40 persen pemilih tak suka kebijakan publik Ahok yang terkesan tebang pilih. Tegas dan keras terhadap rakyat kecil dalam kasus penggusuran. Namun lemah terhadap para Taipan dalam kasus reklamasi pantai, yang dianggap merusak lingkungan dan potensial menenggelamkan beberapa pula kecil.

LSM yang bergerak di bidang penggusuran, lingkungan hidup dan hak asasi manusia potensial menjadi lawan Ahok.

“Dengan lima alasan ini, Ahok masih mungkin dikalahkan. Namun tentu saja, Ahok juga masih mungkin menang. Ini tergantung apa yang terjadi dalam ruang publik Jakarta 10 bulan ke depan,” pungkas Denny.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait