Senin, 27 Juni 22
Beranda Featured Bom Brussel Hanya Sedikit Mempengaruhi Harga Minyak

Bom Brussel Hanya Sedikit Mempengaruhi Harga Minyak

0
Bom Brussel Hanya Sedikit Mempengaruhi Harga Minyak
New York – Serangan bom yang telah menewaskan puluhan orang di Brussel, Belgia, hanya berpengaruh sedikit terhadap harga minyak dunia pada Selasa (Rabu), 23/3/2016.

AFP melaporkan, patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun tujuh sen menjadi ditutup pada 41,45 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei bertambah 25 sen menjadi menetap di 41,79 dolar AS per barel di perdagangan London.

Para analis mengatakan serangan seperti itu cenderung menghambat aktivitas ekonomi yang dapat menempatkan beberapa tekanan pada harga minyak, terutama karena Bandara Zaventem Brussel adalah salah satu dari dua target pengeboman, yang diklaim dilakukan oleh kelompok ISIS.

“Karena ini adalah bandara yang sangat populer di Eropa, ada kekhawatiran bahwa orang akan membatalkan liburan, dan kemungkinan bahwa permintaan untuk bahan bakar jet akan turun,” kata¬†Phil Flynn dari Price Futures Group.

Sebelumnya, sebagaimana dilapirkan Bloomberg, Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla el-Badri mengatakan di Wina pada Senin (21/3), sebanyak 15 negara atau 16 negara akan bergabung dalam pembicaraan tentang pembatasan produksi di Doha pada 17 April mendatang.

Badri juga memperkirakan minyak mentah akan mengalami kenaikan “moderat” daripada pencapaian tingkat-tingkat tinggi sebelumnya.

Kementerian minyak Qatar telah mengundang Iran untuk pertemuan, sekalipun Teheran bersikeras tidak siap menerima pembatasan produksi. Prospek pengecualian Iran telah membuat harga minyak mentah dunia di bawah tekanan, meskipun peningkatan produksi Iran sejauh ini bisa diimbangi oleh penurunan tajam produksi oleh anggota OPEC lainnya, terutama Irak.

Menurut laporan bulanan terbaru OPEC, Iran memproduksi 3,1 juta barel minyak mentah per hari pada Februari 2016, naik dari 2,9 juta pada Januari.

Sementara, total produksi oleh kartel turun 175.000 barel per hari pada Februari menjadi rata-rata 32,28 juta barel per hari, terutama karena penurunan tajam dalam produksi Irak dan penurunan lebih kecil di Nigeria dan Uni Emirat Arab.

Analis CMC Markets, Michael McCarthy, yang berbasis di Sydney, mengatakan pedagang tidak berharap banyak dari pertemuan Qatar. “Saya akan terkejut jika banyak orang di pasar minyak banyak berharap untuk pertemuan ini,” katanya kepada AFP.