Selasa, 5 Juli 22

Bawaslu Nunukan Rangkul Pengurus Masjid Untuk Melawan Politisasi SARA

Tempat ibadah tak hanya sebagai simbol agama tapi juga menjadi tempat bersatunya umat yang berlatar belakang serta pandangan politik yang berbeda. Itu lah mengapa Bawaslu Nunukan rangkul pengurus masjid untuk bersama-sama jamaah menangkal upaya memecah belah dan melaksanakan Pemilu 2019 dengan cara dewasa.

Sebab untuk dapat menjaga kesucian tempat ibadah dari mereka yang menginginkan tercerai berainya silaturahim, maka kebijaksanaan serta kedewasaan para jamaah menjadi kunci utamanya. Untuk itulah Bawaslu sebagai  lembaga pengawas pesta demokrasi tersebut, mengajak Para Pengurus Masjid Al Mujahidin Nunukan, Kalimantan Utara untuk mendorong peran serta jamaah Masjid dalam Pemilu.

“Kita akan terus membaur dengan para jamaah seperti di Masjid ini untuk bersama-sama mencapai persaaan sikap sehingga Pemilu 2019 nanti benar-benar menjadi pesta demokrasi yang bebas politik uang dan dari politisasi SARA,” ujar Anggota Bawaslu Kabupaten Nunukan, Muhammad Yusran kepada pewarta, Selasa (18/12/2018).

Untuk itu menurut Yusran, pihaknya akan kontinyu melaksanakan giat seperti di Masjid Al Mujahidin tersebut termasuk Gereja dan tempat – tempat ibadah agama yang ada di Nunukan. Apalagi ungkapnya, Kabupaten Nunukan merupakan wilayah yang berbatasan dengan Malaysia, yang tentu saja masyarakatnya dituntut menjadi generasi yang unggul, dan salah satu cara adalah mewujudkan demokrasi yang sehat.

“Politisasi SARA dan Politik uang itu adalah dua diantara kanker demokrasi. Dan hanya masyarakat dalam hal ini konstituen lah yang berperan aktif dalam memeranginya,” imbuhnya.

Lebih lanjut menurut Yusran, masyarakat Nunukan adalah heterogen atau terdiri dari beberapa etnis baik etnis maupun agama. Sehingga menurut pria yang juga mantan Jurnalis tersebut, Pemilu akan menjadi celah masuknya provokasi apabila jamaah tak cerdas dalam menelan sebuah informasi terutama yang beredar di media sosial.

“Langsung percaya pada pemberitaan tanpa cross check apalagi langsung menyebarkan informasi yang didapat tanpa memilah dan memilih. Adalah salah satu hal yang dapat menciptakan konflik. Apalagi kita di perbatasan ini yang tentu banyan bermacam-macam intervensi buadaya maupun hal lain. Kalau kita tak menggunakam filter dalam menyerap informasi, tentu adalah hal yang sangat berbahaya,” tandas Yusran.

Tanggapan masyarakat sendiri dalam acara yang bertema Blusukan Bawaslu Bersama Pengurus Masjid Melawan Politik Uang, Politisasi SARA dan Ujaran Kebencian tersebut terbilang sangat antusias. Hal tersebut dapat dilihat tiap dari banyaknya jamaah yang mengajukan auidensi untuk memeperoleh informasi sekaligus diskusi di acara tersebut. Bahkan masyatrakat sepakat akan memasang Baleho penolakan pololitik uang dan politisasi SARA di Masjid itu.

“Alhamdulillah, tanggapapan masyarakat sangat antusias. Kedepan kita akan vasilitasi para jamaah memasang baleho penolakan terhadap politik uang dan politisasi SARA di semua tempat Ibadah yang ada Kabupaten Nunukan ini,” pungkas Yusran.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait