Jumat, 30 September 22

Boy Rafli: Polisi Tak Gunakan Senjata Api dalam Pembubaran Massa

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menegaskan bahwa aparat kepolisian tidak menggunakan senjata api dalam upaya membubarkan pengunjuk rasa yang melakukan aksi damai di sekitar Monumen Nasional dan Istana Merdeka pada Jumat (4/11/2016) malam.

“Sekitar pukul 19.30 WIB diputuskan langkah pembubaran dengan menembakkan gas air mata yang bunyinya seperti suara ledakan senjata (api). Itu bukan senjata api melainkan pelontar gas air mata,” kata Boy kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (5/11).

Pembubaran massa menggunakan gas air mata, menurutnya terpaksa dilakukan aparat kepolisian karena selepas Isya terjadi tindakan yang memicu provokasi yakni penyerangan petugas polisi oleh seorang laki-laki dengan menggunakan bambu runcing, yang disusul dengan pelemparan botol, batu, kayu, dan benda-benda berbahaya lainnya ke arah petugas.

Pengunjuk rasa, tambah Boy, juga mencoba mendekati kompleks Istana Merdeka dengan merusak barikade keamanan dan bahkan merusak kendaraan aparat kepolisian dan TNI.

“Tercatat ada tiga kendaraan yang dibakar (massa) dan 18 rusak karena dilempari batu. Padahal ini kendaraaan dinas negara yang dibeli dari uang rakyat untuk membekali para petugas yang berdinas,” kata Boy.

Insiden tersebut mengakibatkan 160 warga sipil sempat dirawat di RS Budi Kemuliaan karena gas air mata yang sangat pekat.

Sementara dari aparat keamanan dilaporkan 79 personel polisi dirawat jalan, dua polisi, lima anggota TNI, dan satu petugas pemadam kebakaran dirawat intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Pihak kepolisian juga mengonfirmasi satu korban meninggal dunia atas nama Syachrie Oy Bcan (55), dengan dugaan sementara karena penyakit asma.

“Kami sangat menyesalkan peristiwa ini terjadi. Kami menghormati dan mengawal warga masyarakat yang berunjuk rasa, ternyata niatnya bukan hanya unjuk rasa tetapi ingin menyerang petugas,” ungkap Boy.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait