Rabu, 6 Juli 22
Beranda Editorial Bulan Mei Bulan Reformasi

Bulan Mei Bulan Reformasi

0

Bulan Mei sudah sepantasnya kita sebut bulan reformasi. Bulan untuk mengenang akhir dari pemerintahan otoriter Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto 18 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 21 Mei tahun 1998. Jatuhnya pemerintah Soeharto yang selama 32 tahun hanya berfikir tentang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, dengan tulang punggung para konglomerat yang menjadi kroninya.
Dan Soeharto jatuh bukan karena keinginannya, tetapi dipaksa turun melalui aksi damai ribuan mahasiswa dan masyarakat Indonesia. Dan aksi yang menjatuhkan Soeharto pada 18 tahun yang lalu. merupakan puncak dari perlawanan yang sudah dilakukan sebelumnya, sejak awal Soeharto berkuasa. Puncak dari kemuakan masyarakat terhadap pemerintahan yang otoriter dan koruptif.

Kita tentu ingat Malari, yang dipimpin oleh Hariman Siregar. Judil Heri dkk. Kita juga masih ingat gerakan mahasiwa 78 yang menolak pembubaran Dewan Mahasiswa dan pemberlakuan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Kordinasi Kemahasiswa). Dan tentu kita tidak lupa bahwa sepanjang tahun 80’an sampai 90’an, terjadi perampasan tanah masyarakat untuk dibangun lapangan golf dan perumahan mewah. Dan di periode tersebut mahasiswa melakukan advokasi dan pendidikan politik pada masyarakat, untuk melawan semua kebijakan dan tindakan yang merampas hak rakyat. Semua itu harus dibayar dengan tindakan represif, penangkapan, penculikan, dan pemenjaraan oleh mereka yang melawan. Pemberangusan dan pemberedelan terhadap pers juga terjadi di semua periode perlawanan tadi. Melihat perjuangan yang begitu panjang, lintas generasi dan lintas sektor masyarakat, dan terjadi di seluruh wilayah Indonesia, tentu tidak berlebihan jika kita menjadikan bulan Mei sebagai bulan reformasi.

Jika hari Kebangkitan Nasional merupakan peringatan atas lahirnya semangat kebangsaan pertama kalinya, yang ditandai dengan organisasi Budi Utomo, organisasi yang pertama kali memiliki semangat kebangsaan dan semangat kemerdekaan Indonesia. Sedangkan peringatan Reformasi adalah peringatan atas keberhasilan, bukan sekedar munculnya semangat perlawanan untuk kemerdekaan. Keberhasilan dalam memperjuangkan perubahan. Keberhasilan untuk mengakhiri pemerintah yang otoriter. Keberhasilan melawan penjajahan yang dilakukan oleh penguasa yang berasal dari bangsa kita sendiri.
Menetapkan bulan Mei sebagai bulan reformasi akan menjadikan generasi muda bangsa ini kedepannya untuk tetap memiliki semangat pembebasan dan perlawanan. Menetapkan bulan Mei sebagai bulan reformasi, sekaligus menyadarkan bahwa otoritarian dan korupsi adalah aib bagi bangsa ini.

Ini bukan keputusan yang mudah. Perlawanan pasti akan terjadi. Orde baru dalam wujud maupun semangat masih ada. Bahkan mereka menginginkan Soeharto diangkat sebagai pahlawan. Bisa kita bayangkan kalau itu terjadi, betapa malunya kita pada bangsa-bangsa lain di dunia. Seolah mental kita sebagai bangsa sudah sedemikian rusaknya, menjadikan pemimpin koruptor dan penindas menjadi pahlawan dan menjadi figur yang harus di contoh.