Senin, 27 Juni 22

Boy Rafli: Tangkap 3 Teroris, Densus 88 Gagalkan Tiga Skenario Bom Ramadan

“Ketiganya bisa menjadi pelaku pengeboman, terutama PHP untuk jadi pengantin”

Jakarta – Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri berhasil menggagalkan skenario pengeboman selama bulan Ramadan 1437 H, setelah setelah menangkap tiga anggota jaringan terorisme di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/6/2016).

Ketiga teroris yang ditangkap itu adalah Priyo Hadi Purnomo alias PHP (34 tahun), Jefri Rahmawan Norcahyono alias Ustadz Jefri (27) dan Feri Novendi.

Menurut Boy,  Priyo Hadi Purnomo alias PHP (34 tahun), bahkan sudah disiapkan sebagai ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri.  Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan pada 17 Ramadan ini dengan sasaran anggota Polri.

“Ketiganya bisa menjadi pelaku pengeboman, terutama PHP untuk jadi pengantin,” kata Boy di Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Dari hasil pemeriksaan sementara terhadap ketiga orang tersebut dan temuan barang bukti menunjukkan, mereka terpengaruh ajaran radikal saat menjadi napi di LP Porong dan seruan juru bicara kelompok Negara Islam Irak Suriah atau ISIS, Syaikh Abu Muhammad Al Adnani di media sosial, yang menganjurkan aksi teror di negara masing-masing.

Kronologis
Priyo alias PHP, warga Tuban dan tinggal di Lebak Timur 3D No 18, RT 005 RW 010 Tambaksari Surabaya, ditangkap petugas Densus 88 di Jalan Gembong-Kenjeran, Surabaya, pukul 13.45 WIB.

Lima menit berselang, Jefri Rahmawan Norcahyono alias Ustadz Jefri, warga Turen, Malang, ditangkap di Jalan Kali Anak, Kenjeran, Surabaya.

Sedangkan Feri Novendi, warga Kelurahan Dukuh Setro, Tambaksari, ditangkap di depan rumahnya pada pukul 15.30 WIB.

Boy menambahkan, PHP adalah mantan narapidana LP Porong. Ia dihukum 2 tahun karena kasus narkoba dan bebas pada April 2014. Selama di dalam lapas, Priyo terpantau petugas mendapatkan pengaruh radikalisme dari napi kasus terorisme, Shibgohtulloh dan Maulana Yusuf Wibisono.

Karena itu, sekeluar dari penjara, penyelidik Densus 88 terus memantau pergerakan Priyo. Dari hasil penyelidikan, rumahnya sering didatangi tamu bernama Jefri yang menginap selama sepekan terakhir.

Jefri sendiri adalah penjaga rumah dan yayasan milik Salim Mubarok alias Abu Jandal. Yayasan itu dikelola oleh Helmi Alimudin dan kerap dijadikan tempat penampung istri dan anak dari kelompok yang berangkat ke Suriah.

Jefri juga merupakan buronan atau DPO (Daftar Pencarian Orang) dari Polres Malang Sektor Turen karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dari hasil penggeledahan di rumah Priyo,  polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa tiga bom siap ledak seukuran bola kaki berjenis daya ledak tinggi (high explosive), dua pucuk senjata api laras panjang, satu pucuk senjata api laras pendek, empat butir peluru, laptop, sangkur dan telepon genggam yang telah direkayasa menjadi pemicu bom jarak jauh.

Adapun dari kamar kos Jefri, polisi menemukan bubuk bahan peledak dan cairan kimia seberat 6 kg, serta 20 rangkaian bom setengah jadi berdaya ledak rendah (low explosive).

Diketahui, mereka merencanakan melakukan serangan pengeboman dengan target anggota Polri di tempat terbuka, khususnya Surabaya dan umumnya di Jatim. Mereka akan mengeksekusi rencana tersebut pada 17 Ramadan ini.

“Beberapa terungkap dari hasil pemeriksaan awal, mereka bermaksud melakukan penyerangan di sejumlah tempat umum, kantor-kantor petugas. Jadi, mereka menyasar kepada petugas-petugas yang terlibat di dalam operasi di lapangan seperti Operasi Patuh Jaya dan Operasi Pekat,” ungkap Boy.

“Mereka juga telah menyiapkan rencana pengeboman bunuh diri,” sambungnya.

Menurut Boy, rencana serangan teror kelompok ini mirip dengan kelompok yang melakukan serangan bom bunuh diri di Pos Polisi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016 lalu. Target mereka polisi yang sedang bertugas di tempat terbuka.

Tiga Skenario Bom Ramadan
Diduga kelompok ini telah melakukan perencanaan dan persiapan pengeboman sejak dua tahun lalu atau sejak Priyo bebas dari LP Porong.

Bahkan, mereka telah melakukan survei tempat sasaran aksi teror, yakni Pos Polisi di Jalan Mirarah Galaxy, Surabaya, Jatim. Bahkan, mereka menyiapkan tiga rencana untuk meledakkan pos polisi tersebut.

Pertama, mereka akan meledakkan Pos Polisi dengan metode sensor cahaya. Mulanya, bom diletakkan di Pos Polisi tersebut pada malam hari dan meledak saat terkena cahaya matahari.

Jika gagal dengan cara tersebut, bom akan diledakkan dengan pemicu telepon genggam dari jarak jauh.

Rencana terakhir jika bom tersebut gagal meledak, seorang pelaku akan menjadi pengantin dengan melakukan bom bunuh diri dengan masuk ke dalam pos polisi tersebut. Rompi berisi bahan peledak akan disiapkan untuk menyukseskan aksi ‘Si Pengantin’.

Saat ini, penyidik Densus 88 sedang menelusuri sumber bahan peledak dan senjata api hingga sumber pendanaan.

“Kami masih menelusuri dari mana bahan peledak ini didapatkan karena tentunya tidak mudah mendapatkan bahan seperti ini,” kata Boy.

Selain itu, penyidik Densus tengah menelusuri keterlibatan pelaku lain dan adanya bahan peledak dan senjata api lain yang masih disembunyikan oleh para pelaku

Ia menambahkan, keberhasilan tim Densus 88 menggagalkan aksi teror kelompok ini adalah hasil pengolahan informasi dari intelijen Polri.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait