Jumat, 1 Juli 22

Bom Brussel dan Tantangan Keamanan Belgia yang Unik

Brussels – Peringatan tentang kemungkinan adanya serangan sebetulnya telah dikeluarkan pemerintah Belgia akhir pekan lalu. Peringatan dikeluarkan setelah pihak keamanan negara itu menangkap orang paling diburu di Eropa, Salah Abdeslam, Jumat (18/3/2016). Salah adalah pelaku utama teror Paris, November 2015 lalu.

Peringatan ternyata segera terbukti. Belgia seketika dikejutkan dengan aksi teror di dua tempat strategis di kota Brussel, bandara udara Zaventem dan dan sebuah stasiun kereta metro bawah tanah, Selasa (22/3). Sedikitnya 34 orang tewas dan ratusan orang luka-luka, termasuk kabarnyan 3 warga negara Indonesia.

Sejak diketahui bahwa Belgia menjadi basis para penyerang di Paris pada November 2015 lalu, pemerintah Belgia telah menamnah anggaran sekitar 400 juta Euro, untuk memperbarui kemampuan keamanan negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu.

Namun serangan bom terakhir membawa pesan, upaya pembaruan harus segera dilakukan dan harus lebih dari itu.

Sejumlah pakar keamanan mengatakan, soal seperti aparat keamanan pemerintahan yang tak kompak, agen rahasia bergaji rendah, adanya ruang terbuka bagi para fundamentalis, serta menjamurnya pasar gelap senjata, telah membuat negara itu jadi salah satu negara di Eropa paling rentan terhadap serangan militan.

Seorang pejabat AS kepada Reuters bahkan mengatakan, aksi teror terakhir menunjukkan “kurangnya tingkat kewaspadaan” pihak keamanan Belgia.

Menangkap Salah Abdeslam mungkin prestasi besar bagi aparat keamanan Belgia. Namun, empat bulan Abdeslam bersembunyi dan berkeliaran di Brussel, jelas menunjukkan betapa longgarnya sistem keamananan negara itu.

Meski masih terlalu dini untuk mengatakan serangan Selasa itu terkait dengan penangkapan Abdeslam, banyak pihak meyakini bahwa teror itu sudah direncanakan lama sebelum Abdeslam ditangkap.

Perdana Menteri Belgia Charles Michel, yang menutup Brussel selama beberapa hari paska teror di Paris, sudah memperingatkan dua hari sebelum serangan terjadi mengenai adanya sebuah “ancaman nyata.”

Beberapa sumber di pemerintah AS mengatakan, AS dan Belgia memang sudah meyakini bakal ada serangan teror. Tapi, kedua negara itu dak memiliki data intelijen yang cukup mengenai di mana dan kapan serangan itu akan terjadi.

Di Bawah Radar

Bertahun-tahun diabaikan adalah masalah utama badan intelijen Belgia. Badan ini bahkan hanya memiliki 600 staf atau sepertiga dari jumlah agen intelijen yang dimiliki Belanda.

Sebagai gambaran, untuk mengikuti seorang tersangka tunggal selama 24 jam sehari tanpa terdeteksi, dinas keamanan membutuhkan 36 agen. Artinya, dinas rahasia ber-SDM banyak pun seperti MI5 Inggris, hanya mampu mengamati beberapa tersangka pada waktu-waktu tertentu saja.

Sementara, secara per kapita, Belgia merupakan negara penyumbang terbesar petempur ke Suriah dibandingkan dengan negara Eropa mana pun. Molenbeek, sebuah sudut di kota Brussels, sudah sejak lama ditengarai jadi “pangkalan Jihadis” karena sebagian besar tersangka militan diketahui tinggal di wilayah itu.

Menurut Alain Winants, kepala dinas intelijen Belgia dari 2006 sampai 2014, Belgia adalah salah satu dari negara terakhir di Eropa yang menerapkan teknik modern dalam mengumpulkan informasi, seperti penyadapan telepon.

Beberapa aturan bahkan dapat membatasi gerak aparat keamanan setempat. Pernah, polisi Belgia terpaksa membiarkan Abdeslam melarikan diri, karena dihambat aturan yang melarang penggerebekan kriminal dilakukan malam hari.

PM Michel sendiri sudah mengatakan bahwa dia membutuhkan lebih banyak keleluasaan. Tidak mungkin bagi negara manapun untuk menjaga sepenuhnya “target-target” lembut seperti bandar udara dan stasiun kereta yang sibuk. Belgia memang menghadapi tantangan yang unik.

Negara campuran yang dipisakan oleh warga berbahasa Prancis dan warga berbahasa Belanda itu memiliki birokrasi yang menghambat lalu lintas informasi.

Negeri ini memiliki enam parlemen di wilayah dan komunitas bahasa, 193 pasukan polisi lokal, dan walikota di 19 kota otonom di Brussel

Fakta itu membuat para militan bisa leluasa bersembunyi “di bawah radar”, dalam cara yang tak mungkin mereka lakukan di Belanda yang lebih terpusat.

Belgia ini juga termasuk lambat mengesahkan UU baru yang mengatur khutbah yang melontarkan kebencian di tempat ibadah, juga dalam soal perdagangan gelap senjata.

Hampir 6.000 senjata disita setiap tahun di Belgia, jauh lebih banyak dibandingkan yang disita di Prancis. Senjata itu merupakan bagian dari penjualan jaringan kriminal Balkan kepada jihadis yang berbasis di Belgia.

Menghilang di Molenbeek

Pemerintah Belgia dituduh telah mengabaikan kaum muslim dan gagal membantu mereka mendapatkan pekerjaan yang bisa membentengi mereka dari orang-orang yang berusaha meradikalisasi anak-anak muda yang tengah putus asa itu Pengangguran di kalangan muda bisa mencapai 40 persen di beberapa bagian Belgia yang sebenarnya makmur.

“Karena kesulitan mencocokkan diri ke dalam masyarakat yang memusuhinya, para pemuda ini mencari jejaring alternatif di mana mereka bisa membaur,” kata Rik Coolsaet, pakar kontra-terorisme pada lembaga think-tank Egmont di Brussels.

“Aktivitas geng dan upaya-upaya pejuang asing dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan setempat di mana para pemuda itu dibesarkan,” sambung Coolsaet.

Hanya beberapa mil dari markas besar NATO dan Uni Eropa, Molenbeek nampak seperti dunia yang jauh. Sudut miskin kota itu telah menjadi tempat yang sangat sulit untuk melacak para militan.

Abdeslam bisa menghilang di jalan-jalan Molenbeek yang 80 persen penduduknya warga muslim selama empat bulan, karena dilindungi keluarga, teman dan para kriminal kecil yang tinggal tak jauh dari rumah orang tuanya.

Sebagian masalah ini bisa dilacak ke belakang ke era 1970-an. Belgia yang saat itu masih menjadi negara industri, berusaha mencari simpati demi minyak murah Arab Saudi dengan mendirikan mesjid-mesjid untuk para da’i didikan Teluk.

Para pejabat Eropa mengakui tidak ada pendanaan instan bagi dinas intelijen Belgia agar cepat mengatasi berbagai tantangan yang dihadapinya.

“Kami tahu hal itu perlu waktu lama,” kata Jenderal Gratien Maire, wakil kepala staf pertahanan Prancis dalam sebuah acara di Brussels, Minggu (20/3) waktu setempat.

“Jadi kita harus jujur dan terbuka kepada rakyat kita,” ujar Maire.

Demikian dari Reuters.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait