Jumat, 30 September 22

Cegah Radikalisme, KPAI Tegaskan Pentingnya Keluarga

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme di kalangan generasi muda.

“Keluarga adalah dasar sekaligus benteng untuk hal-hal negatif termasuk radikalisme,” kata Niam di Jakarta, Selasa (6/9/2016)

Oleh karena itu, kata Niam, orang tua harus membekali anak soal nilai-nilai kemanusiaan dan cinta damai sejak kecil.

Niam mengatakan KPAI sangat menaruh perhatian pada penanganan anak-anak di bawah umur yang terpapar radikalisme dan terorisme.

“KPAI akan secara khusus melakukan penanganan anak yang terpapar ideologi terorisme dengan pendekatan preventif dan reedukasi,” katanya.

Menurut dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, penanganan anak yang terpapar ideologi radikal terorisme tidak bisa dilakukan dengan pendekatan keamanan semata, namun juga harus melalui pendekatan pendidikan.

“Kita menginginkan paparan radikalisme dan terorisme tidak masuk ke anak-anak dan tidak menjadi bibit-bibit baru untuk terorisme di masa depan,” kata Niam.

Sementara itu penggiat perdamaian dan pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail mengatakan bahwa nilai-nilai tentang perdamaian dan cinta kasih sangat mengena di hati anak-anak dan remaja melalui aksi-aksi nyata.

“Nilai-nilai luhur dan pendidikan kebangsaan bagi saya itu tidak ditanamankan lewat upacara atau jargon-jargon, tapi dengan melakukan kerja-kerja pelayanan masyarakat,” katanya.

Misal, siswa didorong terlibat aktif membersihkan sampah di sekitar lingkungan sekolah, keluarga mendorong anak-anaknya untuk mewakafkan waktu mereka untuk berbagi dengan anak-anak yang tidak lebih beruntung dari mereka, atau membuat narasi alternatif perdamaian di media sosial.

“Saya tidak suka upacara, tapi saya kira saya tidak lantas menjadi radikal bukan? People learn more from concrete experience. Itu intinya,” kata pembuat film dokumenter “Jihad Selfie” itu.

Menurut dia, narasi alternatif di media sosial sangat penting untuk pengajaran soal nilai-nilai baik dan mengimbangi narasi radikal. Ia menilai masih sangat sedikit upaya secara sistematis untuk melakukan narasi tandingan terhadap propaganda kelompok-kelompok ini.

“Hal ini terdengar basi, tapi itu adalah fakta penting yang perlu segera disikapi dalam jangka waktu dekat, mengingat sudah ada beberapa kasus beberapa anggota organisasi Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, yang loncat pagar dan bergabung dengan kelompok kekerasan,” katanya

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait