Jumat, 12 Agustus 22

Bupati Nunukan: Dalam Bingkai Pancasila, Tak Ada Mayoritas dan Minoritas

Nunukan – Aksi Nusantara Bersatu yang digagas oleh Panglima TNI hari Rabu (30/11) ini serempak digelar di segenap penjuru wilayah tanah air, tak terkecuali di Nunukan, Kalimantan Utara. Di kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Negeri Sabah-Malaysia itu, pada pagi tadi tampak ribuan orang dari berbagai elemen baik dari TNI, Polri, PNS, Pelajar, oOrmas Pemuda, ormas Keagamaan, para aktivis sosial dan lapisan Masyarakat lainya berkumpul memadati pelataran Alun-Alun pusat Kota Nunukan. Walau dengan pakaian dan latar belakang yang berbeda, ribuan peserta aksi seperti mengkrikrarkan diri bahwa mereka adalah satu, hal tersebut dilambangkan dengan kain Merah Putih yang mereka lingkarkan di setiap kepala mereka.

Acara yang di gelar mulai dari Pukul 08:00 sampai Pukul 11:00 tersebut diwarnai dengan berbagai hiburan kesenian daerah, puisi, lagu-lagu perjuangan, dan orasi kebangsaan oleh Bupati Nunukan. Walaupun di bawah terik matahari, namun itu tak menyurutkan para peserta aksi dalam memeriahkan acara tersebut. Malah dari pantauan indeks berita.com di lapangan, semakin siang justru para peserta aksi semakin bertambah.

Orasi Kebangsaan yang disampaikan Bupati Nunukan, Asmin Laura, mampu menghipnotis ribuan orang yang hadir untuk bangkit kembali rasa nasionalismenya dan seperti menyadarkan semua yang hadir di acara itu untuk kembali memahami arti dari sebuah kemajemukan.

15193597_1613382788967550_6499139588069693319_n

Dalam orasinya Laura mengatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini hampir melupakan identitas negara dan karakter bangsa sendiri sehingga menurutnya gampang dipecah belah oleh pandangan, pemahaman, dan ideologi lainya yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

“Jangan biarkan Pancasila berada di lorong yang sunyi. Sudah saatnya kita mewujudkan diri sebagai manusia Pancasila yang seutuhnya untuk NKRI. Sebagai pribadi yang berpancasila, kita tidak boleh lagi membangun pola fikir yang sempit dengan menonjolkan sebagai mayoritas dan merasa kecil sebagai minoritas,” kata Laura.

Lewat orasinya, Laura juga mengingatkan bahwa dalam diri manusia yang ber-Pancasila, tak mengenal masyarakat mayoritas dan minorotas. Menurutnya, bangsa ini adalah satu tubuh dalam fungsi yang berbeda, untuk itu tidak ada jalan untuk saling merendahkan, menghinakan, dan menistakan komponen yang lain namun hendaknya pada saat satu bagian merasa sakit, bagian tubuh lainya akan merasakan sakitnya.

15196058_1176569655758113_8323356193411645572_o

Selanjutnya Laura juga menyinggung tentang geografis Nunukan yang merupakan wilayah perbatasan. Untuk itu ia meminta warga negara yang tinggal di beranda depan NKRI untuk saling menjaga agar situasi tetap kondusif karena menurutnya kondisi di tapal batas juga merupakan wajah dari sebuah negara.

“Hindari pola fikir yang merasa paling merasa benar, pupuk rasa kedewasaan dalam bersikap agar keberagaman di daerah ini menjadi sebuah rahmat agar terhindar dari benih-benih fikiran yang mampu menimbulkan ketersinggungan apalagi sampai menimbulkan konflik horizontal. Semua jenis konflik itu tidak memiliki keuntungan apa-apa dan justru akan menimbulkan kerugian dan luka yang akan selalu dikenang. Percuma kita membangun daerah ini dengan menguras keuangan yang tidak sedikit jika kita mudah terprovokasi oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab dan tidak menutup kemungkinan itu adalah titipan dari pihak-pihak yang menginginkan terpecahnya persatuan dan kesatuan nasional,” paparnya.

15196014_1176569199091492_6460922357051641453_o

Laura juga berpesan kepada semua peserta aksi untuk lebih dewasa dalam menghadapi isu-isu yang belakangan hari semakin marak dan ia meminta agar masyarakat jeli dan cerdas menyikapi kabar yang belum tentu kebenaranya terutama yang sering dihembuskan lewat media sosial.

“Marilah kita bersama-sama menahan diri untuk menjaga sensifitas sosial dan jangan menggunakan isu-isu primordial yang akan mengakibatkan timbulnya konflik di tengah masyarakat. Kita jaga Nusantara ini dengan semangat cinta tanah air menuju Indonesia yang hebat,berkemajuan dan berdaya saing khususnya di tapal batas ini,” ajaknya.

Sebelum menutup orasinya, dengan mata berkaca-kaca Laura bertanya pada semua orang yang hadir di acara itu dengan pertanyaan.

“Kita adalah jiwa yang bersaksi dalam bingkai NKRI. Kita adalah terdiri dari suku dan agama. Kita adalah kita yang menjaga tapal batas. Untuk itu, saat ini kita berdiri disini, untuk apa saudaraku?”

Ribuan massa aksi langsung menjawab serempak: “untuk Indonesia Jaya, untuk Indonesia Bersatu”.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait